PONTIANAK POST - Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, meluapkan kemarahannya terhadap kepemimpinan wasit dan penggunaan VAR setelah timnya ditahan imbang 1-1 oleh Girona di Santiago Bernabeu, Jumat (10/4/2026) waktu setempat.
Arbeloa menegaskan bahwa insiden yang melibatkan Kylian Mbappe di kotak terlarang adalah pelanggaran nyata yang seharusnya membuahkan penalti bagi Los Blancos.
Insiden kontroversial tersebut terjadi saat lengan pemain Girona menghantam wajah Mbappe hingga sang striker mengalami pendarahan.
Namun, wasit tidak menunjuk titik putih dan VAR tidak melakukan intervensi, sebuah keputusan yang dianggap Arbeloa sebagai bentuk ketidakkonsistenan yang terus merugikan timnya musim ini.
Hasil imbang ini membuat posisi Real Madrid kian terjepit dalam perburuan gelar La Liga, terutama setelah kegagalan menang di beberapa laga terakhir termasuk saat melawan Mallorca.
Kini, beban berat berada di pundak Arbeloa untuk membangkitkan mental anak asuhnya menjelang laga krusial perempat final Liga Champions melawan Bayern Munich tengah pekan depan.
Baca Juga: Ibrahima Konate Segera Teken Kontrak Baru, Liverpool Bikin Real Madrid Mundur Pelan-pelan
VAR Intervensi Jika Mereka Mau
Dalam konferensi pers pascapertandingan, Arbeloa tidak menahan diri untuk mengkritik perangkat pertandingan.
Ia merasa ada standar ganda yang diterapkan wasit saat memimpin laga Real Madrid dibandingkan tim lain.
"Itu penalti di sini maupun di bulan. Dan itu hanya satu lagi (ketidakadilan)," ujar Arbeloa dengan nada tinggi, Sabtu (11/4/2026) dikutip dari laman resmi klub.
"Tidak saya maupun orang lain memahaminya. VAR melakukan intervensi saat dirasa nyaman, dan saat tidak, mereka diam saja."
Mantan bek Madrid tersebut juga membandingkan insiden Mbappe dengan pelanggaran ringan yang justru ditiup wasit di babak pertama.
"Kylian dipanggil melakukan pelanggaran di babak pertama yang bahkan lebih ringan dari itu. Kami punya banyak masalah dengan wasit. Di Mallorca, lalu sekarang... ini cerita lama yang terus berulang," tegasnya.
Meski menyoroti kinerja wasit, Arbeloa mengakui bahwa secara kolektif timnya belum mencapai level maksimal.
Ia mencatat bahwa timnya kesulitan membongkar pertahanan lawan yang bermain menunggu, meskipun menurunkan skuat yang diisi pemain top seperti Jude Bellingham, Vinicius Jr, dan Mbappe.
Arbeloa juga menjelaskan keputusannya memasang Eduardo Camavinga sebagai gelandang bertahan tunggal menggantikan Aurelien Tchouameni.
Menurutnya, eksperimen ini penting untuk melihat mobilitas Camavinga dalam menjaga kedalaman tim.
Namun, fokus utamanya kini adalah mengembalikan kebugaran pemain, termasuk Bellingham yang baru kembali dari cedera panjang.
"Kami tidak menang jika hanya memberi 90 persen. Untuk mengalahkan siapa pun, kami harus memberikan 200 persen," katnaya.
Ia menambahkan, "Sekarang mari fokus pada hari Rabu (lawan Bayern). Kami akan menganalisis kesalahan, melakukan koreksi, dan memberikan seluruh energi kami.
"Kami adalah Real Madrid, dan kami akan bertarung hingga hari terakhir," tutup Arbeloa.(*)
Editor : Budi Miank