PONTIANAK POST - Timnas DR Kongo akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 52 tahun untuk kembali tampil di Piala Dunia setelah memastikan tiket ke edisi 2026 di Amerika Utara.
Negara Afrika Tengah itu terakhir kali tampil pada Piala Dunia 1974 saat masih bernama Zaire, dan kini datang dengan tekad menulis sejarah baru di panggung sepak bola dunia.
Di bawah komando pelatih asal Prancis Sebastien Desabre, DR Kongo menjelma menjadi tim yang lebih disiplin dan kompetitif.
Keberhasilan menembus putaran final menjadi simbol kebangkitan sepak bola nasional setelah bertahun-tahun menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik internal, tata kelola olahraga yang bermasalah, hingga keterbatasan infrastruktur dan pembinaan pemain.
Di bawah kepemimpinan Desabre, tim berjuluk Leopards berhasil bangkit dengan menembus semifinal Piala Afrika 2023 dan mengamankan tiket ke Piala Dunia melalui jalur play-off.
Fondasi utama kebangkitan DR Kongo terletak pada pertahanan yang solid. Mereka mencatat delapan clean sheet dalam 13 pertandingan kualifikasi Piala Dunia.
Skema permainan 4-3-3 yang diterapkan Desabre juga memaksimalkan kecepatan serangan balik, terutama melalui striker veteran Cedric Bakambu.
Baca Juga: Prediksi EA Sports Bikin Heboh, Spanyol Juara Piala Dunia 2026?
Bakambu yang kini berusia 35 tahun masih menjadi andalan lini depan setelah mencetak empat gol pada fase kualifikasi.
Sementara kapten tim Chancel Mbemba tetap menjadi pemimpin di lini belakang meski masa depannya di level klub masih belum pasti.
Gelandang muda Noah Sadiki juga menjadi sorotan. Pemain berusia 21 tahun yang lahir di Belgia itu tampil impresif bersama Sunderland dan disebut sebagai salah satu motor baru permainan DR Kongo berkat energi, mobilitas, serta kemampuan membawa bola dari lini tengah.
Meski demikian, tantangan besar masih menanti. DR Kongo memiliki catatan kurang baik saat menghadapi negara-negara elite dunia dan beberapa pemain inti minim menit bermain bersama klub masing-masing sepanjang musim 2025-2026.
Piala Dunia 2026 sekaligus menjadi panggung pembuktian bagi DR Kongo untuk mengubah citra yang melekat sejak debut mereka pada 1974.
Saat itu Zaire kalah dalam tiga pertandingan grup tanpa mencetak gol, termasuk kekalahan telak 0-9 dari Yugoslavia yang masih menjadi salah satu skor terbesar dalam sejarah turnamen.(*)
Editor : Budi Miank