PONTIANAK POST – Kepala wilayah Dusun Sungai Empelas, Desa Sungai Tekam, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Filius Lemio, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi Jembatan Sungai Bayan yang sudah sangat memprihatinkan.
Ia menegaskan bahwa jembatan yang telah berdiri sejak 1978 tersebut tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah.
"Sampai saat ini, sejak 1978, tidak ada tindakan nyata dari pemerintah," ujar Filius Lemio kepada wartawan pada Senin (3/11).
Jembatan yang menghubungkan empat dusun yakni Dusun Perimpah, Sungai Empelas, Sungai Beruang, dan Sungai Tekam ini, memiliki panjang sekitar 40 meter dan menjadi akses vital bagi masyarakat.
Setiap tahun, jembatan ini selalu diajukan dalam Musyawarah Desa (Musdes) maupun Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan, namun sampai sekarang belum ada realisasi dari usulan tersebut.
"Padahal pejabat dari berbagai tingkat, mulai dari Bupati, Wakil Bupati, anggota DPRD, hingga pejabat provinsi dan pusat sudah beberapa kali datang ke daerah kami, namun perhatian untuk jembatan ini belum juga ada," tambah Filius dengan nada kecewa.
Sebagai wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, Dusun Sungai Empelas, menurutnya, sangat tertinggal dalam hal infrastruktur, dibandingkan dengan negara tetangga.
Filius pun mengungkapkan rasa iri melihat pembangunan yang pesat di Malaysia yang jauh lebih maju dibandingkan dengan kondisi di wilayahnya.
Jembatan Sungai Bayan bukan hanya penting untuk akses mobilitas masyarakat, tetapi juga memiliki peran besar dalam perekonomian lokal. Jembatan ini menjadi sarana utama untuk mengangkut hasil pertanian, akses ke sekolah untuk anak-anak perbatasan, serta menuju fasilitas kesehatan di Puskesmas Sekayam.
Sebagai Kawil, Filius berharap agar pemerintah pusat dan daerah segera menganggarkan pembangunan jembatan ini. "Jika dibiarkan seperti ini, khawatir jembatan akan ambruk dan menimbulkan korban. Itu yang sangat kami khawatirkan," tandasnya.(agg)
Editor : Hanif