PONTIANAK POST - Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika (AHLA) mengkritik keras kebijakan pemesanan kamar oleh federasi sepak bola dunia, FIFA.
Mereka menyebut kebijakan berskala besar tersebut telah menciptakan permintaan palsu yang mengacaukan prediksi pendapatan bisnis perhotelan.
Dampaknya kini terlihat nyata menjelang turnamen akbar tersebut.
Banyak pengusaha mengeluhkan kondisi hotel Piala Dunia sepi karena jumlah turis asing ternyata jauh di bawah perkiraan semula.
Baca Juga: Hotel Piala Dunia 2026 Sepi Peminat, AS Berpotensi Gagal Panen Cuan
FIFA Batalkan 70 Persen Kamar
Hingga saat ini, FIFA telah membatalkan sampai 70 persen pesanan kamar di berbagai kota besar.
Pembatalan massal ini terjadi di Boston, Dallas, Los Angeles, Philadelphia, hingga Seattle.
AHLA menegaskan bahwa pembatalan sepihak ini mengancam dampak ekonomi yang lebih luas.
Padahal, waktu yang tersisa menuju laga pembuka pada 11 Juni kini kurang dari tiga minggu.
"Kebijakan pemesanan ini membentuk permintaan palsu. Hal tersebut menutupi fakta bahwa arus wisatawan akan lebih rendah dari prediksi," tulis pernyataan resmi AHLA dikutip BBC.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor, Portugal Bawa Sang Kapten ke Piala Dunia Keenam
Pembelaan Resmi dari FIFA
Di sisi lain, FIFA langsung menolak keras tuduhan yang dilayangkan oleh pihak AHLA tersebut.
Mereka mengklaim seluruh proses pelepasan kamar sudah sesuai dengan kesepakatan kontrak dengan jaringan hotel.
Pihak FIFA juga mengaku telah berkomunikasi secara konsisten dengan para pemangku kepentingan selama proses perencanaan.
Bahkan, dalam beberapa kasus, pengembalian kamar dilakukan lebih cepat dari tenggat waktu untuk membantu hotel.
"Semua pelepasan kamar dilakukan sesuai dengan lini masa kontrak bersama mitra hotel. Ini praktik standar untuk acara sebesar ini," ujar juru bicara FIFA.
Baca Juga: Pertemuan di Istanbul Bahas Piala Dunia 2026, FIFA Tegaskan Dukungan untuk Iran
Harga Hotel Terlanjur Melonjak Tinggi
Tarif hotel sempat melonjak tajam tepat setelah pengundian jadwal pertandingan resmi dilakukan.
Hal ini terjadi karena para suporter langsung memburu akomodasi di kota tempat tim mereka berlaga.
Meski ada penurunan harga sekitar 20 persen dalam beberapa pekan terakhir, momentumnya dinilai sudah terlambat.
Harga hotel di kota seperti Boston masih bertahan di atas $300 atau sekitar Rp4,7 juta per malam.
Suporter Pilih Airbnb dan Pinggiran Kota
Bagi banyak penggemar sepak bola, tarif tersebut sangat jauh di luar jangkauan anggaran mereka.
Kondisi harga yang tinggi ini justru membuat hotel Piala Dunia sepi karena suporter beralih ke alternatif lain.
Chris Hancock, seorang suporter asal Inggris, mengaku ia dan kelompoknya hanya menganggarkan dana $75 per orang.
Demi menghemat anggaran, mereka memilih menyewa mobil dan menginap di area pinggiran kota.
"Kami selalu cenderung tinggal sedikit di luar kota untuk memotong biaya perjalanan kami. Jika Anda keluar dari pusat kota, Anda bisa mendapatkan penawaran yang lebih murah," katanya kepada BBC.
Fenomena pergeseran ini langsung berdampak positif pada platform akomodasi alternatif.
Airbnb bahkan menyatakan bahwa Piala Dunia kali ini kemungkinan menjadi event pemesanan terbesar dalam sejarah mereka.*
Editor : Uray Ronald