PONTIANAK POST — Klub Liga Polandia, Pogon Szczecin, menolak tawaran transfer dari klub Israel, Maccabi Tel Aviv, untuk dua pemain bertahannya. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh pemilik klub, Alex Haditaghi, yang menyatakan pertimbangan etika dan kemanusiaan lebih penting dibanding keuntungan finansial.
Penolakan itu disampaikan Haditaghi melalui surat resmi kepada manajemen Maccabi Tel Aviv yang kemudian dipublikasikan melalui akun media sosialnya.
Dalam surat tersebut, ia menyebut konflik yang masih berlangsung di Gaza dan kawasan Timur Tengah menjadi alasan utama klubnya tidak melanjutkan negosiasi transfer.
Pemilik Pogon Szczecin Tolak Negosiasi Transfer
Haditaghi mengonfirmasi bahwa tawaran dari Maccabi Tel Aviv berkaitan dengan dua pemain bertahan Pogon Szczecin, yakni Dimitris Keramitsis dan Leo Borges.
Kedua pemain masih terikat kontrak jangka panjang bersama klub Polandia tersebut. Keramitsis memiliki kontrak hingga 2029, sedangkan Borges hingga 2027.
Menurut Haditaghi, sepak bola seharusnya menjadi simbol harapan, persatuan, rasa hormat, dan kemanusiaan.
Namun, kondisi kemanusiaan yang terjadi di sejumlah wilayah konflik membuat klubnya memilih tidak terlibat dalam transaksi bisnis dengan klub yang mewakili Israel saat ini.
Baca Juga: Hubungan Turki dan Israel Memanas: Erdogan Ancam Invasi, Netanyahu Dijuluki 'Hitler' Zaman Now
Konflik Gaza Jadi Pertimbangan Utama
Dalam surat terbuka yang dipublikasikan kepada publik, Haditaghi menyatakan bahwa penderitaan warga sipil di Gaza, Lebanon, Iran, dan sejumlah wilayah lain di kawasan Timur Tengah tidak dapat diabaikan.
Ia menilai tanggung jawab seorang pemilik klub tidak hanya terbatas pada keuntungan ekonomi, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
“Dalam situasi saat ini, saya tidak percaya bahwa secara moral adalah keputusan yang tepat bagi klub kami untuk melanjutkan transaksi bisnis dengan klub yang mewakili Israel,” tulis Haditaghi.
Sebagai catatan, sekitar 73.000 warga Palestina telah tewas sejak konflik Gaza pecah pada Oktober 2023, menurut data otoritas kesehatan Gaza yang secara rutin menjadi rujukan badan PBB.
Selain korban jiwa, jutaan warga sipil juga mengalami pengungsian berulang, sementara akses terhadap layanan kesehatan, air bersih, pangan, dan tempat tinggal terus memburuk akibat kerusakan infrastruktur yang meluas.
Baca Juga: Rubio Tegaskan AS Tak Dukung Rencana Israel Kuasai 70 Persen Gaza
Bandingkan dengan Masa Nazi Jerman
Pernyataan yang paling menyita perhatian datang ketika Haditaghi membandingkan sikapnya saat ini dengan posisi moral yang menurutnya akan diambil jika hidup pada era Nazi Jerman.
Ia mengatakan tidak akan melakukan hubungan bisnis dengan klub olahraga yang mewakili rezim Nazi karena bertanggung jawab atas pembunuhan massal dan kejahatan terhadap jutaan warga sipil.
Haditaghi menyatakan prinsip moral yang sama diterapkan dalam keputusan yang diambil terhadap tawaran transfer dari Maccabi Tel Aviv.
Pernyataan tersebut segera memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola internasional dan komunitas olahraga global.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Maccabi Tel Aviv maupun Federasi Sepak Bola Israel terkait penolakan transfer yang disampaikan pemilik Pogon Szczecin, Alex Haditaghi.
Baca Juga: 33 Warga Palestina Tewas Ditembak Israel Saat Iduladha, Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk
Ketika Sepak Bola Berhadapan dengan Isu Kemanusiaan
Kasus ini kembali menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat memengaruhi dunia olahraga modern.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kompetisi internasional menghadapi tekanan untuk mengambil posisi terhadap isu perang, hak asasi manusia, dan krisis kemanusiaan.
Klub, federasi, hingga atlet semakin sering berada dalam situasi yang memaksa mereka menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan pertimbangan etika.
Bagi sebagian pihak, keputusan Pogon Szczecin dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap korban konflik. Namun bagi pihak lain, olahraga seharusnya tetap menjadi ruang netral yang terpisah dari dinamika politik internasional.
Dampak bagi Pemain dan Suporter
Di tengah kontroversi tersebut, perhatian juga tertuju pada para pemain yang menjadi objek negosiasi transfer. Keputusan klub menghentikan pembicaraan berpotensi memengaruhi rencana karier mereka di masa depan.
Sementara bagi suporter, peristiwa ini memperlihatkan bahwa sepak bola tidak hanya berbicara soal hasil pertandingan atau nilai transfer, tetapi juga tentang bagaimana sebuah institusi olahraga memaknai tanggung jawab sosial dan kemanusiaan di tengah konflik global.*
Editor : Uray Ronald