PONTIANAK POST - Negosiasi kontrak antara Marc Marquez dan Ducati menjelang MotoGP 2027 memanas.
Juara dunia tujuh kali itu dikabarkan mengajukan skema kontrak tak biasa yang justru dinilai sebagai langkah cerdas.
Marquez, yang saat ini terikat hingga akhir musim 2026, disebut hanya ingin memperpanjang kontrak selama satu tahun untuk 2027 dengan opsi tambahan satu tahun berikutnya.
Artinya, ia tetap memiliki kebebasan menentukan masa depannya setelah 2027.
Pengamat MotoGP sekaligus mantan pembalap, Ricard Jove, menilai strategi tersebut sangat masuk akal, terutama melihat kondisi fisik Marquez yang belum sepenuhnya pulih.
“Saya pikir kontrak 1+1 yang ia minta itu karena kondisi fisiknya, dan juga untuk membuka peluang pergi jika motor Ducati tidak kompetitif di 2027,” ujar Jove kepada Mundo Deportivo.
Seperti diketahui, Marquez masih dalam proses pemulihan cedera bahu yang dialaminya pada 2025.
Kondisi tersebut ikut memengaruhi performanya sepanjang musim 2026 dan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan masa depan.
Baca Juga: Bukan Lagi All or Nothing! Pedro Acosta Kini Lebih Dewasa, Hasilnya Langsung Ngeri di MotoGP 2026
“Ia semakin dekat dengan masa pensiun, dan setiap tahun berarti peluangnya untuk menambah gelar semakin berkurang,” lanjut Jove.
Menurutnya, fleksibilitas dalam kontrak akan memberi kendali penuh kepada Marquez jika situasi tidak berjalan sesuai harapan.
“Jika tahun depan tidak berjalan baik, baik karena kondisi fisik atau motor, dia punya kendali untuk menentukan masa depannya. Itu langkah cerdas,” tegasnya.
Namun di sisi lain, Ducati justru menginginkan kontrak jangka panjang selama dua tahun, sebagaimana praktik umum di MotoGP.
Tim asal Borgo Panigale itu khawatir jika Marquez hanya bertahan singkat, mereka bisa kehilangan waktu untuk mencari pengganti yang sepadan.
Apalagi, bursa pembalap MotoGP sangat kompetitif.
Baca Juga: Luca Marini Disingkirkan Honda, Namanya Tak Masuk Daftar Prioritas Tim di MotoGP 2027
Jika Marquez memutuskan hengkang atau pensiun setelah 2027, Ducati berisiko kehilangan opsi terbaik karena pembalap lain sudah lebih dulu terikat kontrak dengan tim rival.
Situasi ini membuat negosiasi berjalan lebih alot dari perkiraan.
Meski kedua pihak sebelumnya dikabarkan sudah mencapai kesepakatan di banyak poin, keputusan akhir masih tertunda.(*)
Editor : Budi Miank