PONTIANAK POST - Kekalahan 1-2 Real Madrid dari Atletico Madrid menyoroti persoalan taktik di sisi kiri karena Kylian Mbappe dan Vinicius Junior kerap berkumpul di area yang sama.
Menurut analisis Sports Mole, persoalan tersebut sudah terlihat sejak Mbappe bergabung dengan Real Madrid dan bukan sekadar masalah yang muncul dalam derbi Madrid.
Mbappe dan Vinicius Membuat Serangan Real Madrid Berat ke Kiri
Vinicius sebelumnya menjadi pusat permainan sisi kiri Real Madrid sejak era Carlo Ancelotti, sedangkan Mbappe memiliki kecenderungan bergerak dari posisi tengah menuju area kiri.
Data posisi rata-rata SofaScore dalam laga melawan Atletico Madrid dan kemenangan 3-2 atas Elche menunjukkan kecenderungan kedua pemain tersebut beroperasi di sisi kiri secara bersamaan.
Ketika Mbappe bergerak terlalu jauh ke kiri, area tengah yang seharusnya ditempati penyerang menjadi kosong sehingga pertahanan lawan lebih mudah mempersempit ruang permainan.
Baca Juga: Inggris Kehilangan Palmer, Rice, dan Rashford Jelang Lawan Spanyol di UEFA Nations League
Kondisi itu juga membuat Real Madrid menggeser struktur serangannya ke kiri dan memberikan lawan kesempatan untuk menumpuk pemain di area tersebut.
Situasi tersebut ikut berkontribusi terhadap performa Vinicius yang belum konsisten pada awal musim serta meningkatnya tuntutan defensif terhadap pemain Brasil tersebut.
Sisi Kanan Real Madrid Ikut Terdampak
Ketidakseimbangan di kiri turut memengaruhi sisi kanan Real Madrid karena Brahim Diaz dan Arda Guler lebih sering bergerak ke dalam ketika menerima bola.
Jude Bellingham juga berperan dari lini tengah sebagai pemain yang terlambat masuk ke kotak penalti sehingga Real Madrid tidak memiliki ancaman melebar yang setara dengan Vinicius di sisi berlawanan.
Pergeseran pemain ke area tengah kemudian membuat struktur serangan semakin mudah dibaca, terutama ketika menghadapi tim yang bertahan dengan blok rendah.
Baca Juga: Persib Hadapi 10 Laga dalam 32 Hari, Igor Tolic Siapkan Skuad
Carlos Espi sempat digunakan sebagai solusi dari bangku cadangan ketika Real Madrid membutuhkan pemain yang benar-benar menempati posisi sentral.
Penyerang tersebut memberikan dimensi berbeda karena mampu menempati bek lawan sekaligus menjadi target bola udara, termasuk ketika Mbappe bergerak melebar.
Memindahkan Mbappe dan Vinicius Bukan Solusi Sederhana
Menurut anasilis tersebut, memainkan Mbappe sebagai penyerang tengah dan memindahkan Vinicius ke kanan terlihat sebagai solusi paling sederhana, tetapi perubahan itu juga menimbulkan persoalan dalam fase bertahan.
Mbappe disebut mengalami peningkatan dalam pressing dan aktivitas merebut bola sejak Piala Dunia, sehingga tuntutan untuk menekan bek tengah lawan masih dapat dijalankan.
Namun, meminta Mbappe melakukan tugas bertahan seperti pemain sayap konvensional dengan mengikuti pergerakan pemain lawan hingga jauh ke belakang memiliki tuntutan fisik yang berbeda.
Baca Juga: Kurniawan dan Ponaryo Berharap Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Jika tanggung jawab tersebut dikurangi, lawan berpotensi mendapatkan ruang di sisi kiri ketika Real Madrid kehilangan bola dan memasuki fase transisi.
Tiga Solusi yang Bisa Dipilih Mourinho
Sports Mole menyebut tiga opsi yang dapat digunakan Mourinho untuk mengatasi persoalan tersebut, dengan solusi pertama adalah memberikan peran lebih besar kepada Yan Diomande.
Winger Pantai Gading itu baru beradaptasi dengan sepak bola Spanyol setelah pindah dari RB Leipzig pada musim panas dan memiliki kecepatan untuk menyerang dari sisi luar.
Diomande juga dapat bermain di kanan dengan kemampuan menggunakan kedua kakinya, sehingga berpotensi menghadirkan ancaman melebar yang selama ini lebih kuat di sisi Vinicius.
Potensinya terlihat dalam kemenangan atas Elche ketika Federico Valverde mengirim umpan kepada Diomande di belakang pertahanan sebelum bola mendatar hasil cutback diselesaikan Mbappe.
Baca Juga: Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Hadapi Singapura, Malaysia, dan Bangladesh
Opsi kedua adalah memberikan disiplin posisi yang lebih ketat kepada Mbappe tanpa sepenuhnya melarangnya bergerak ke kiri.
Dalam skema tersebut, posisi utama Mbappe tetap berada di tengah agar ia dapat lebih sering berada di area penyelesaian sekaligus membuka ruang bagi pemain sayap.
Opsi ketiga adalah mencadangkan salah satu dari Mbappe atau Vinicius, tetapi keputusan tersebut sulit diterapkan secara konsisten karena keduanya merupakan figur utama di dalam skuad.
Keduanya juga memiliki pengaruh komersial besar dan status sebagai dua pemain paling dikenal di sepak bola dunia sehingga keputusan rotasi permanen dapat memengaruhi dinamika internal tim.
Persoalan tersebut kini menjadi bagian dari pekerjaan Mourinho untuk menemukan keseimbangan antara kebebasan menyerang Mbappe dan Vinicius dengan kebutuhan Real Madrid menjaga struktur permainan di kedua sisi lapangan. (*)
Editor : Efprizan