Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Gawai Umpan Parakng Beliung Perkuat Identitas Dayak Toba di Kabupaten Sanggau

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 9 Juni 2026 | 09:28 WIB
GAWAI DAYAK – Ribuan warga menghadiri penutupan Gawai Umpan Parakng Beliung I Tahun 2026 di Rumah Betang Panjang Pang Raem, Dusun Mangkup, Desa Teraju, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Senin (8/6) malam. Perayaan budaya perdana tingkat kecamatan tersebut menjadi momentum memperkuat persatuan, melestarikan budaya Dayak, dan meneguhkan identitas masyarakat di tengah arus modernisasi. (Humas Polres Sanggau)
GAWAI DAYAK – Ribuan warga menghadiri penutupan Gawai Umpan Parakng Beliung I Tahun 2026 di Rumah Betang Panjang Pang Raem, Dusun Mangkup, Desa Teraju, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Senin (8/6) malam. Perayaan budaya perdana tingkat kecamatan tersebut menjadi momentum memperkuat persatuan, melestarikan budaya Dayak, dan meneguhkan identitas masyarakat di tengah arus modernisasi. (Humas Polres Sanggau)

PONTIANAK POST – Gawai Umpan Parakng Beliung I Tahun 2026 resmi ditutup di Rumah Betang Panjang Pang Raem, Dusun Mangkup, Desa Teraju, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Senin (8/6/2026) malam. Perayaan budaya yang berlangsung selama tiga hari itu menjadi momentum penting memperkuat identitas masyarakat Dayak sekaligus mempererat persatuan warga di tengah perubahan zaman.

Sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan memadati lokasi kegiatan. Mereka terdiri atas tokoh adat, pemerintah daerah, aparat keamanan, perwakilan dunia usaha, hingga masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Toba yang datang untuk merayakan sekaligus menjaga warisan leluhur.

Penutupan gawai berlangsung meriah dan penuh nuansa kebersamaan. Sejak dimulai pada 6 Juni 2026, kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpul masyarakat untuk memperkuat nilai gotong royong, solidaritas sosial, dan kecintaan terhadap budaya daerah.

Ketua Panitia Gawai Umpan Parakng Beliung, Bambang Setya, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan budaya pertama tingkat kecamatan tersebut.

Menurut Bambang, keberhasilan penyelenggaraan gawai tidak terlepas dari dukungan masyarakat, pemerintah, tokoh adat, perusahaan, serta para donatur yang ikut membantu sejak tahap persiapan hingga penutupan.

Ia mengungkapkan total kebutuhan anggaran kegiatan mencapai Rp133 juta. Dari jumlah tersebut, panitia berhasil menghimpun dana sekitar Rp94 juta dari berbagai sumber dukungan.

Meski masih terdapat kekurangan anggaran, seluruh rangkaian kegiatan tetap terlaksana dengan baik berkat semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Kecamatan Toba.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Toba, Julius, menegaskan bahwa Gawai Umpan Parakng Beliung bukan sekadar pesta budaya tahunan.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan simbol identitas dan jati diri masyarakat Dayak yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi muda.

“Budaya adalah warisan yang tidak ternilai harganya. Melalui Gawai Umpan Parakng Beliung ini, kita memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya masih sangat kuat di tengah masyarakat Kecamatan Toba,” ujarnya.

Julius juga mengingatkan bahwa berbagai kekurangan yang ditemukan selama pelaksanaan tahun pertama harus menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan berikutnya semakin baik dan semakin mampu menarik partisipasi masyarakat.

Anggota DPRD Kabupaten Sanggau, Yulius Tehau, memberikan apresiasi kepada panitia dan masyarakat yang telah menjaga semangat kebersamaan selama pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, gawai budaya memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan sekaligus menjaga eksistensi budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi.

Sementara itu, Camat Toba Ayus, S.Pd., M.M., menyampaikan permohonan maaf dari Bupati dan Wakil Bupati Sanggau yang berhalangan hadir dalam acara penutupan.

Ayus menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia mengajak generasi muda untuk terus menempuh pendidikan, menjaga nilai-nilai budaya daerah, dan menjauhi penyalahgunaan narkoba yang dapat merusak masa depan.

“Budaya harus tetap hidup, tetapi generasi muda juga harus memiliki kemampuan dan pendidikan yang baik agar mampu bersaing di masa depan,” pesannya.

Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat disuguhkan berbagai perlombaan dan hiburan budaya yang melibatkan berbagai kelompok usia.

Kegiatan tersebut meliputi pemilihan Bujang dan Ayang, lomba Pangkak Gasing, lomba lagu daerah, lomba menyumpit, lomba Bujang Dara, hingga lomba masakan tradisional.

Rangkaian perlombaan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda agar tetap dikenal dan dicintai.

Kapolsek Toba, Iptu Arnold Rocky Montolalu, S.H., M.H., mengatakan pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan budaya yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.

Untuk menjamin keamanan selama kegiatan berlangsung, Polsek Toba menempatkan personel pengamanan sesuai surat perintah yang diterbitkan.

“Gawai merupakan momentum yang sangat positif dalam memperkuat persatuan, melestarikan budaya, serta mempererat hubungan antarmasyarakat. Kami berkomitmen memberikan pengamanan maksimal agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya.

Hingga rangkaian hiburan malam berakhir, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga dengan baik.

Keberhasilan penyelenggaraan Gawai Umpan Parakng Beliung I Tahun 2026 menunjukkan bahwa budaya masih menjadi perekat kuat masyarakat Kecamatan Toba.

Kolaborasi antara masyarakat, tokoh adat, pemerintah, dunia usaha, dan aparat keamanan berhasil menghadirkan sebuah perayaan budaya yang tidak hanya meriah, tetapi juga memperkuat identitas daerah.

Di tengah perubahan sosial yang terus bergerak cepat, Gawai Umpan Parakng Beliung menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan fondasi yang menyatukan masyarakat dan memberi arah bagi generasi mendatang. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Gawai Umoan Parakng Beliung #sanggau #Toba #dayak