PONTIANAK POST - FIFA resmi melarang penonton membawa botol minum isi ulang ke seluruh 16 stadion Piala Dunia 2026 hanya beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
Keputusan mendadak ini memicu kritik dari kelompok suporter karena diambil saat Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diperkirakan menghadapi suhu tinggi yang berpotensi mengancam kesehatan penonton.
Perubahan aturan tersebut tertuang dalam pembaruan Kode Etik Stadion FIFA yang menghapus izin sebelumnya bagi penggemar untuk membawa botol plastik transparan kosong berkapasitas hingga satu liter.
FIFA Ubah Aturan yang Sebelumnya Mengizinkan Botol Isi Ulang
FIFA sebelumnya mengizinkan penonton membawa botol plastik transparan yang dapat digunakan kembali ke dalam stadion.
Dalam dokumen terbaru yang diterbitkan menjelang turnamen, ketentuan itu dicabut dan diganti dengan larangan total terhadap botol minum isi ulang.
Perubahan tersebut diberlakukan untuk seluruh stadion yang akan menggelar 104 pertandingan Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Timnas Jepang Pindah Lapangan Latihan Jelang Piala Dunia 2026, Kondisi Rumput Jadi Sorotan
Menurut laporan yang beredar kepada pemegang tiket, kebijakan baru mulai berlaku sejak awal Juni. Akibatnya, penonton tidak lagi dapat membawa wadah pribadi untuk mengisi ulang air minum dari fasilitas yang tersedia di area stadion.
Perubahan mendadak itu menimbulkan pertanyaan karena sebelumnya FIFA disebut telah memberikan jaminan kepada kelompok suporter bahwa akses terhadap air minum akan menjadi bagian penting dari strategi perlindungan kesehatan selama turnamen.
"Ini kebijakan aneh dan perubahan yang mendadak," kata seorang fans Inggris kepada ESPN.
Suporter Khawatir Keselamatan Penonton Terabaikan
Kelompok suporter Inggris Free Lions menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik kebijakan baru tersebut.
"Tentu saja, pemikiran pertama para suporter adalah bahwa ini hanyalah cara terbaru untuk meraup keuntungan," ujarnya.
Mereka menilai larangan membawa botol minum bertentangan dengan kebutuhan dasar penonton yang akan menghadapi cuaca panas selama pertandingan berlangsung.
Kritik juga muncul karena keputusan diambil menjelang turnamen, ketika banyak penggemar telah menyusun rencana perjalanan berdasarkan aturan sebelumnya.
Bagi ribuan suporter yang akan menghabiskan waktu berjam-jam di area stadion, akses mudah terhadap air minum menjadi isu kesehatan yang sangat penting.
Kekhawatiran semakin besar karena sebagian stadion memiliki area teduh yang terbatas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penonton yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
FIFA Sebut Larangan Diterapkan Demi Keamanan
FIFA menegaskan bahwa alasan utama kebijakan tersebut adalah faktor keselamatan.
Menurut badan sepak bola dunia itu, botol yang dibawa dari luar berpotensi digunakan sebagai benda lempar yang dapat membahayakan pemain maupun penonton lainnya.
Karena itu, aturan yang sebelumnya hanya berlaku di beberapa stadion kini diterapkan secara seragam di seluruh venue turnamen.
Baca Juga: Visa Timnas Iran untuk Piala Dunia 2026 Resmi Terbit, Persiapan Tim Berjalan Tanpa Hambatan
Sebagai langkah mitigasi, FIFA menyatakan akan menyediakan berbagai fasilitas pendinginan di sekitar stadion.
Fasilitas tersebut mencakup stasiun hidrasi, area pendingin, kipas angin, tenda penyejuk, serta titik penyemprotan air untuk membantu pengunjung menghadapi suhu tinggi.
FIFA juga menyebut harga air minum di dalam stadion akan mengikuti kebijakan harga yang berlaku pada acara lain yang rutin digelar di masing-masing venue.
Ancaman Panas Ekstrem Jadi Sorotan Menjelang Turnamen
Kontroversi ini muncul ketika isu cuaca panas menjadi salah satu perhatian utama menjelang Piala Dunia 2026.
Sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diperkirakan mengalami suhu mencapai atau melebihi 32 derajat Celsius selama penyelenggaraan turnamen.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas berkepanjangan.
Baca Juga: FIFA Bongkar Daftar Skuad Final Piala Dunia 2026, Ada Pemain 17 Tahun hingga Kiper 43 Tahun
Bulan lalu, para peneliti dari World Weather Attribution (WWA) memperingatkan bahwa panas ekstrem dapat memengaruhi kesejahteraan pemain maupun penonton.
WWA memperkirakan sedikitnya sembilan dari 104 pertandingan Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada tingkat Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) di atas 26 derajat Celsius.
Indeks WBGT digunakan secara internasional untuk mengukur kemampuan tubuh manusia mendinginkan diri dalam kondisi cuaca tertentu.
Sebagai respons terhadap risiko tersebut, FIFA telah menetapkan jeda minum selama tiga menit di pertengahan setiap babak pertandingan.
Langkah itu dirancang untuk membantu pemain menjaga kondisi fisik selama bermain dalam suhu tinggi.
Namun bagi sebagian suporter, perlindungan terhadap pemain dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan kemudahan akses air minum bagi penonton.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa Piala Dunia modern tidak hanya berbicara tentang sepak bola.
Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya suhu global, isu kesehatan, keselamatan, serta kenyamanan jutaan penonton kini menjadi bagian penting dari keberhasilan sebuah turnamen internasional.*
Editor : Uray Ronald