PONTIANAK POST - Pelatih Bologna, Vincenzo Italiano, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya setelah timnya ditekuk Aston Villa 1-3 pada leg pertama perempat final Europa League, Jumat (10/4/2026) dini hari WIB.
Meski tampil dominan di hadapan publik Stadio Renato Dall'Ara, Rossoblu justru sedekah gol akibat hobi lama mereka: melakukan kesalahan fatal di lini belakang.
Bologna sejatinya bisa saja unggul jika tidak sedang dinaungi nasib sial.
Dua peluang emas mereka membentur tiang gawang, ditambah gol Santiago Castro yang dianulir VAR karena ujung jempolnya terjebak offside. Sebaliknya, Aston Villa tampil sangat klinis.
Gol-gol dari Ezri Konsa dan brace Ollie Watkins lahir dari blunder pemain Bologna, mulai dari kiper Federico Ravaglia yang salah mengantisipasi sepak pojok hingga kesalahan operan saat mencoba membangun serangan dari belakang.
"Kami berada di dalam permainan dari awal sampai akhir, tapi jika Anda membuat kesalahan tertentu melawan mereka, Anda akan dihukum," ujar Vincenzo Italiano kepada Sky Sport Italia.
Italiano mengakui perbedaan kelas dalam memanfaatkan peluang.
"Saya pikir malam ini mengonfirmasi pemikiran saya sebelumnya, yaitu Aston Villa akan memenangkan Europa League," tambahnya dengan nada pasrah.
Kekalahan ini membuat langkah Bologna menuju semifinal terasa seperti mendaki gunung yang sangat terjal.
Pasalnya, mereka harus bertandang ke Villa Park pekan depan, tempat di mana mereka sudah kalah dua kali musim ini.
Italiano menyebut bahwa butuh keajaiban olahraga bagi Bologna untuk membalikkan keadaan di Birmingham.
Ia menyoroti kurangnya konsentrasi anak asuhnya di momen-momen krusial, terutama menjelang jeda babak pertama dan menit-menit akhir pertandingan.
"Sangat membuat frustrasi, karena melihat berapa banyak peluang yang kami ciptakan melawan tim level tinggi, kami sebenarnya melakukan hal-hal bagus malam ini. Tapi kami tidak pernah bisa bermain penuh 90 menit dengan konsentrasi total," pungkasnya.(*)
Editor : Budi Miank