PONTIANAK POST — FIFA membatalkan sebagian kebijakan larangan membawa botol minum ke stadion pada Piala Dunia 2026 setelah mendapat kritik dari kelompok suporter dan sejumlah tokoh politik yang menilai aturan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan penonton di tengah cuaca panas.
Melalui pengumuman resmi pada Jumat, FIFA menyatakan seluruh penonton kini diperbolehkan membawa satu botol air minum plastik sekali pakai berkapasitas maksimal 20 ons atau sekitar 590 mililiter ke seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat dan Kanada.
Keputusan itu menjadi respons atas kekhawatiran meningkatnya risiko dehidrasi bagi suporter yang akan menyaksikan pertandingan di sejumlah kota tuan rumah yang diperkirakan mengalami suhu di atas 32 derajat Celsius selama turnamen berlangsung.
FIFA Tetap Larang Botol Isi Ulang dan Botol Keras
Meski melonggarkan aturan, FIFA tetap mempertahankan larangan terhadap botol minum keras maupun botol isi ulang yang dapat digunakan kembali.
Sebelumnya, aturan stadion FIFA masih memperbolehkan penonton membawa botol transparan yang dapat digunakan ulang dengan kapasitas hingga satu liter. Namun, pembaruan regulasi yang diterbitkan pada awal Juni secara tegas menghapus izin tersebut.
FIFA menjelaskan kebijakan itu dibuat untuk mengurangi risiko cedera yang dapat terjadi apabila botol dilemparkan ke lapangan atau tribun penonton.
“FIFA berkomitmen melindungi kesehatan dan keselamatan pemain, wasit, suporter, relawan, serta staf,” demikian pernyataan organisasi sepak bola dunia tersebut.
"FIFA bekerja sama erat dengan setiap panitia kota tuan rumah dan otoritas setempat terkait langkah mitigasi panas bagi suporter yang menuju stadion, termasuk penyediaan stasiun hidrasi, area kabut air (misting station), kipas pendingin, tenda pendingin, dan fasilitas lainnya di sekitar kawasan stadion."
Harga air minum kemasan di dalam area stadion selama Piala Dunia 2026 juga dijamin akan disesuaikan dengan harga yang berlaku pada acara lain yang diselenggarakan di stadion tersebut
Suporter Khawatir Aturan Memberatkan Penonton
Sebelumnya, kebijakan awal FIFA sempat memicu reaksi keras dari berbagai kelompok pendukung sepak bola.
Kelompok suporter Inggris Free Lions menilai larangan membawa botol isi ulang akan menambah beban finansial penonton.
Mereka berpendapat banyak suporter melihat aturan tersebut sebagai langkah yang berpotensi mendorong pembelian minuman di dalam stadion.
Kekhawatiran itu muncul karena selama Piala Dunia 2026 berlangsung, penjualan air minum, minuman ringan, dan jus di stadion akan disediakan secara eksklusif oleh sponsor resmi FIFA, yaitu The Coca-Cola Company.
Ronan Evain, Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, misalnya. Ia menilai kebijakan awal FIFA berisiko terhadap kesehatan penonton yang harus menyaksikan pertandingan dalam suhu tinggi.
"Keputusan itu berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi dan heatstroke bagi suporter," katanya kepada Guardian.
Kritik Datang dari Tokoh Politik
Penolakan terhadap kebijakan FIFA tidak hanya datang dari kalangan suporter.
Wali Kota Zohran Mamdani menyebut aturan tersebut mengkhawatirkan karena penonton berpotensi berada di bawah paparan panas lebih lama dibanding para pemain yang memiliki akses langsung terhadap fasilitas hidrasi.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menilai kebijakan awal FIFA sebagai keputusan yang kurang tepat dan dinilai terlalu berorientasi pada kepentingan ekonomi dibanding kenyamanan suporter.
Pernyataan para pemimpin politik tersebut semakin memperbesar tekanan publik terhadap FIFA hingga akhirnya organisasi tersebut merevisi sebagian kebijakan yang sebelumnya diumumkan.
Keselamatan Suporter Jadi Sorotan Jelang Turnamen Terbesar
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta dan total 104 pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Besarnya skala turnamen membuat isu keselamatan penonton menjadi perhatian utama. Selain keamanan stadion, faktor kesehatan akibat cuaca panas diperkirakan menjadi tantangan besar bagi penyelenggara.
Bagi jutaan suporter yang akan hadir langsung di stadion, akses terhadap air minum yang memadai bukan hanya soal kenyamanan, melainkan juga perlindungan terhadap risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan selama pertandingan berlangsung.
Menurut analisis iklim yang dikutip Financial Times, kota-kota seperti Houston, Dallas, Miami, dan Atlanta secara rutin mengalami tingkat panas yang masuk kategori berbahaya selama Juni dan Juli.
Di Houston, misalnya, indeks panas berbasis Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT) tercatat melampaui 30°C selama periode musim panas dalam satu dekade terakhir.
Khusus Kansas City, suhu rata-rata pada Juni dan Juli berkisar antara 29–34°C dengan tingkat kelembapan sedang hingga tinggi, sementara seluruh pertandingan digelar di stadion terbuka tanpa pendingin udara.
Di kota lain seperti Atlanta, Miami, New York, dan Dallas, suhu berfluktuasi antara 30-35°C.*
Editor : Uray Ronald