PONTIANAK POST – Di tengah wilayah perbatasan Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia, hamparan jagung di Dusun Tukun, Desa Sungai Dangin, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat menghadirkan kabar menggembirakan. Dari lahan seluas satu hektare, petani berhasil menghasilkan produktivitas jagung hibrida mencapai 11,2 ton per hektare.
Hasil tersebut menjadi bukti bahwa kawasan perbatasan tidak hanya berperan sebagai beranda terdepan negara, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
Panen dilakukan pada Minggu (30/5) di lahan milik Riko Rikardo yang selama hampir lima bulan ditanami jagung hibrida varietas Sumo Sakti.
Tanaman yang telah berumur 145 hari itu dipanen menggunakan metode ubinan untuk mengukur produktivitas secara akurat. Hasilnya menunjukkan rata-rata 7 kilogram per sampel yang setelah dikonversi menghasilkan angka produktivitas mencapai 11,2 ton per hektare.
Angka tersebut tergolong tinggi dan menjadi pencapaian yang membanggakan bagi petani setempat yang selama ini terus berupaya mengoptimalkan lahan produktif mereka.
Panen jagung tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, sukarelawan tani, penyuluh pertanian hingga jajaran Polsek Noyan.
Kapolsek Noyan IPTU Suharyanto mengatakan keberhasilan panen menjadi contoh bahwa kolaborasi yang baik mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
"Panen jagung hibrida ini menjadi bukti bahwa pemanfaatan lahan produktif dapat memberikan hasil yang optimal sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Menurutnya, dukungan terhadap sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat di wilayah perbatasan.
Selama ini wilayah perbatasan kerap dipandang sebagai daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi. Namun keberhasilan panen di Dusun Tukun menunjukkan cerita yang berbeda.
Dari lahan yang dikelola dengan tekun, tumbuh hasil panen yang tidak hanya menghidupi keluarga petani, tetapi juga berkontribusi pada upaya menjaga ketersediaan pangan nasional.
Keberhasilan panen 11,2 ton per hektare menjadi motivasi bagi petani lain untuk terus memanfaatkan lahan produktif secara optimal.
Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, capaian tersebut menunjukkan bahwa kerja keras, pendampingan, dan kolaborasi dapat menghasilkan perubahan nyata.
Dari sebuah lahan di perbatasan Noyan, lahir pesan sederhana bahwa ketahanan pangan nasional tidak selalu dimulai dari kawasan yang besar. Kadang, harapan itu tumbuh dari satu hektare lahan yang digarap dengan kesungguhan dan keyakinan bahwa hasil terbaik akan datang pada waktunya. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro