PONTIANAK POST – Meski status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah beralih ke tahap pemulihan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api.
Plt Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sanggau, Sigit Purnomo, mengatakan pemantauan terhadap titik panas atau hotspot tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya Karhutla.
“Kami terus memantau perkembangan terkini terkait titik hotspot ini meskipun status tanggap darurat resmi dicabut dan dialihkan ke pemulihan,” kata Sigit saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (30/9).
Baca Juga: Polres Sanggau Gencarkan Patroli Cegah Karhutla, Petugas Pantau Titik Rawan Kecamatan Kapuas
Berdasarkan data statistik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) per 29 September 2026 yang tersedia di Sekretariat Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sanggau, masih terdeteksi tiga titik hotspot di wilayah Kabupaten Sanggau.
Meski demikian, BPBD Sanggau belum menemukan adanya kasus kebakaran hutan dan lahan berdasarkan pemantauan tersebut.
“Untuk kemarin ada tiga titik hotspot, yaitu di Kecamatan Meliau, Parindu dan Toba, dengan kondisi rendah, sedang dan tinggi,” jelasnya.
Sigit mengatakan, hotspot dengan kategori tinggi terdeteksi di Kecamatan Meliau dan Kecamatan Toba. Namun, keberadaan hotspot tersebut masih perlu diverifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan.
Baca Juga: Sedang Patroli, Polisi di Sanggau Langsung Jinakkan Karhutla Kebun Sawit Pakai Cairan X-FIRE
“Namun titik hotspot ini harus kita cek kembali di lapangan untuk memastikan apakah titik tersebut benar-benar api atau karena pengaruh sinar matahari,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi Karhutla. Terlebih, kondisi cuaca panas masih terjadi dan dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
“Kepada masyarakat kami mengimbau untuk selalu waspada mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, terlebih ketika Karhutla, mengingat cuaca panas masih terjadi dan berpotensi memicu Karhutla,” katanya.
Sementara itu, terkait kondisi kualitas udara, Sigit menyebut secara kasatmata sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan sebelumnya. Kendati demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ancaman Karhutla belum sepenuhnya berakhir.
“Untuk kualitas udara berdasarkan pantauan kasatmata sudah mulai membaik dari sebelumnya, tetapi kita tetap mewaspadai ancaman Karhutla mengingat cuaca panas masih terjadi,” pungkasnya. (agg)
Editor : Miftahul Khair