PONTIANAK POST – STKIP Melawi Kampus Perbatasan Entikong akan mewisuda 119 mahasiswa pada Kamis (27/11) di Gedung Azmi, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Para lulusan berasal dari lima program studi, yakni PGSD, Pendidikan Jasmani, PG PAUD, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Fisika. Mayoritas mahasiswa berasal dari wilayah perbatasan seperti Sekayam, Entikong, Sosok, hingga Bodok.
Ketua STKIP Melawi, Septian Peterianus, menyampaikan harapan agar para sarjana baru dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah, khususnya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sanggau. “Kami berharap para sarjana baru ini berperan dalam memajukan daerah dan mampu melaksanakan pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujarnya.
Septian juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi bagi lulusan perguruan tinggi, terlebih bagi mahasiswa yang berasal dari kawasan perbatasan. “Jangan sampai lulusan kita tidak melek ekonomi. Sekitar 90 persen mahasiswa berasal dari wilayah perbatasan, sehingga mereka harus mampu berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi di daerahnya,” katanya.
Peran Kampus dalam Menjawab Persoalan Perbatasan
Menurut Septian, kawasan perbatasan merupakan beranda depan Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari penyelundupan barang, peredaran narkoba, hingga perdagangan manusia. “Isu-isu ini harus dicari solusinya. Salah satunya melalui pendidikan. Di sinilah pentingnya keberadaan kampus di wilayah perbatasan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa perlu dibekali berbagai keterampilan kerja. STKIP Melawi pernah bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja Indonesia, namun program itu terhenti setelah balai tersebut ditutup pemerintah. “Padahal BLK sangat membantu mahasiswa memperoleh pelatihan kerja,” katanya.
Wakil Ketua STKIP Melawi di Entikong, Lilian Slow, berharap pemerintah kembali membuka balai latihan kerja di kawasan perbatasan. “Itu bisa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan, misalnya kemampuan menjadi pemandu wisata berbahasa Inggris atau keterampilan khusus lain yang relevan dengan kebutuhan daerah,” ujarnya.
Selain itu, pihak kampus juga mendorong pengembangan karya seni dan produk lokal masyarakat, seperti kerajinan tas bambu dan rotan, agar dapat ditampilkan dan dipromosikan melalui kegiatan kampus. (her)
Editor : Hanif