PONTIANAK POST - Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menghadapi tekanan besar menjelang Piala Dunia 2026 setelah menetapkan skuad final yang menuai perdebatan publik.
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sejak awal menunjuk pelatih asal Jerman itu pada Oktober 2024 dengan satu target utama, yakni membawa Inggris menjadi juara dunia di Amerika Utara pada 2026.
Target tersebut kembali menjadi sorotan setelah Tuchel mencoret sejumlah pemain bintang dan memilih skuad yang dinilai lebih mengutamakan keseimbangan tim dibanding nama besar.
Baca Juga: Luis Suarez Dicoret, Bielsa Umumkan Skuad Uruguay Piala Dunia 2026
Dengan turnamen yang semakin dekat, keberhasilan atau kegagalan Inggris kini akan menjadi ukuran langsung terhadap proyek yang dibangun sang pelatih.
FA secara terbuka menyebut penunjukan Tuchel dilakukan untuk meningkatkan peluang Inggris meraih trofi internasional pertama sejak Piala Dunia 1966.
Saat pengumuman penunjukan, Chief Executive FA, Mark Bullingham, menegaskan fokus utama organisasi tersebut.
"Kami ingin menghadirkan tim pelatih yang memberi peluang terbaik untuk memenangkan turnamen besar, dan kami yakin Thomas serta stafnya mampu melakukannya," ujar Bullingham dikutip dari laman FA.
Sejak mulai bekerja pada Maret 2025, Tuchel membawa Inggris menyapu bersih delapan kemenangan dalam fase kualifikasi Piala Dunia.
Tim berjuluk Three Lions bahkan tidak kebobolan satu gol pun selama perjalanan menuju putaran final.
Namun, catatan positif itu belum sepenuhnya menghapus keraguan.
Inggris gagal meraih kemenangan saat menghadapi lawan-lawan kuat dalam laga persahabatan, termasuk kekalahan dari Senegal national football team dan Japan national football team serta hasil imbang melawan Uruguay national football team.
Kontroversi semakin menguat setelah Tuchel mencoret sejumlah pemain ternama seperti Harry Maguire, Trent Alexander-Arnold, Cole Palmer, Phil Foden, dan Morgan Gibbs-White dari skuad utama.
Sebaliknya, ia memberi tempat kepada sejumlah pemain yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan taktis tim.
Keputusan tersebut memicu kritik dari suporter maupun pengamat sepak bola Inggris.
Menanggapi polemik itu, Tuchel menegaskan bahwa kesuksesan turnamen tidak selalu ditentukan oleh kumpulan pemain paling berbakat.
"Sejak hari pertama kami ingin membangun tim terbaik, bukan sekadar memilih 26 pemain paling bertalenta. Tim memenangkan kejuaraan, dan tujuan kami hanya bisa dicapai melalui kekompakan," kata Tuchel dalam konferensi pers pengumuman skuad.
Pelatih berusia 52 tahun itu juga menekankan pentingnya membangun solidaritas dalam tim.
"Kami ingin membangun persaudaraan dan energi yang bisa ditransmisikan kepada para pendukung. Jika itu tercipta, segalanya mungkin terjadi. Kami akan mencoba memenangkan turnamen ini," ujarnya.
Secara rekam jejak, Tuchel dikenal sebagai pelatih yang sukses dalam kompetisi sistem gugur.
Ia pernah membawa Chelsea menjuarai UEFA Champions League pada 2021 serta meraih sejumlah gelar domestik bersama Paris Saint-Germain dan Bayern Munich.(*)
Editor : Budi Miank