PONTIANAK POST — Manajer asal Spanyol, Pep Guardiola, resmi mengumumkan mundur dari jabatannya sebagai manajer Manchester City.
Keputusan ini diambil setelah dirinya sukses menukangi klub tersebut selama sepuluh tahun penuh prestasi.
"Tidak ada alasan khusus, tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu ini adalah waktu saya," ujar Guardiola emosional melalui akun X resmi klub.
Alasan Kemanusiaan dan Solidaritas Pep Guardiola terhadap Gaza
Selain prestasinya yang luar biasa, Guardiola dikenal sebagai salah satu tokoh sepak bola yang paling vokal mengutuk perang mematikan Israel di Gaza.
Ia secara konsisten menyerukan kepada masyarakat dunia untuk tidak tinggal diam melihat penderitaan tersebut.
Baca Juga: Guardiola Resmi Tinggalkan Manchester City, Enzo Maresca Siap Menggantikan
Kepeduliannya yang mendalam bahkan membuat pelatih berusia 55 tahun ini melewatkan konferensi pers sebelum pertandingan pada Januari lalu.
Ia memilih menghadiri acara amal Act x Palestine di Barcelona sambil mengenakan syal keffiyeh Palestina.
"Ketika saya melihat seorang anak di media sosial berteriak mencari ibunya di reruntuhan, saya berpikir kita telah meninggalkan mereka," ucap Guardiola dilansir Anadolu.
Baca Juga: Guardiola Diprediksi Jadi Pelatih Timnas Inggris Usai Tinggalkan Manchester City
Panggilan Kemanusiaan Global Melampaui Politik
Pada konferensi pers Februari menjelang laga semifinal Carabao Cup melawan Newcastle United, Guardiola menegaskan bahwa pembunuhan orang tidak berdosa sangat memukul hatinya.
Ia menyatakan situasi ini bukan lagi sekadar masalah politik, melainkan masalah kemanusiaan global.
“Genosida di Palestina, apa yang terjadi di Ukraina, Rusia, di Sudan—di mana saja. Ini adalah masalah kita sebagai manusia,” tegasnya.
Menurutnya, perlindungan terhadap nyawa manusia harus diprioritaskan di atas segalanya tanpa memandang latar belakang.
"Ketika orang-orang sekarat, Anda harus membantu mereka," tambah mantan pelatih Barcelona tersebut.
Ketakutan Ayah Terhadap Masa Depan Anak-Anak
Saat menerima gelar doktor kehormatan dari University of Manchester pada Juni 2025, Guardiola kembali mengungkapkan kepedihan mendalamnya yang bersumber dari rasa kemanusiaan.
Setiap pagi sejak perang dimulai, ia selalu melihat bayangan anak-anaknya sendiri pada bayi-bayi yang menderita di Gaza.
"Maaf, tapi saya melihat anak-anak saya sendiri ketika bangun tidur, sejak mimpi buruk bayi di Gaza dimulai. Dan saya jadi sangat takut," ungkap Guardiola emosional.
"Mungkin gambaran perang itu terasa jauh dari tempat tinggal kita sekarang. Dan Anda mungkin bilang, apalah yang bisa kita lakukan."
Baca Juga: Guardiola Tinggalkan Manchester City Setelah Satu Dekade Penuh Gelar
Ia mengingatkan bahwa ketidakpedulian hari ini nantinya bisa menjadi ancaman bagi masa depan semua anak-anak.
Sikap aktif dalam menyuarakan isu politik dan kemanusiaan ini yang menjadikan Guardiola berbeda dari manajer papan atas lainnya.
Dampak Perang yang Menghancurkan Gaza
Sebagai informasi, tentara Israel meluncurkan perang mematikan selama dua tahun di Gaza sejak Oktober 2023.
Serangan tersebut menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritas merupakan perempuan dan anak-anak.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, pelanggaran dilaporkan masih terjadi setiap hari.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan serangan lanjutan telah menewaskan lebih dari 880 orang dan melukai ribuan lainnya.*
Editor : Uray Ronald