PONTIANAK POST - Piala Dunia 2026 awalnya digadang-gadang bakal membawa berkah pariwisata luar biasa bagi Amerika Serikat (AS).
Namun, kini muncul kekhawatiran besar bahwa lonjakan ekonomi tersebut tidak akan pernah terwujud.
Laporan dari American Hotel & Lodging Association (AHLA) menemukan jumlah pemesanan kamar jauh di bawah perkiraan.
Kondisi sepi ini terjadi di hampir setiap kota penyelenggara turnamen.
AHLA menyatakan fakta ini sangat tidak sejalan dengan klaim resmi dari badan sepak bola dunia.
FIFA sebelumnya menyebutkan bahwa lebih dari lima juta tiket pertandingan telah terjual.
Ketidaksesuaian data ini memicu risiko baru bagi pelaku industri lokal.
"Dampak ekonomi yang dinantikan kemungkinan besar akan meleset," ungkap pihak AHLA dikutip BBC.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor, Portugal Bawa Sang Kapten ke Piala Dunia Keenam
Tudingan Manipulasi Kamar oleh FIFA
Sebagai asosiasi hotel terbesar di AS, AHLA mewakili lebih dari 32.000 properti di seluruh negeri.
Anggota mereka mencakup lebih dari 80 persen dari total hotel waralaba.
Dalam laporannya, AHLA menuding FIFA sebagai penyebab utama lewat kebijakan pemesanan blok kamar yang berlebihan.
Kebijakan ini dianggap menciptakan permintaan palsu di pasar.
Pemesanan sepihak tersebut membuat harga kamar hotel melonjak secara artifisial.
Setelah FIFA membatalkan banyak kamar, hotel kini menghadapi kekosongan besar.
Pihak FIFA sendiri langsung bereaksi keras dan menyatakan tidak mengakui tuduhan tersebut.
Namun, para pengelola hotel tetap merasa dirugikan oleh situasi ini.
Selain masalah FIFA, tingginya harga tiket laga dan biaya transportasi lokal ikut memperburuk keadaan.
Tarif pajak dan kondisi politik juga dinilai membuat turis enggan datang.
Bagi industri penginapan, ajang sepak bola terbesar ini terancam berjalan antiklimaks.
Padahal, para pelaku hotel telah berinvestasi besar selama bertahun-tahun.*
Editor : Uray Ronald