PONTIANAK POST – Di tengah tantangan pendidikan yang tak kunjung surut di wilayah pelosok, sebuah sinar harapan datang dari tempat yang tak banyak disangkadunia industri. PT Cita Mineral Investindo Tbk (CMI) Site Sandai, melalui inisiatif sosialnya yang konsisten, telah menunjukkan bahwa industri dan pendidikan tidak harus berjalan di jalur yang berbeda. Justru keduanya bisa bertemu di satu titik: menyelamatkan masa depan generasi bangsa.
Di Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, angka Anak Tidak Sekolah (ATS) sempat menjadi salah satu yang tertinggi di Kalimantan Barat. Berdasarkan data Pusdatin Kemendikbud dan berbagai studi lapangan anak-anak di wilayah seperti Sandai menghadapi berbagai hambatan: kemiskinan, keterbatasan akses transportasi, pernikahan dini, hingga minimnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan.
Sebagai perusahaan yang beroperasi di sektor pertambangan bauksit, PT CMI menyadari bahwa keberlanjutan bisnis tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia di sekitarnya. Melalui pendekatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang berorientasi pada pemberdayaan jangka panjang, CMI Site Sandai merancang dukungan konkret terhadap program GARDA ATS GERPENDIK (Gerakan Rangkul dan didik anak tidak sekolah melalui Gerakan Pendidikan Inklusif Kolaboratif) yang diinisiasi oleh PGRI Kecamatan Sandai dan PKBM Bina Muda Sentosa.
Program ini tidak hanya membuka kembali akses pendidikan formal bagi ATS melalui jalur kesetaraan (Paket A, B, dan C), tetapi juga memberi pelatihan keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan lokal. Dengan menggandeng sekolah kejuruan seperti SMKN 1 Sandai, peserta juga dibekali kemampuan seperti pertanian terapan, otomotif, dan teknologi informasi dasar.
“Bagi kami, menyelamatkan satu anak kembali ke pendidikan, berarti membuka satu peluang baru untuk masa depan daerah ini. Sandai tidak boleh kehilangan generasinya,” ungkap pimpinan CSR PT CMI Site Sandai dalam Sambutannya dalam acara louching GARDA ATS GERPENDIK yang diadakan pada 20 Agustus 2025 bertempat di SMAN 2 Sandai.
Salah satu kekuatan utama dari dukungan PT CMI adalah kolaborasi yang menyeluruh. Tidak hanya memberikan bantuan dana, perusahaan juga terlibat dalam penyediaan fasilitas belajar, pelatihan guru, hingga membuka peluang magang dan kerja bagi peserta didik yang menunjukkan potensi.
Keterlibatan 13 desamulai dari Desa Alam Pakuan hingga Desa Sandai Kiri membuat program ini tumbuh dari akar rumput. Para kepala desa turut berperan aktif dalam mendata ATS, menyediakan ruang belajar sementara, hingga mendorong partisipasi orang tua.
“Dulu anak saya tidak mau sekolah lagi karena malu dan jaraknya jauh. Sekarang, dia bisa belajar di desa, dan bilang mau lanjut sampai selesai. Saya sangat bersyukur,” ujar seorang ibu rumah tangga dari Desa Penjawaan yang anaknya kini mengikuti Paket B.
Apa yang dilakukan PT CMI di Sandai sejalan dengan hasil berbagai penelitian yang menyebut bahwa faktor penyebab anak putus sekolah tidak tunggal. Menurut Awaru et al. (2023) dan Aristin (2015), kemiskinan, rendahnya motivasi, kekerasan di sekolah, dan jauhnya jarak menjadi kombinasi penyebab utama. PT CMI, melalui pendekatan kolaboratif dengan masyarakat dan dunia pendidikan, menjawab semua aspek tersebut: membangun kedekatan layanan, mendukung emosional, dan membuka akses ekonomi berbasis keterampilan.
Langkah PT CMI bukan sekadar program bantuan tahunan, tapi bagian dari transformasi sosial jangka panjang. Di tengah gempuran industri dan modernisasi, perusahaan ini memilih untuk kembali ke akar: pendidikan.
Sebuah papan tulis sederhana di sudut desa, dengan guru sukarelawan dan sekelompok anak muda yang kembali percaya diri untuk bermimpiitulah simbol dari perubahan yang sedang ditanam.
Seperti dikatakan oleh seorang warga di Desa sandai kiri, “Dulu tambang hanya kami lihat sebagai jalan untuk bekerja. Sekarang, kami lihat sebagai jalan anak-anak kami bisa sekolah.”
Dan dalam senyap yang penuh makna itu, PT CMI telah menunjukkan bahwa membangun Negeri bisa dimulai dari membuka satu ruang kelas.
“Pendidikan adalah tambang harapan. PT CMI tidak sekadar menggali tanah, tapi juga menggali potensi manusia.” Ujar Bapak Dedy Darmawan,SH Manajer CSR PT CMI Tbk
Editor : Hanif