PONTIANAK POST — Pascainsiden kecelakaan udara helikopter Airbus Helicopter H-130 dengan nomor registrasi PK-CFX di wilayah Kecamatan Nanga Taman, masyarakat Dayak Taman menggelar ritual adat Mudas Buang Pamali Kampong sebagai bentuk pembersihan kampung dari pengaruh buruk serta doa bersama untuk menolak bala.
Prosesi adat tersebut berlangsung pada Jumat (24/2) di halaman Gereja RT 9 Kampung Hulu Peniti, Dusun Gandis, Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau.
Upacara ini menjadi wujud kearifan lokal masyarakat setempat dalam merespons musibah, sekaligus sebagai upaya memulihkan keseimbangan sosial dan spiritual pascakejadian.
Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kanit Turjagwali Satlantas Polres Sekadau IPDA Alexander Aldo turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur Forkopimda, Forkopimcam, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta sejumlah perwakilan instansi dan perusahaan.
Turut hadir dalam kegiatan itu Bupati Sekadau Aron, perwakilan Dandim 1204/Sanggau, pimpinan DPRD Kabupaten Sekadau, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pontianak, Koordinator Pos SAR Sintang, BPBD Kabupaten Sekadau, Dewan Adat Dayak Kabupaten Sekadau, Forkopimcam Nanga Taman, hingga manajemen PT Citra Mahkota dan pihak terkait lainnya.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Camat Nanga Taman, sambutan pimpinan PT Citra Mahkota Kabupaten Melawi, sambutan Bupati Sekadau, serta penyerahan piagam penghargaan kepada kepala desa sebelum dilanjutkan dengan prosesi utama ritual adat Mudas Buang Pamali Kampong Dayak Taman.
Baca Juga: Delapan Korban Helikopter PK-CFX Teridentifikasi, Investigasi KNKT Fokus Kumpulkan Bukti Penyebab
Kapolres Sekadau melalui Kasi Humas AKP Triyono menjelaskan, ritual adat tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai budaya lokal sekaligus simbol kebersamaan masyarakat dalam menghadapi musibah.
“Ritual adat ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak Taman untuk membersihkan kampung dari pamali atau hal-hal buruk yang diyakini muncul akibat suatu musibah, sekaligus sebagai bentuk doa bersama agar masyarakat terhindar dari marabahaya di masa mendatang,” ujar AKP Triyono.
Menurutnya, prosesi adat ini juga memiliki makna memulihkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sekitar.
Selain itu, ritual ini menjadi ruang memperkuat solidaritas sosial antarwarga sekaligus menjaga kelestarian adat istiadat Dayak Taman agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Polri menghormati nilai-nilai adat dan budaya masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat kebersamaan, serta mendukung pemulihan situasi pasca terjadinya musibah,” pungkas AKP Triyono.
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, mencerminkan kuatnya nilai adat yang masih dijaga masyarakat Dayak Taman dalam menghadapi setiap peristiwa penting di kehidupan mereka. (*)
Editor : Miftahul Khair