PONTIANAK POST - Kapten tim nasional Prancis, Kylian Mbappe, mengaku belum pernah menonton ulang final Piala Dunia 2022 melawan Argentina. Meski mencetak hat-trick dalam pertandingan yang dianggap banyak pihak sebagai final terbaik sepanjang sejarah, penyerang Real Madrid itu memilih menjauh dari kenangan yang masih menyisakan kekecewaan.
Dalam wawancara dengan Sorare menjelang Piala Dunia 2026, Mbappe mengatakan kekalahan melalui adu penalti di Stadion Lusail, Doha, Qatar, menjadi salah satu pengalaman paling berat dalam kariernya.
Prancis saat itu kalah 2-4 dalam adu penalti setelah bermain imbang 3-3 hingga babak perpanjangan waktu.
"Final terhebat sepanjang masa? Saya rasa tidak ada yang bisa menandinginya dalam hal hiburan, pertarungan, skenario pertandingan, dengan begitu banyak lika-liku. Pertandingan itu berakhir dengan adu penalti, cara yang paling brutal bagi siapa pun," kata Mbappe dilansir Goal.
Pertarungan Bersejarah yang Mengubah Karier
Mbappe menilai final tersebut memiliki makna besar bagi sejarah sepak bola dunia. Laga itu mempertemukan dua cerita besar sekaligus, yakni kesempatan Lionel Messi meraih gelar Piala Dunia pertamanya dan peluang Prancis mempertahankan status juara dunia.
"Itu adalah pilihan antara kemenangan Piala Dunia pertama Lionel Messi atau gelar beruntun bagi Prancis, jadi itu sudah pasti bersejarah apa pun hasilnya," ujarnya.
Ketika ditanya apakah pernah menonton ulang pertandingan tersebut, Mbappe memberikan jawaban singkat namun penuh makna.
"Tidak pernah! Saya pikir jika saya melakukannya, itu mungkin akan membangkitkan beberapa kenangan buruk."
Hat-trick Bersejarah yang Berakhir dengan Air Mata
Di tengah kekecewaan Prancis, Mbappe justru mencatatkan salah satu penampilan individu terbaik dalam sejarah final Piala Dunia. Ia menjadi pemain termuda yang tampil dalam dua final Piala Dunia berbeda.
Penyerang kelahiran Paris itu juga menjadi pemain pertama sejak 56 tahun yang mencetak hat-trick di final Piala Dunia. Sebelumnya, pencapaian serupa hanya dilakukan oleh Geoff Hurst saat membantu Inggris menjuarai Piala Dunia 1966.
Pada laga tersebut, Mbappe mencetak dua gol dalam rentang sekitar 95 detik untuk menghidupkan kembali peluang Prancis setelah tertinggal dua gol.
Gol voli yang dicetaknya pada menit ke-81 bahkan tercatat melesat dengan kecepatan 123,34 kilometer per jam, menjadikannya salah satu tendangan tercepat sepanjang turnamen.
Aksinya mengubah jalannya pertandingan dan memaksa laga berlanjut hingga babak tambahan.
Data resmi FIFA menunjukkan Kylian Mbappe tampil dalam seluruh 7 pertandingan Prancis di Piala Dunia 2022 dengan total 597 menit bermain.
Ia mengoleksi 8 gol dan 2 assist, menjadikannya pemain paling produktif sepanjang turnamen sekaligus peraih Golden Boot atau Sepatu Emas Qatar 2022. Catatan tersebut membuat Mbappe unggul satu gol atas Lionel Messi yang menutup turnamen dengan tujuh gol.
Baca Juga: Real Madrid Tumbang, Mbappe Posting Hala Madrid Saat Skor 0-2, Fans Auto Panas!
Dari Kekecewaan Menuju Ambisi Piala Dunia 2026
Meski berbagai penghargaan individu berhasil diraih, Mbappe mengakui kekalahan tersebut tetap sulit diterima. Bagi seorang pemain yang telah merasakan gelar juara dunia pada usia muda, kegagalan mempertahankan trofi menjadi beban emosional yang tidak mudah hilang.
Namun pengalaman pahit itu juga menjadi bahan bakar baru bagi Mbappe. Kini, di usia emas kariernya, ia kembali memimpin Prancis dengan target merebut kembali trofi Piala Dunia pada edisi 2026.
Luka yang Belum Sepenuhnya Sembuh
Pengakuan Mbappe menunjukkan bahwa di balik gemerlap sepak bola modern, para atlet tetap menghadapi pergulatan emosional yang mendalam. Rekor, penghargaan, dan pujian publik tidak selalu mampu menghapus rasa kehilangan ketika target terbesar gagal diraih.
Bagi Mbappe, final di Lusail bukan sekadar pertandingan. Itu adalah malam ketika ia tampil luar biasa, tetapi tetap harus menyaksikan trofi yang diimpikannya jatuh ke tangan lawan.*
Editor : Uray Ronald