Bermain Keras dan Bertahan, Argentina Panen Kritik

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 23:56 WIB
TEKEL MAUT: Gelandang Argentina Enzo Fernández melakukan tekel keras yang membuat wasit mengganjarnya kartu merah pada pengujung final Piala Dunia FIFA 2026 melawan Spanyol, Senin (20/7).  (Foto: FIFA)
TEKEL MAUT: Gelandang Argentina Enzo Fernández melakukan tekel keras yang membuat wasit mengganjarnya kartu merah pada pengujung final Piala Dunia FIFA 2026 melawan Spanyol, Senin (20/7).  (Foto: FIFA)

 

PONTIANAK POST - Kekalahan Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya mengubur ambisi Albiceleste mempertahankan gelar juara dunia. Laga puncak di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7) waktu setempat, juga diwarnai kritik lantaran Argentina bermain bertahan dengan nyaris tidak ada tembakan ke gawang lawan.

Juara Copa America juga dikecam karena permainan kasarnya. Bahkan hingga usai pertandingan, gelandang bertahan Argentina, Leandro Paredes masih membuat keributan. Suasana memanas ketika Paredes terlibat kontak fisik dengan bek Spanyol Eric Garcia. Dalam rekaman yang beredar, Paredes terlihat mendorong hingga mencekik Garcia di tengah kerumunan pemain. Gelandang berusia 32 tahun itu juga sempat menjatuhkan Gavi saat gelandang muda Spanyol tersebut mencoba meredakan situasi yang semakin memanas.

Keributan itu memaksa pelatih Argentina Lionel Scaloni bersama dua asistennya, Walter Samuel dan Roberto Ayala, turun langsung ke lapangan untuk melerai para pemain. Setelah meninjau insiden tersebut, wasit akhirnya mengganjar Paredes dengan kartu merah meski pertandingan telah berakhir.

Sepanjang pertandingan, tensi memang sudah tinggi. Argentina beberapa kali melakukan pelanggaran untuk menghentikan serangan Spanyol. Duel keras antarpemain membuat laga berulang kali terhenti, sementara wasit harus mengeluarkan sejumlah kartu kuning guna mengendalikan emosi kedua kubu.

Ketegangan mencapai puncaknya menjelang laga usai ketika gelandang Argentina Enzo Fernández menerima kartu merah akibat pelanggaran keras. Bermain dengan 10 orang membuat upaya Argentina mengejar ketertinggalan semakin berat hingga akhirnya harus mengakui keunggulan Spanyol.

Insiden selepas pertandingan turut menjadi perhatian media internasional. Selain aksi Paredes, sejumlah laporan juga menyebut bek Argentina Nahuel Molina sempat bersitegang dengan gelandang Spanyol Rodri di tengah kerumunan pemain.

Beberapa media asing melaporkan FIFA berpeluang menelaah insiden tersebut apabila dinilai melanggar kode disiplin pertandingan, meski hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai kemungkinan sanksi lanjutan.

Permainan keras Argentina sepanjang final juga menuai kritik dari sejumlah pengamat sepak bola. Mantan striker timnas Inggris Wayne Rooney menyayangkan tindakan Paredes yang dinilainya mencoreng momen penobatan juara dunia.

"Memalukan melihat hal semacam itu setelah pertandingan selesai. Seseorang baru saja dinobatkan sebagai juara Piala Dunia. Paredes seharusnya bisa bersikap lebih baik," ujar Rooney kepada BBC Sport.

Media Inggris talkSPORT turut menyoroti kerasnya permainan Argentina sepanjang pertandingan. Menurut media tersebut, rangkaian pelanggaran dan keributan seusai laga menjadi noda dalam partai puncak ajang sepak bola terbesar di dunia.

Meski demikian, sejumlah analis menilai tingginya tensi merupakan konsekuensi dari besarnya tekanan pada laga final. Namun, mereka menegaskan bahwa sportivitas tetap harus menjadi prioritas, terlebih ketika pertandingan telah usai. (jpc)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kartu merah leandro paredes keras keributan Argentina