Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Alasan Miguel Almirón Diganjar Kartu Merah Saat Lawan Turki, Korban Pertama Aturan Baru FIFA Soal Tutup Mulut

Rafael B. Junior • Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi kartu merah dari wasit pertandingan sepakbola
Ilustrasi kartu merah dari wasit pertandingan sepakbola

PONTIANAK POST — Sebuah sejarah baru yang tidak diinginkan tercipta di panggung Piala Dunia 2026. Bintang sekaligus motor serangan tim nasional Paraguay, Miguel Almirón, dipaksa mandi lebih cepat setelah menerima kartu merah langsung dalam laga panas penyisihan Grup D melawan Turki di San Francisco Bay Area Stadium, California.

Bagi para pemula atau penonton awam, kartu merah langsung (straight red card) merupakan hukuman tertinggi dari wasit yang membuat pemain harus keluar lapangan seketika tanpa perlu akumulasi dua kartu kuning. Namun, alih-alih karena tekel horor atau kekerasan fisik, Almirón diusir wasit karena sebuah tindakan yang di masa lalu dianggap lumrah: menutup mulut dengan tangan saat berkonfrontasi dengan lawan.

Kronologi Insiden: Berawal dari Kericuhan Jelang Turun Minum

Paraguay sebenarnya memulai laga dengan sangat manis setelah unggul cepat lewat gol Matías Galarza pada menit kedua. Namun, tensi pertandingan terus merangkak naik seiring ambisi kedua tim untuk mengamankan poin penuh demi tiket lolos ke babak gugur.

Tepat pada masa perpanjangan waktu babak pertama (menit 45+3), sebuah pelanggaran terhadap penggawa Paraguay, Isidro Pitta, menyulut keributan massal antar-pemain dari kedua kesebelasan. Di tengah situasi yang kacau tersebut, Almirón terlibat adu mulut yang sengit dengan bek Turki, Mert Müldür.

Baca Juga: Meski Maroko Menang lawan Skotlandia 1-0 di Piala Dunia, Hakimi Dapat Cemoohan Penonton

Kamera pertandingan menangkap basah Almirón sengaja mengangkat tangannya untuk menutupi mulut sembari mengucapkan kata-kata konfrontatif ke arah Müldür. Müldür pun langsung merespons dengan keras. Wasit utama asal El Salvador, Ivan Barton, awalnya tidak menyadari gestur tersebut. Namun, asisten wasit video (Video Assistant Referee/VAR) mendeteksi adanya pelanggaran regulasi khusus dan meminta wasit meninjau ulang rekaman di pinggir lapangan. Setelah melihat bukti visual yang tidak terbantahkan, Barton kembali ke lapangan dan langsung menghadiahi Almirón kartu merah.

Aturan Baru FIFA: Belajar dari Kasus Gianluca Prestianni

Bagi orang awam, keputusan wasit ini mungkin terasa aneh dan berlebihan. Namun, tindakan tegas ini didasarkan pada regulasi terbaru yang disahkan oleh Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) tepat sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.

Aturan ini lahir akibat kontroversi besar yang melibatkan wonderkid Benfica, Gianluca Prestianni, dalam laga babak gugur Liga Champions Eropa melawan Real Madrid. Pada pertandingan tersebut, Prestianni kedapatan mengangkat jerseynya untuk menutupi mulut saat melontarkan hinaan verbal yang diduga bermuatan homofobik dan rasial kepada bintang Real Madrid, Vinícius Júnior.

Esensi Aturan Baru: Selama bertahun-tahun, pemain dan pelatih terbiasa menutup mulut agar strategi atau pembicaraan mereka tidak terbaca oleh kamera.Sisi negatifnya, gestur ini kerap disalahgunakan oleh pemain nakal untuk melontarkan makian kasar, rasisme, atau hinaan verbal tanpa bisa dideteksi oleh perangkat pertandingan.

Baca Juga: Cunha Bersinar Cetak Brace, Haiti Jadi Tim Pertama Tersingkir dari Piala Dunia

Berangkat dari kasus Prestianni yang akhirnya dijatuhi skorsing berat oleh UEFA, IFAB resmi memberi wewenang penuh kepada penyelenggara kompetisi untuk langsung mengganjar kartu merah bagi pemain mana pun yang sengaja menutup mulutnya dalam situasi konfrontatif dengan lawan. Almirón pun resmi menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang menjadi "korban" ketegasan aturan baru ini.

Editor : Rafael B. Junior
#kartu merah #paraguay #Miguel Almirón #Turki #Piala Dunia