PONTIANAK POST - AC Milan bermain imbang 1-1 melawan Inter Milan pada laga pramusim bertajuk Derby della Madonnina di Optus Stadium, Perth, Australia, setelah Christopher Nkunku mencetak gol penyeimbang lewat titik penalti pada babak kedua, Rabu (5/8).
Pertandingan berlangsung emosional karena diawali penghormatan untuk legenda klub Franco Baresi, dengan para pemain Milan mengenakan jersey bernomor punggung 6, dilanjutkan lagu Nessun Dorma, dan mengheningkan cipta di tengah lapangan.
Inter lebih dahulu unggul melalui Federico Dimarco yang memanfaatkan umpan Nicolo Barella pada awal babak kedua, sebelum Nkunku menyamakan kedudukan lewat penalti pada 10 menit terakhir pertandingan.
Hasil imbang itu membuat pelatih Ruben Amorim memperoleh gambaran lebih jelas mengenai perkembangan skuadnya.
Baca Juga: Manchester City Saingi AC Milan Kejar Pedro Neto, Chelsea Pasang Harga Rp1,45 Triliun
Pressing Milan Mulai Terlihat, tetapi Belum Konsisten
Menurut analisis SempreMilan, salah satu perkembangan positif Milan terlihat dari intensitas pressing tinggi yang mulai diterapkan Ruben Amorim.
Pada sekitar 30 menit pertama, Rossoneri mampu beberapa kali merebut bola di area pertahanan Inter dan memaksa rival sekotanya melakukan kesalahan saat membangun serangan.
Namun, intensitas tersebut menurun setelah para pemain mulai kehilangan energi sehingga Inter mampu menguasai permainan selama sekitar 30 hingga 40 menit.
Kondisi tersebut menunjukkan sistem pressing Amorim mulai terbentuk, tetapi masih membutuhkan peningkatan kebugaran fisik agar dapat diterapkan selama 90 menit penuh.Baca Juga: Franco Mastantuono Siap Dipinjam ke Serie A: Fiorentina Terdepan Gaet Talenta Real Madrid, AC Milan Ikut Memantau
Dengan kondisi fisik yang lebih baik dan koordinasi yang semakin matang, Milan dinilai berpotensi berkembang menjadi tim yang jauh lebih kompetitif sepanjang musim.
Loftus-Cheek, Leao, dan Jashari Curi Perhatian
Ruben Loftus-Cheek kembali menunjukkan performa menjanjikan setelah dipercaya mengisi posisi gelandang serang untuk kedua kalinya secara beruntun.
Pemain asal Inggris itu dinilai tampil efektif dalam duel fisik, menjaga penguasaan bola, serta menghubungkan lini tengah dengan lini depan.
Rafael Leao juga memberikan dampak positif setelah masuk sebagai pemain pengganti.
Baca Juga: Matias Soulé Masuk Radar AC Milan, Performa Bersama AS Roma Jadi Modal Besar
Bermain di sisi kiri, posisi yang dianggap paling ideal baginya, Leao beberapa kali membangun kombinasi menarik bersama Goncalo Ramos meski belum mampu menghasilkan gol.
Kiper muda Lorenzo Torriani turut mencuri perhatian melalui beberapa penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang Hakan Calhanoglu dengan penyelamatan gemilang.
Sementara itu, Ardon Jashari langsung menunjukkan kualitasnya lewat distribusi bola yang tenang serta umpan-umpan panjang akurat yang memperkuat penilaian bahwa dirinya layak menjadi starter.
Lini Belakang Masih Jadi Titik Lemah
Meski menunjukkan perkembangan dalam menyerang, Milan masih memiliki pekerjaan rumah besar di sektor pertahanan.
Baca Juga: Rafael Leao Sulit Dijual, AC Milan Berpotensi Turunkan Harga Transfer
Gol Inter bermula dari kurangnya koordinasi Fikayo Tomori dan Matteo Gabbia yang gagal mengantisipasi pergerakan Federico Dimarco di depan gawang.
"Eksperimen menempatkan Samuel Chukwueze sebagai wing-back kanan juga belum berjalan maksimal," ulas SempreMilan .
Setelah tampil cukup baik saat menghadapi Celtic, pemain asal Nigeria itu kesulitan menjalankan tugas bertahan sehingga memberi ruang bagi Dimarco untuk mencetak gol.
Selain itu, Yunus Musah menyia-nyiakan peluang emas setelah tembakannya hanya membentur tiang gawang, sedangkan Francesco Camarda gagal memaksimalkan peluang terbaik yang dimilikinya.
Baca Juga: AC Milan Bidik Ibrahim Maza, Bayer Leverkusen Pasang Harga 40 Juta Euro
Bek kiri anyar Pervis Estupinan juga dinilai masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sistem permainan baru yang diterapkan Amorim.
Amorim Masih Membutuhkan Tambahan Kualitas
Analisis SempreMilan menilai kualitas teknik skuad Milan saat ini masih belum sepenuhnya sesuai dengan filosofi permainan berbasis penguasaan bola yang diinginkan Ruben Amorim.
Kemampuan kontrol pertama, akurasi umpan, hingga ketenangan saat berada di bawah tekanan masih perlu ditingkatkan apabila Milan ingin bersaing di level tertinggi musim ini.
Meski demikian, hasil imbang melawan Inter tetap memberikan sinyal positif karena beberapa pemain mulai beradaptasi dengan sistem baru, sementara intensitas permainan Rossoneri menunjukkan peningkatan dibanding musim lalu.
Laga pramusim tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi Amorim sebelum AC Milan memasuki kompetisi resmi Serie A 2026-2027. (*)