Seribu Jamaah Menengadah, Memohon Hujan Turun di Sanggau

Agung Rajali Saputra • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 12:27 WIB
Wakapolres Sanggau Kompol Radian Andy Pratomo, S.I.K., M.H., bersama jajaran dan sekitar seribu jamaah mengikuti Sholat Istisqa di halaman Mapolres Sanggau, Rabu (2/9). (AGUNG RAJALI SAPUTRA/PONTIANAK POST)
Wakapolres Sanggau Kompol Radian Andy Pratomo, S.I.K., M.H., bersama jajaran dan sekitar seribu jamaah mengikuti Sholat Istisqa di halaman Mapolres Sanggau, Rabu (2/9). (AGUNG RAJALI SAPUTRA/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST – Ada harapan yang sama di wajah hampir seribu orang yang berkumpul di halaman Mapolres Sanggau, Rabu (2/9). Di tengah kemarau yang belum berakhir dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih membayangi, mereka menengadahkan tangan ke langit.

Bukan sekadar untuk membasahi tanah yang mulai mengering. Tetapi juga untuk memadamkan api, menyelamatkan hutan dan lahan, serta mengembalikan kesejukan bagi masyarakat Kabupaten Sanggau.

Sholat Istisqa digelar dengan suasana penuh kekhusyukan. Ribuan jamaah berdiri dalam saf, menyatukan hati dan doa. Ketika doa dipanjatkan, tangan-tangan mereka terangkat, berharap Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya.

Baca Juga: 350 Umat Muslim Singkawang Gelar Salat Istisqa, Berharap Hujan Turun di Tengah Kabut Asap Karhutla

Wakapolres Sanggau Kompol Radian Andy Pratomo bersama jajaran Pejabat Utama Polres Sanggau turut mengikuti pelaksanaan Sholat Istisqa tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kondisi kemarau sekaligus mencegah dampak lebih luas akibat Karhutla.

Radian mengatakan, Sholat Istisqa dan doa bersama merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Allah SWT agar Kabupaten Sanggau segera mendapatkan hujan yang membawa keberkahan dan keselamatan bagi masyarakat.

“Melalui Sholat Istisqa dan doa bersama ini, kita bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan yang membawa keberkahan, keselamatan dan manfaat bagi masyarakat Kabupaten Sanggau,” ujarnya.

Bagi sebagian masyarakat, hujan mungkin hanya berarti perubahan cuaca. Namun bagi warga Sanggau yang menghadapi kemarau panjang, hujan adalah penantian.

Baca Juga: Jamaah Indonesia-Malaysia Salat Istisqa di PLBN Entikong, Mohon Hujan dan Pencegahan Karhutla

Hujan berarti tanah kembali basah. Tanaman kembali mendapatkan air. Sumur yang mulai surut kembali terisi. Dan yang paling dinantikan, ancaman Karhutla dapat berkurang.

Karena itu, doa yang dipanjatkan pagi itu bukan hanya tentang turunnya air dari langit. Ada harapan agar kehidupan kembali normal dan masyarakat terbebas dari keresahan akibat kekeringan dan asap. Namun, Radian menegaskan bahwa doa harus berjalan bersama ikhtiar.

Masyarakat diajak untuk bersama-sama menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan serta meningkatkan kepedulian terhadap potensi Karhutla. “Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Mari kita terus memperkuat kebersamaan, menjaga situasi keamanan dan ketertiban, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan di sekitar kita,” pesannya. (agg)

Editor : Miftahul Khair
doa minta hujan polres sanggau karhutla kalbar Salat Istisqa