PONTIANAK POST – Sekitar 300 jamaah dari berbagai unsur Indonesia dan Malaysia menggelar Sholat Istisqa di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Senin (31/8). Ibadah tersebut menjadi ikhtiar bersama memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau sekaligus ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sholat Istisqa diikuti personel TNI-Polri, instansi pemerintah, aparat keamanan Malaysia, tokoh agama dan masyarakat. Sejumlah unsur yang hadir antara lain Polsek Entikong, Satgas, Koramil, Tentara Diraja Malaysia (TDM), Police Malaysia, Customs Malaysia, Imigrasi Indonesia, Bea dan Cukai, Loka Kekarantinaan, Karantina Indonesia serta masyarakat di kawasan perbatasan.
Kegiatan tersebut berlangsung di wilayah hukum Polsek Entikong. Kehadiran berbagai unsur dari dua negara menjadi gambaran kuatnya kebersamaan masyarakat perbatasan dalam menghadapi persoalan lingkungan yang dampaknya tidak mengenal batas wilayah.
Baca Juga: Ribuan Warga Mempawah Gelar Salat Istisqa di Tengah Kekeringan dan Kepungan Kabut Asap
Sholat dipimpin Ustaz Abidinsyah sebagai imam. Sementara khotbah disampaikan Ustaz Muklasin. Dalam khotbahnya, Ustaz Muklasin mengajak jamaah melakukan introspeksi dan memperbanyak ibadah di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan. Jamaah juga diajak memperbanyak istigfar, bertobat dan bersedekah sebagai bentuk ikhtiar memohon pertolongan Allah SWT.
“Sholat Istisqa merupakan salah satu ikhtiar umat Islam untuk memohon turunnya hujan ketika terjadi kemarau panjang dan kekeringan,” disampaikan dalam khotbah tersebut.
Selain persoalan kekeringan, musim kemarau juga meningkatkan risiko terjadinya karhutla. Karena itu, doa bersama tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat agar masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Kapolsek Entikong AKP Donny Sembiring, S.H. mengatakan, pelaksanaan Sholat Istisqa merupakan ikhtiar spiritual yang dilakukan bersama di tengah kondisi kemarau dan ancaman karhutla. Menurutnya, doa harus berjalan beriringan dengan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Baca Juga: Kabut Asap Kepung Pontianak, Ribuan Umat Muslim Gelar Salat Istisqa di Masjid Mujahidin
“Kami mengapresiasi kebersamaan seluruh unsur yang hadir dalam Sholat Istisqa ini. Di tengah kondisi kemarau dan ancaman karhutla, kita tidak hanya berdoa memohon hujan, tetapi juga harus memperkuat kepedulian dan tanggung jawab bersama untuk mencegah terjadinya kebakaran,” ujar Donny.
Dia menegaskan, kawasan perbatasan membutuhkan sinergi seluruh pihak. Kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia saling berkaitan sehingga upaya pencegahan karhutla juga perlu dilakukan secara bersama-sama.
Polsek Entikong mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api. Masyarakat juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Sekecil apa pun api harus menjadi perhatian, karena dalam kondisi kering dapat dengan cepat berkembang dan menimbulkan dampak yang lebih luas,” tegasnya.
Usai Sholat Istisqa, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pesan dan imbauan dari Tim Sosialisasi Mabes TNI. Masyarakat kembali diingatkan untuk memperkuat sinergi dan menghindari pembakaran lahan yang berpotensi memicu karhutla.
Baca Juga: Minggu 30 Agustus, Salat Istisqa Digelar di Halaman Istana Alwatzikhoebillah Sambas
Sholat Istisqa di PLBN Entikong menjadi simbol kebersamaan masyarakat kawasan perbatasan dalam menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla. Di tengah ikhtiar memohon hujan, seluruh pihak juga didorong untuk mengambil langkah nyata menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran.
Polsek Entikong bersama TNI, pemerintah, instansi terkait serta masyarakat berkomitmen memperkuat pencegahan karhutla dan menjaga kawasan perbatasan tetap aman serta terbebas dari dampak bencana asap. (agg)
Editor : Miftahul Khair