Remaja Tewas Tenggelam Saat Sungai Kapuas Surut dan Dangkal Akibat El Nino

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:28 WIB
Warga menggotong korban setelah ditemukan dari aliran Sungai Kapuas di kawasan Sungai Obak, Desa Belangin, Kabupaten Sanggau, Senin (24/8/2026).
Warga menggotong korban setelah ditemukan dari aliran Sungai Kapuas di kawasan Sungai Obak, Desa Belangin, Kabupaten Sanggau, Senin (24/8/2026).

 

PONTIANAK POST– Sungai Kapuas yang surut akibat El Nino membuat bebatuan di tengah aliran muncul dan terlihat seperti tempat aman untuk bermain. Namun, di balik kondisi itu tersimpan bahaya setelah MRS (13), remaja asal Dusun Sumber Baru, Desa Belangin, Kabupaten Sanggau, tenggelam saat bermain di kawasan Sungai Obak, Senin (24/8/2026).

MRS datang bersama dua temannya sekitar pukul 09.00 WIB untuk mandi dan bermain. Korban diduga terpeleset saat berada di atas bebatuan, kemudian jatuh ke bagian sungai yang lebih dalam hingga akhirnya ditemukan warga dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Bebatuan Muncul Saat Sungai Kapuas Surut

Ketiga anak tersebut berangkat dari rumah di Dusun Sumber Baru menuju kawasan Sungai Obak. Saat itu, kondisi Sungai Kapuas sedang mengalami pendangkalan akibat musim kemarau.

Bebatuan yang biasanya berada di dalam aliran sungai terlihat di permukaan. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan ketiganya sebagai tempat bermain.

Namun, permukaan sungai yang terlihat lebih dangkal tidak serta-merta membuat seluruh bagian sungai aman. Perbedaan kedalaman dan kondisi dasar sungai tetap menjadi risiko bagi siapa pun yang berada di dalam aliran.

Pantauan Pontianak Post, dalam beberapa pekan terakhir, kondisi Sungai Kapuas di wilayah Sanggau memang mengalami penyurutan seiring musim kemarau. Munculnya bebatuan dan bagian tepian sungai yang lebih luas juga menarik perhatian masyarakat untuk datang dan menjadikannya sebagai lokasi rekreasi. "Kondisi tersebut membuat sejumlah titik di Sungai Kapuas ramai dikunjungi warga," ujar Agung Rajali, salah seorang warga.

Namun, permukaan air yang surut tidak serta-merta menghilangkan risiko, karena bagian sungai tertentu masih dapat memiliki kedalaman berbeda, dasar yang licin, dan arus yang tidak mudah terlihat.

Permainan Berubah Menjadi Kepanikan

Saat berada di atas bebatuan, MRS diduga terpeleset dan jatuh ke bagian sungai yang lebih dalam. Kedua temannya kemudian menyadari korban tenggelam dan berusaha meminta pertolongan.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut langsung melakukan pencarian di sekitar lokasi. Personel Polsek Kapuas juga berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendukung proses pencarian.

Setelah sekitar 45 menit pencarian, korban ditemukan sekitar pukul 10.45 WIB.

Korban Ditemukan Tak Sadarkan Diri

Saat ditemukan, MRS berada dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tim medis Puskesmas Belangin Tiga kemudian melakukan pemeriksaan terhadap korban.

Petugas medis Dini Septianingsih, A.Md.Kep., menyampaikan bahwa korban diduga meninggal akibat gangguan pernapasan karena kekurangan oksigen setelah tenggelam. Pemeriksaan juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Sungai Surut Tidak Berarti Aman

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa sungai yang sedang surut tetap memiliki risiko, terutama bagi anak-anak yang bermain tanpa pengawasan orang dewasa.

Bagian sungai yang tampak dangkal dapat berdampingan dengan cekungan yang lebih dalam. Bebatuan juga dapat menjadi licin, sementara perubahan arus dan kondisi dasar sungai tidak selalu terlihat dari permukaan.

Karena itu, kondisi air yang lebih rendah saat musim kemarau tidak seharusnya dianggap sebagai tanda bahwa sungai aman untuk berenang atau bermain.

Polisi Minta Orang Tua Lebih Mengawasi Anak

Kapolsek Kapuas Iptu Marianus, S.H., mengatakan kepolisian telah melakukan penanganan awal serta berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sanggau dalam proses pencarian korban.

Polisi juga mengumpulkan keterangan dari saksi dan keluarga untuk memastikan rangkaian kejadian diketahui secara jelas.

“Dari keterangan yang kami peroleh, korban datang bersama dua orang temannya untuk bermain dan mandi di Sungai Kapuas. Korban kemudian diduga terpeleset ketika berada di bebatuan yang muncul akibat kondisi air sungai yang sedang surut,” ujar Marianus.

Ia meminta orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak ketika beraktivitas di sekitar sungai.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih mengawasi anak-anak ketika beraktivitas di sekitar sungai,” katanya.

Jangan Terkecoh Permukaan Sungai

Polsek Kapuas juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kawasan sungai yang memiliki bebatuan atau bagian yang mengalami pendangkalan sebagai lokasi bermain dan berenang tanpa mempertimbangkan keselamatan.

Risiko dapat muncul dari kedalaman yang berubah tiba-tiba, permukaan batu yang licin, hingga kondisi dasar sungai yang tidak terlihat.

Keluarga Terima Kejadian sebagai Musibah

Pihak keluarga menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan musibah dan tidak menyalahkan atau menuntut pihak mana pun.

Keluarga juga menyatakan menolak tindakan autopsi terhadap jenazah korban. Setelah proses penanganan dan pemeriksaan selesai, jenazah dibawa ke rumah duka untuk selanjutnya dimakamkan.

Suasana rumah duka MRS (13), remaja yang meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Kapuas, Dusun Sumber Baru, Desa Belangin, Kabupaten Sanggau, Senin (24/8/2026).
Suasana rumah duka MRS (13), remaja yang meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Kapuas, Dusun Sumber Baru, Desa Belangin, Kabupaten Sanggau, Senin (24/8/2026).

 

Pelajaran dari Sungai Kapuas

Polsek Kapuas akan mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas bersama Babinsa dan pemerintah desa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai keselamatan di sekitar sungai.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah kejadian serupa, terutama karena sungai masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di wilayah sekitar Sungai Kapuas.

Kematian MRS menjadi pengingat bahwa permukaan sungai yang surut tidak selalu menunjukkan kondisi yang aman. Bagi anak-anak, sungai tetap membutuhkan pengawasan orang dewasa dan kewaspadaan terhadap perubahan kedalaman serta kondisi aliran.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
remaja tenggelam Sungai Kapuas surut sanggau tewas el nino