Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Robin van Persie Dipecat Feyenoord Meski Antar Klub ke Liga Champions, Kontroversi Muncul di Kalangan Suporter

Uray Ronald • Senin, 8 Juni 2026 | 06:12 WIB
Robin van Persie. (IG)
Robin van Persie. (IG)

 

PONTIANAK POST - Feyenoord resmi memecat Robin van Persie dari jabatan pelatih kepala pada Minggu, 8 Juni 2026. Keputusan itu diambil meski legenda sepak bola Belanda tersebut masih memiliki sisa kontrak satu tahun dan berhasil membawa Feyenoord finis di posisi kedua Eredivisie sekaligus mengamankan tiket Liga Champions musim depan.

Keputusan manajemen mengejutkan banyak pihak. Sebab, secara hasil akhir, Feyenoord masih mampu mempertahankan status sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Belanda.

Namun evaluasi internal klub menunjukkan adanya penurunan performa yang dianggap mengkhawatirkan sepanjang musim 2025-2026.

Pengumuman pemecatan disampaikan Feyenoord setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap performa tim di kompetisi domestik maupun Eropa.

Van Persie yang kini berusia 42 tahun ditunjuk sebagai pengganti Brian Priske pada Februari 2025. Dalam 50 pertandingan di semua kompetisi, ia mencatatkan 30 kemenangan, sembilan hasil imbang, dan 11 kekalahan.

Data resmi Eredivisie musim 2025–2026 menunjukkan Feyenoord menutup kompetisi di posisi kedua dengan koleksi 65 poin dari 34 pertandingan. 

Tim asuhan Robin van Persie membukukan 19 kemenangan, delapan hasil imbang, dan tujuh kekalahan. Feyenoord mencetak 70 gol serta kebobolan 44 gol dengan selisih gol +26.

Baca Juga: Resmi! Liverpool Tunjuk Andoni Iraola sebagai Pelatih Baru, Akhiri Era Arne Slot di Anfield

Namun, angka tersebut masih terpaut cukup jauh dari juara PSV Eindhoven yang mengoleksi 84 poin, atau unggul 19 poin atas Feyenoord. 

Secara rata-rata, Feyenoord hanya meraih 1,91 poin per pertandingan, sebuah penurunan dibanding standar tim penantang gelar dalam beberapa musim terakhir.

Statistik ini memperkuat alasan manajemen yang menilai performa tim belum cukup kompetitif untuk kembali merebut gelar Eredivisie.

Keberhasilan Mengamankan Tiket UCL Bukan Jaminan 

Pemecatan Van Persie terjadi tidak lama setelah Feyenoord menunjuk Robert Eenhoorn sebagai general manager dan Devy Rigaux sebagai direktur teknis.

Rigaux menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perkembangan permainan tim serta tren penurunan perolehan poin sepanjang musim.

Menurutnya, keberhasilan mengamankan tiket Liga Champions tetap menjadi pencapaian penting yang patut diapresiasi. Namun manajemen menilai klub membutuhkan arah baru untuk menghadapi musim berikutnya.

"Kami telah melakukan analisis menyeluruh. Kami melihat perkembangan permainan yang ditampilkan dan tren penurunan poin baik di kompetisi Eropa maupun Eredivisie. Kesimpulannya, akan lebih baik memulai musim depan dengan pelatih kepala yang baru," ujar Rigaux dalam pernyataan resmi klub.

Baca Juga: Messi Pensiun Usai Piala Dunia 2026? Jawaban Pelatih Timnas Argentina Scaloni Bikin Fans Lega

Di atas kertas, Feyenoord tetap berhasil memenuhi target utama dengan lolos ke Liga Champions. Namun perjalanan menuju pencapaian tersebut tidak berjalan mulus.

Sejumlah laporan media Belanda menyebutkan Van Persie sempat mengalami ketegangan dengan beberapa pemain senior. Nama gelandang Quinten Timber menjadi salah satu yang paling sering dikaitkan dengan konflik internal sebelum akhirnya pindah ke Marseille.

Situasi ruang ganti yang kurang harmonis disebut turut memengaruhi stabilitas performa tim sepanjang musim.

Selain itu, keputusan Van Persie mendatangkan Raheem Sterling setelah berpisah dengan Chelsea pada Januari lalu juga tidak menghasilkan dampak signifikan. Mantan winger timnas Inggris itu hanya mencatat satu assist dalam delapan pertandingan bersama Feyenoord.

Kontroversi Pemecatan Van Persie sang Legenda Klub

Bagi sebagian suporter Feyenoord, pemecatan Van Persie menghadirkan dilema emosional.

Sebagai mantan pemain yang pernah menjadi ikon klub, Van Persie memiliki hubungan kuat dengan publik De Kuip. Ia tidak hanya datang sebagai pelatih, tetapi juga sebagai sosok yang dianggap memahami identitas dan budaya Feyenoord.

Karena itu, keputusan berpisah setelah hanya 15 bulan memunculkan berbagai reaksi di kalangan pendukung.

Sebagian memahami langkah manajemen yang menginginkan peningkatan performa, sementara lainnya menilai Van Persie belum mendapat waktu yang cukup untuk membangun proyek jangka panjang.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa status legenda klub tidak selalu menjamin ruang toleransi yang lebih besar dalam dunia sepak bola modern. Hasil dan perkembangan tim tetap menjadi ukuran utama dalam setiap evaluasi.

Feyenoord belum mengumumkan sosok pengganti Van Persie. Klub hanya menyatakan bahwa pelatih baru akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang.

Baca Juga: Kerusuhan Usai PSG Juara Liga Champions: 780 Orang Ditangkap, Ratusan Terluka di Seluruh Prancis

Tugas penerus Van Persie tidak akan ringan. Selain menjaga posisi Feyenoord sebagai pesaing utama PSV Eindhoven, pelatih baru juga harus mempersiapkan tim menghadapi kompetisi Liga Champions yang menuntut konsistensi lebih tinggi.

Sejak era Arne Slot membawa Feyenoord menjuarai Eredivisie musim 2022-2023, klub belum mampu kembali merebut gelar liga. Tantangan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi manajemen dan pelatih baru yang akan datang.*

Editor : Uray Ronald
#eredivisie #Robin van Persie #PSV Eindhoven #feyenoord #liga champions