Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Hotel Piala Dunia 2026 Sepi Peminat, AS Berpotensi Gagal Panen Cuan

Uray Ronald • Rabu, 20 Mei 2026 | 23:47 WIB
Piala Dunia 2026 terancam tanpa Timnas Iran jika FIFA tolak pindah venue dari AS ke Meksiko. [Foto: x.com]
Piala Dunia 2026. [x.com]

 

PONTIANAK POST - Piala Dunia 2026 awalnya digadang-gadang bakal membawa berkah pariwisata luar biasa bagi Amerika Serikat (AS).

Namun, kini muncul kekhawatiran besar bahwa lonjakan ekonomi tersebut tidak akan pernah terwujud.

Laporan dari American Hotel & Lodging Association (AHLA) menemukan jumlah pemesanan kamar jauh di bawah perkiraan.

Kondisi sepi ini terjadi di hampir setiap kota penyelenggara turnamen.

AHLA menyatakan fakta ini sangat tidak sejalan dengan klaim resmi dari badan sepak bola dunia.

FIFA sebelumnya menyebutkan bahwa lebih dari lima juta tiket pertandingan telah terjual.

Ketidaksesuaian data ini memicu risiko baru bagi pelaku industri lokal. 

"Dampak ekonomi yang dinantikan kemungkinan besar akan meleset," ungkap pihak AHLA dikutip BBC.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor, Portugal Bawa Sang Kapten ke Piala Dunia Keenam

Tudingan Manipulasi Kamar oleh FIFA

Sebagai asosiasi hotel terbesar di AS, AHLA mewakili lebih dari 32.000 properti di seluruh negeri.

Anggota mereka mencakup lebih dari 80 persen dari total hotel waralaba.

Dalam laporannya, AHLA menuding FIFA sebagai penyebab utama lewat kebijakan pemesanan blok kamar yang berlebihan.

Kebijakan ini dianggap menciptakan permintaan palsu di pasar.

Pemesanan sepihak tersebut membuat harga kamar hotel melonjak secara artifisial.

Setelah FIFA membatalkan banyak kamar, hotel kini menghadapi kekosongan besar.

Baca Juga: Panggung Terakhir Anak Milenial di Piala Dunia 2026: Siapa Dapat Happy Ending di Antara Messi, Ronaldo, Neymar, dan Modric

Pihak FIFA sendiri langsung bereaksi keras dan menyatakan tidak mengakui tuduhan tersebut. 

Namun, para pengelola hotel tetap merasa dirugikan oleh situasi ini.

Selain masalah FIFA, tingginya harga tiket laga dan biaya transportasi lokal ikut memperburuk keadaan.

Tarif pajak dan kondisi politik juga dinilai membuat turis enggan datang.

Bagi industri penginapan, ajang sepak bola terbesar ini terancam berjalan antiklimaks.

Padahal, para pelaku hotel telah berinvestasi besar selama bertahun-tahun.*

Editor : Uray Ronald
#Hotel Piala Dunia #Piala Dunia AS #Bisnis Hotel #Pembatalan Kamar FIFA #fifa