PONTIANAK POST – Tiga perusahaan di Kecamatan Sekadau Hulu dan Nanga Mahap memperkuat kesiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk menjaga keamanan operasional selama musim rawan kebakaran. Kesiapan tersebut meliputi posko siaga, embung, pompa, selang, hingga kendaraan pemadam.
Pengecekan dilakukan Sat Samapta Polres Sekadau, Rabu (12/8/2026), di PT MJP (Multi Jaya Perkasa), PT WSP (Wana Subur Perkasa), dan PT Arvena Sepakat. Petugas memastikan sarana penanggulangan kebakaran dapat digunakan dengan cepat jika muncul titik api di sekitar area perusahaan.
Mitigasi Karhutla Jaga Keberlangsungan Operasional
Patroli dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Petugas mengecek langsung fasilitas yang disiapkan perusahaan untuk menghadapi potensi kebakaran.
Pemeriksaan mencakup kondisi posko siaga, ketersediaan sumber air dari embung, pompa, selang, serta kendaraan yang digunakan dalam penanganan kebakaran.
Kasat Samapta Polres Sekadau IPTU Insan Malau mengatakan pengecekan dilakukan untuk memastikan kesiapan perusahaan sekaligus mendorong pencegahan karhutla sejak dini.
“Patroli ini kami lakukan untuk memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan dengan aman, sekaligus mencegah dan menanggulangi apabila terjadi kebakaran di area perusahaan,” kata Malau, Kamis (13/8).
Peralatan Saja Tidak Cukup
Menurut Malau, kesiapan sarana pemadam harus diikuti kesiapan personel di lapangan. Petugas perusahaan perlu memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran.
“Kami pastikan perlengkapan seperti posko, embung, pompa air, selang dan kendaraan pemadam dalam kondisi siap pakai. Petugas juga harus mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran,” ujarnya.
Kesiapan tersebut penting karena keterlambatan penanganan dapat membuat api semakin sulit dikendalikan dan berpotensi mengganggu aktivitas operasional perusahaan.
Perusahaan dan Masyarakat Perlu Terlibat
Malau mengingatkan pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab perusahaan. Masyarakat dan pekerja di sekitar area operasional juga perlu menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Kami berharap seluruh pihak ikut peduli dan saling mengingatkan. Karhutla lebih baik dicegah sejak awal karena ketika sudah meluas, penanganannya tentu akan lebih sulit,” katanya.
Pengecekan sarana karhutla di tiga perusahaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi risiko kebakaran sekaligus menjaga aktivitas operasional tetap berjalan aman di tengah kondisi rawan karhutla.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro