Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kasus Suspek Chikungunya Meningkat, Dinkes Sanggau Turunkan Tim Surveilans dan Intensifkan Fogging

Agung Rajali Saputra • Senin, 18 Mei 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi petugas melakukan pengasapan (fogging) di permukiman warga.
Ilustrasi petugas melakukan pengasapan (fogging) di permukiman warga.

PONTIANAK POST - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sanggau mengonfirmasi adanya peningkatan kasus suspek chikungunya di Kecamatan Kapuas sejak April 2026. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus itu mulai menjadi perhatian serius karena menyerang sejumlah warga dengan gejala demam tinggi disertai nyeri sendi hebat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sanggau membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, tim surveilans kesehatan telah diterjunkan ke lapangan guna melakukan verifikasi sekaligus pendataan kasus di sejumlah wilayah terdampak.

“Betul, ada peningkatan kasus suspek chikungunya di Kecamatan Kapuas sejak April 2026. Gejala utama yang ditemukan berupa demam tinggi dan nyeri sendi hebat. Tim surveilans Dinkes sudah turun melakukan verifikasi dan pendataan kasus,” ujarnya, Senin (18/5).

Baca Juga: Demam Mirip Chikungunya Diduga Mulai Merebak di Sanggau, Sejumlah Anak Terserang

Ia menjelaskan, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk chikungunya. Karena itu, penanganan pasien lebih difokuskan pada pengobatan gejala melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit.

“Pasien ditangani dengan pemberian obat penurun panas dan pereda nyeri. Yang terpenting adalah cukup istirahat dan memperbanyak konsumsi air putih agar proses pemulihan lebih cepat,” katanya.

Selain penanganan medis, Dinkes Sanggau juga mengintensifkan langkah pencegahan dengan memperkuat gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pola 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Masyarakat juga diimbau menggunakan abate, kelambu, obat antinyamuk atau repellent, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang berpotensi menjadi tempat hinggap nyamuk.

Baca Juga: Mengenal Tipe Kondisi Manusia yang Disukai dan Jadi Sasaran Utama Nyamuk

“Chikungunya ditularkan oleh nyamuk yang sama dengan demam berdarah, sehingga upaya pencegahannya juga serupa. Kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama,” tambahnya.

Untuk memutus rantai penularan, Dinkes Sanggau turut melakukan fogging fokus di wilayah dengan jumlah kasus lebih dari lima orang dalam satu RT atau RW. Langkah ini dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan tim P2P di lapangan.

Sejumlah desa di Kecamatan Kapuas yang tercatat memiliki jumlah kasus terbanyak juga telah mendapatkan intervensi berupa fogging fokus, distribusi abate, serta leaflet edukasi melalui puskesmas setempat.

Di sisi lain, koordinasi lintas sektor juga diperkuat dengan melibatkan pemerintah kecamatan, kepala desa, hingga kader kesehatan untuk melaksanakan gerakan PSN serentak minimal satu kali dalam sepekan.

Dinkes Sanggau juga melakukan pemantauan kasus harian melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) guna memastikan langkah cepat dapat dilakukan apabila terjadi lonjakan kasus.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala demam tinggi disertai nyeri sendi hebat. Warga juga diminta rutin memeriksa lingkungan rumah agar terbebas dari genangan air dan jentik nyamuk yang berpotensi menjadi sumber penularan. (agg)

Editor : Miftahul Khair
#dinas kesehatan sanggau #suspek chikungunya #fogging