Beratnya Padamkan Karhutla di Bukit Semau: Harus Mendaki, Sulit Air, Tim Padamkan Api dengan Ranting

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 00:37 WIB
MINIM AIR: Tim gabungan memadamkan karhutla menggunakan alat pemadam punggung dan ranting kayu di Bukit Semau, Desa Pandan Sembuat, Kecamatan Tayan Hulu, Senin (14/9). Medan berbukit dan jauhnya sumber air menyulitkan pemadaman. FOTO: POLSEK TAYAN HULU
MINIM AIR: Tim gabungan memadamkan karhutla menggunakan alat pemadam punggung dan ranting kayu di Bukit Semau, Desa Pandan Sembuat, Kecamatan Tayan Hulu, Senin (14/9). Medan berbukit dan jauhnya sumber air menyulitkan pemadaman. FOTO: POLSEK TAYAN HULU

 

PONTIANAK POST – Medan perbukitan dan keterbatasan sumber air menyulitkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bukit Semau, Dusun Selesung, Desa Pandan Sembuat, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Senin (14/9).

Untuk menjangkau titik api yang diduga berada di kawasan hutan lindung tersebut, tim gabungan harus menembus medan berbukit yang jauh dari permukiman. Ketika air sulit diperoleh, petugas terpaksa memadamkan api menggunakan alat pemadam punggung dan ranting kayu.

Berjalan Menuju Titik Api

Informasi mengenai kebakaran diterima petugas pada pagi hari. Sekitar pukul 08.30 WIB, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Tayan Hulu bersama unsur terkait melakukan mitigasi untuk memastikan lokasi dan menentukan cara penanganan.

Setengah jam kemudian, tim yang terdiri atas TNI, Polri, Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan masyarakat bergerak menuju Bukit Semau. Kondisi geografis membuat kendaraan dan peralatan pemadam berkapasitas besar tidak dapat menjangkau titik kebakaran.

Tim harus membawa perlengkapan pemadaman menuju kawasan perbukitan. Ketiadaan sumber air di sekitar lokasi membuat petugas hanya dapat mengandalkan persediaan terbatas dalam alat pemadam punggung atau solo.

Ketika persediaan air tidak mencukupi, ranting kayu digunakan untuk memukul dan memadamkan api di permukaan. Pemadaman dilakukan secara bertahap agar kobaran tidak merambat ke bagian hutan lainnya.

Berjibaku Selama Tujuh Jam

Upaya pemadaman berlangsung sekitar tujuh setengah jam. Selain menghadapi medan sulit, petugas harus menyisir material vegetasi kering yang berpotensi menyimpan bara.

Kapolsek Tayan Hulu Iptu Trisna Mauludi mengatakan, keselamatan personel menjadi perhatian utama. Tim juga berupaya mencegah api bergerak menuju permukiman warga.

“Medan yang berbukit dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama bagi tim,” ujar Trisna.

Menurut dia, seluruh unsur memanfaatkan peralatan yang tersedia untuk mengendalikan api. Pemantauan juga dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran kembali muncul setelah pemadaman.

“Kami bersama seluruh unsur terus berupaya mengendalikan api dengan peralatan yang tersedia serta melakukan pemantauan agar kebakaran tidak meluas ke arah permukiman warga,” katanya.

Bara Masih Perlu Diawasi

Pemadaman berakhir sekitar pukul 16.30 WIB. Namun, keterbatasan air dan banyaknya material kering membuat kawasan tersebut masih perlu dipantau.

Tim mengamankan lokasi, memeriksa kawasan terdampak, dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah pihak. Hingga pemadaman selesai, sumber awal api belum diketahui.

Lokasi kebakaran yang jauh dari permukiman membuat petugas belum dapat memastikan aktivitas yang memicu api. 

Trisna meminta masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Kondisi cuaca kering dapat membuat api menjalar cepat sebelum petugas tiba di lokasi.

“Jika melihat adanya titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin,” ujarnya.

Bhabinkamtibmas akan berkoordinasi dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan instansi terkait untuk meningkatkan sosialisasi pencegahan karhutla. Edukasi difokuskan pada larangan membakar lahan serta pelaporan dini ketika warga menemukan api.

 

 
 
 
Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Karhutla Sanggau pemadaman karhutla Kalbar karhutla Bukit Semau kebakaran hutan Tayan Hulu hutan lindung Bukit Semau