PONTIANAK POST - Pelatih Real Madrid, Álvaro Arbeloa, melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut lebih mudah bagi Los Blancos memenangkan Liga Champions UEFA dibanding La Liga.
Pernyataan tersebut sekaligus memicu kembali perdebatan soal kualitas kepemimpinan wasit di kompetisi domestik Spanyol.
Dengan 31 pertandingan tersisa musim ini, Real Madrid kini berada di posisi kedua klasemen La Liga, tertinggal sembilan poin dari rival abadi mereka, Barcelona.
Baca Juga: Inter Milan Sentil Barcelona: Mau Bastoni? Telepon Kami, Bukan Cuma Ramai di Media
Situasi ini membuat peluang Madrid mengangkat trofi liga semakin menipis, bahkan bergantung pada kemungkinan Barcelona terpeleset di sisa musim.
Situasi semakin rumit setelah Madrid kalah 1–2 dari RCD Mallorca dan hanya bermain imbang 1–1 melawan Girona FC.
Kekalahan tersebut terjadi di tengah tekanan besar, ditambah tersingkirnya Madrid dari perempat final Liga Champions oleh Bayern Munich, yang diyakini memperbesar peluang perubahan besar di Santiago Bernabéu pada musim panas mendatang.
Arbeloa secara terang-terangan menilai performa timnya di La Liga masih jauh dari harapan.
“Kami memang masih punya ruang untuk berkembang di La Liga dalam beberapa tahun terakhir,” kata Arbeloa jelang laga melawan Deportivo Alavés dikutip dari Sports Illustrated.
"Saya pikir kami tampil lebih baik di pertandingan besar dibanding menghadapi tim yang kurang mapan."
Ia bahkan menyebut pengalaman menghadapi Girona sebagai contoh konkret.
“Jika melihat tiga bulan terakhir, kami masih banyak kekurangan. Tapi ada situasi seperti saat melawan Girona yang membuat Real Madrid terasa lebih mudah memenangkan Liga Champions dibanding La Liga,” ujar Arbeloa.
Pernyataan tersebut merujuk pada insiden kontroversial di menit ke-88 saat Mbappé dijatuhkan bek Girona, Vitor Reis, di dalam kotak penalti.
Namun wasit Javier Alberola Rojas tetap melanjutkan pertandingan tanpa intervensi VAR, meski Mbappé harus mendapat tiga jahitan di atas mata.
Baca Juga: Crystal Palace vs West Ham Imbang, Wolves Terdegradasi
Usai pertandingan, Arbeloa kembali melontarkan kritik keras.
“Bagi saya itu penalti, di sini atau di bulan pun tetap penalti. Ini bukan pertama kali. Setiap minggu selalu sama. Kami punya banyak masalah dengan wasit,” tegas Arbeloa.
Kontroversi semakin memanas setelah anggota Komite Teknis Wasit Spanyol, Marta Frías, menyebut tindakan tersebut sebagai aksi ceroboh yang seharusnya bisa dihukum penalti.
Secara statistik, Real Madrid memang menunjukkan paradoks dalam dua dekade terakhir.
Baca Juga: Real Madrid Mau Mourinho Balik ke Bernabeu, Fans Siap Sambut The Special One Lagi
Los Blancos mengoleksi enam gelar Liga Champions dalam 20 tahun terakhir, hampir menyamai tujuh gelar La Liga mereka.
Sebaliknya, Barcelona justru mendominasi liga domestik dengan 11 gelar dalam periode yang sama.
Persaingan ketat juga datang dari tim seperti Atlético Madrid era Diego Simeone dan Barcelona era Pep Guardiola, yang membuat perebutan gelar La Liga semakin kompetitif.
Real Madrid sendiri terakhir kali mempertahankan gelar La Liga secara beruntun pada 2008.
Sejak saat itu, dominasi mereka lebih terasa di panggung Eropa, termasuk gelar Liga Champions ke-15 yang diraih pada 2024.(*)
Editor : Budi Miank