PONTIANAK POST - Claudio Ranieri resmi meninggalkan AS Roma, membuka jalan bagi Gian Piero Gasperini untuk mengambil peran sentral dalam arah baru klub.
Keputusan manajemen ini menandai perubahan besar, di mana Gasperini diproyeksikan menjadi figur utama dalam menentukan strategi tim, termasuk kebijakan transfer pemain.
Langkah ini diyakini membawa konsekuensi instan. Sejumlah figur penting di belakang layar, mulai dari staf hingga bagian medis, berpotensi mengikuti jejak Ranieri keluar dari klub.
Situasi ini mempertegas bahwa Roma tengah memasuki fase restrukturisasi besar-besaran demi menyelaraskan visi dengan sang pelatih kepala.
Menurut laporan Il Messaggero, pemilik klub dari keluarga Friedkin telah mengambil keputusan yang tidak bisa diubah.
Gasperini kini menjadi poros utama proyek Roma, dengan kewenangan besar untuk menentukan bagaimana anggaran transfer akan digunakan.
Model kepemimpinan ini disebut mendekati gaya manajer Inggris, di mana pelatih tidak sekadar melatih, tetapi juga memegang kendali penuh atas keputusan strategis klub.
Hal ini dianggap sejalan dengan rekam jejak Gasperini yang mampu bertahan lama di klub seperti Genoa dan Atalanta berkat hubungan langsung dengan pemilik klub tanpa perantara.
Namun, dinamika ini juga menyimpan risiko. Tanpa komunikasi langsung yang konsisten antara pelatih dan manajemen puncak, potensi konflik internal bisa kembali terulang, hanya dengan aktor yang berbeda.
Oleh karena itu, stabilitas hubungan antara pelatih dan pemilik menjadi kunci keberhasilan proyek baru Roma.(*)
Editor : Budi Miank