PONTIANAK POST - Liverpool menghadapi musim panas penuh tekanan setelah belanja besar sekitar £446 juta atau setara Rp9,2 triliun justru berujung kegagalan.
Tim asuhan Arne Slot kini harus kembali merombak skuad usai mengakhiri musim tanpa gelar.
Investasi besar yang melibatkan nama-nama seperti Florian Wirtz, Alexander Isak, dan Hugo Ekitike tidak mampu membawa hasil maksimal.
Baca Juga: Prediksi Celta vs Freiburg: Tuan Rumah Tertekan, Tim Jerman Diambang Semifinal Perdana Liga Europa
Cedera, adaptasi lambat, serta ketidakseimbangan skuad menjadi faktor utama kegagalan tersebut.
“Seorang pemain bisa mahal atau murah, tapi kalau tidak cocok, ya tetap tidak akan berhasil. Dan kalau tidak fit, mereka bahkan tidak bisa mencoba,” tulis analis klub Ian Doyle dikutip dari Liverpool Echo.
Cedera menjadi momok besar, terutama setelah Ekitike mengalami cedera serius, menyusul masalah kebugaran yang dialami Isak dan beberapa pemain lain.
Kondisi ini memaksa Liverpool mempertimbangkan kembali kebutuhan striker baru untuk musim depan.
Selain lini depan, sektor sayap menjadi perhatian utama seiring potensi hengkangnya Mohamed Salah.
Nama seperti Anthony Gordon hingga Jarrod Bowen disebut sebagai kandidat untuk memperkuat sisi serang.
Di lini belakang, kepergian Andy Robertson membuka kebutuhan mendesak akan bek kiri baru.
Selain itu, posisi bek kanan dan bek tengah juga berpotensi diperkuat, terutama jika Ibrahima Konate tidak memperpanjang kontrak.
Lini tengah pun tak luput dari evaluasi.
Minimnya agresivitas dan kepemimpinan membuat Liverpool dinilai membutuhkan gelandang bertahan yang mampu mengontrol permainan.
Baca Juga: Hugo Ekitike Ucapkan Selamat Tinggal Piala Dunia 2026
Nama Elliot Anderson bahkan masuk radar sebagai opsi potensial.
Penulis lain, Richard Garnett, menilai masalah Liverpool bukan sekadar kualitas individu, melainkan kurangnya keseimbangan tim.
“Slot gagal menyatukan pemain baru menjadi tim yang solid. Tapi karena sudah menghabiskan banyak uang, mereka tidak punya pilihan selain belanja lagi untuk menemukan komposisi yang tepat,” tulisnya.
Dengan potensi kebutuhan hingga enam pemain baru, Liverpool diprediksi kembali aktif di bursa transfer.
Fokus utama kini bukan hanya kualitas, tetapi juga mencari sosok pemimpin di ruang ganti yang mampu menjaga stabilitas tim.
Musim panas mendatang akan menjadi penentu arah baru Liverpool, apakah mampu bangkit dari kegagalan atau kembali terjebak dalam proyek mahal yang belum tentu berhasil.(*)
Editor : Budi Miank