Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Semarak Festival Cap Go Meh Singkawang 2025, Gaungkan Semangat Toleransi Dan Kebersamaan

Hari Kurniathama • Rabu, 12 Maret 2025 | 21:12 WIB
Atraksi tatung yang penuh makna menjadi daya tarik utama wisatawan yang menghadiri Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang.
Atraksi tatung yang penuh makna menjadi daya tarik utama wisatawan yang menghadiri Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang.

PONTIANAK POST – Setelah vakum beberapa tahun akibat pandemi Covid-19, Festival Cap Go Meh 2025 di Kota Singkawang kembali digelar dengan meriah pada Rabu (12/2/2025). Perayaan yang dipusatkan di Jalan Firdaus Kota Singkawang ini kembali menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara dengan berbagai atraksi budaya khas, terutama ritual Tatung yang menjadi ikon utama festival ini.

Sebagai wujud apresiasi terhadap keberagaman, festival ini menghadirkan acara resmi dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Panitia bersama masyarakat Tionghoa turut melibatkan beragam komunitas etnis seperti Melayu, Dayak, dan Jawa untuk semakin menyemarakkan acara ini. Semangat kebersamaan di tengah keberagaman etnis ini semakin menegaskan Kota Singkawang sebagai kota dengan tingkat toleransi yang tinggi.

Perayaan puncak Festival Cap Go Meh 2025 semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta rombongan. Kehadiran Wapres menjadi bukti dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya dan pariwisata di Singkawang.

Atraksi tatung yang penuh makna menjadi daya tarik utama wisatawan yang menghadiri Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang.
Atraksi tatung yang penuh makna menjadi daya tarik utama wisatawan yang menghadiri Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang.

Ketua Panitia Pelaksana Imlek dan Festival Cap Go Meh Singkawang 2025, Bun Cin Thong, mengungkapkan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk terus melestarikan dan memeriahkan festival ini. Selain atraksi Tatung, festival juga dimeriahkan dengan parade budaya, pertunjukan barongsai dan liong, pawai lampion, serta berbagai atraksi seni budaya lainnya.

“Dengan semangat kebersamaan dan konsep yang menarik, kami bersyukur Festival Cap Go Meh tahun ini kembali mampu menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Informasi yang kami himpun menunjukkan kehadiran wisatawan dari Brunei Darussalam, Kuching, Taiwan, dan Hong Kong,” ungkapnya saat ditemui usai puncak Festival Cap Go Meh, Rabu (12/2/2025) di Singkawang.

Atraksi Tatung sendiri diyakini sebagai medium roh leluhur atau dewa, dengan pertunjukan ekstrem seperti berjalan di atas bara api dan menusuk tubuh dengan benda tajam tanpa merasa sakit. Ritual ini dipercaya sebagai bentuk pengusiran roh jahat dan membawa berkah bagi masyarakat setempat.
“Tidak hanya laki-laki, perwakilan perempuan dan anak-anak juga ikut dalam atraksi Tatung tahun ini. Total terdapat 736 Tatung yang berpartisipasi, terdiri dari 575 Tatung dengan tandu dan 64 Tatung tanpa tandu,” tambahnya.
Salah satu Tatung perempuan, Siau Be (15), mengaku mengikuti atraksi ini karena merupakan warisan turun-temurun dari neneknya. “Saya merasa bangga bisa berpartisipasi dalam Festival Cap Go Meh, karena selain melestarikan tradisi, saya juga dapat membantu memperkenalkan Singkawang ke masyarakat luas. Semoga festival ini semakin berkembang dan mendatangkan lebih banyak wisatawan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Singkawang, Heri Apriadi, menyatakan festival tahun ini kembali digelar secara besar-besaran setelah tahun sebelumnya hanya berbentuk festival mini akibat Pemilu 2024. Untuk semakin menarik wisatawan, panitia bersama pemerintah daerah menghadirkan inovasi seperti expo, dokumentasi Cap Go Meh, miniatur museum, serta pelibatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal.

“Festival Cap Go Meh bukan hanya simbol budaya, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap perekonomian Singkawang. Sektor UMKM, perhotelan, transportasi, dan kuliner mengalami peningkatan signifikan selama festival ini berlangsung,” jelas Heri Apriadi.

Ketua Bidang Adat Budaya Tionghoa Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalimantan Barat, Dji Sye Lim, menambahkan bahwa Cap Go Meh merupakan wujud syukur masyarakat Tionghoa atas musim panen dan ritual penyucian lingkungan dari roh jahat melalui parade Tatung.

“Festival ini juga mencerminkan toleransi dan keberagaman. Sebagai contoh, para peserta Tatung menghentikan atraksi saat azan berkumandang sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim. Dan bagi saya, hal-hal seperti ini merupakan salah satu bentuk sikap saling menghormati dan toleransi yang baik di tengah keberagaman masyarakat,” ungkapnya, seraya mengatakan dengan berbagai inovasi dan kolaborasi lintas komunitas, diharapkan Festival Cap Go Meh Singkawang terus berkembang menjadi agenda budaya bertaraf internasional dan menjadi daya tarik wisata utama Indonesia. (ash)

Editor : A'an
#Keberagaman etnis #tatung #cap go meh