PONTIANAK POST - Como 1907 memastikan tiket Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub setelah menang telak 4-1 atas US Cremonese pada pekan terakhir Serie A di Stadion Giovanni Zini, Minggu malam waktu Italia.
Keberhasilan itu menjadi pencapaian terbesar Como dalam 119 tahun sejarah klub dan sekaligus melengkapi perjalanan luar biasa mereka sejak dibeli konglomerat Indonesia Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono pada 2019 saat masih bermain di Serie D.
Kepastian Como lolos ke Liga Champions datang setelah AC Milan kalah dari Cagliari Calcio di San Siro.
Baca Juga: Torino Gagalkan Juventus Rebut Tiket Liga Champions di Derby Panas Turin
Fabregas Jadi Arsitek Kebangkitan Como
Dikutip dari Gazzetta dello Sport, pelatih Cesc Fabregas menjadi sosok sentral di balik keberhasilan Como menembus papan atas Serie A.
"Meski baru memulai karier kepelatihan senior, Fabregas mampu membangun tim dengan identitas permainan menyerang dan kolektivitas kuat sepanjang musim," ulasnya.
Como bahkan tampil tanpa gelandang andalan Nico Paz dalam dua laga terakhir, tetapi tetap mampu tampil dominan.
Gelandang Prancis Lucas Da Cunha menjadi simbol permainan Como setelah mencetak dua gol, termasuk satu melalui penalti.
Baca Juga: Milan Gagal ke Liga Champions, Masa Depan Allegri dan Ibra Disorot
Fabregas mengubah Da Cunha dari pemain sayap biasa menjadi motor permainan utama tim.
Cremonese Tak Mampu Selamat dari Degradasi
Di sisi lain, Cremonese harus menerima kenyataan pahit kembali terdegradasi ke Serie B.
kiper Tim Nasional Indonesia Emil Audero turun sejak menit awal. Sayangnya, dia tidak mampu menjaga gawangnya dikoyak empat kali oleh pemain Como.
Kekalahan dari Como diperburuk kemenangan US Lecce yang membuat peluang bertahan semakin tertutup.
Baca Juga: Arsenal Juara Premier League, Declan Rice Tetap Terluka Melihat West Ham Degradasi
Penyerang veteran Jamie Vardy sempat memberi harapan setelah membantu tim mendapatkan penalti yang dieksekusi Bonazzoli.
Namun perlawanan Cremonese tidak cukup untuk membendung dominasi Como sepanjang pertandingan.
Frustrasi suporter memuncak saat penalti kedua untuk Como diberikan melalui tinjauan VAR.
Beberapa benda dilempar ke lapangan dan situasi sempat memanas di tribun Stadion Zini.
Baca Juga: Bruno Fernandes Pecahkan Rekor Assist Premier League Saat Manchester United Bungkam Brighton 3-0
Como Rayakan Mimpi Besar
Setelah pertandingan berakhir, para pemain Como tetap bertahan di lapangan sambil menunggu hasil pertandingan Milan.
Ketika kabar kekalahan Milan terdengar, suasana berubah menjadi pesta besar bagi seluruh skuad dan pendukung Como.
Lagu anthem Liga Champions diputar di stadion dan para pemain merayakannya dengan menyanyikan “The Champions” bersama suporter.
Baca Juga: Chelsea Gagal ke Eropa Setelah Tumbang 1-2 dari Sunderland
Keberhasilan itu dinilai sebagai salah satu kisah paling mengejutkan dalam sepak bola Italia musim ini. (*)
Editor : Efprizan