PONTIANAK POST - Penuh haru dan kebanggaan mewarnai prosesi Wisuda Sarjana (S1) XVIII Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syarif Abdurrahman Singkawang.
Bertempat di Auditorium Umar Anshori STIT SA Singkawang, kegiatan ini menjadi momen bersejarah yang tidak hanya menandai berakhirnya masa studi para wisudawan, tetapi juga menjadi titik awal perjalanan panjang sebagai intelektual muslim yang berdaya guna bagi masyarakat, Selasa (17/6).
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang Muhlis, hadir memberikan sambutan inspiratif yang memantik semangat dan kesadaran intelektual para lulusan.
Turut hadir dalam kesempatan ini sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Yayasan STIT SA Singkawang Bujang Rasnie, Rektor IAIS Sambas Arnadi Arkan, Ketua ISBI Eka Murdani, Ketua MUI Abdul Halim, para dosen, ormas Islam dan pendidikan, serta orang tua wisudawan.
Mengawali sambutannya, Muhlis mengajak seluruh hadirin untuk mengenang jasa para pendiri awal STIT SA Singkawang. Ia menyebut nama-nama tokoh yang telah berjasa seperti Umar Anshori, Abu Yazid yang telah wafat selaku ketua yayasan pertama dan dilanjutkan oleh Hanafi Abu Bakar yang sampai sekarang masih sehat wal’afiat, serta para tokoh yang masih diberikan kesehatan hingga saat ini seperti Hamidi Mi’raj dan Arnadi Arkan.
“Mari kita doakan mereka yang telah wafat agar mendapat ampunan dan rahmat Allah, dan yang masih hidup semoga senantiasa sehat dan panjang umur,” ungkapnya.
Dalam momen yang penuh makna itu, Muhlis mengungkapkan kedekatannya secara emosional dengan kampus ini. “Saya tahu persis sejarah STIT, bahkan saat wisuda pertama saya menjadi koordinator seksi acara. Karena itu, saya tahu betapa penting dan berharganya momen ini bagi para wisudawan,” ucapnya.
Lebih dari sekadar ucapan selamat, Muhlis mengajak para lulusan untuk tidak berhenti sampai di sini. “Menjadi sarjana bukan hanya tentang gelar, tapi tentang cara berpikir. Dalam Al-Qur’an, para pemikir disebut Ulil Albab, dan dalam istilah Dr. Ali Syariati disebut Rausyan Fikr (pemikir yang tercerahkan). Mereka tidak hanya berpikir tinggi, tetapi juga membumi, hadir untuk umat dan berkontribusi nyata,” tuturnya dengan penuh penekanan.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua sarjana otomatis menjadi Ulil Albab. “Sebaliknya, banyak pula yang tidak bergelar sarjana namun memiliki jiwa Ulil Albab. Maka tunjukkan bahwa kita, lulusan STIT ini, adalah pemikir yang tercerahkan dan membawa manfaat,” imbuhnya.
Muhlis juga mengajak para sarjana untuk terus menimba ilmu sepanjang hayat. “Wisuda ini bukan akhir, tapi gerbang awal. Jangan puas hanya di S1. Terus lanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya tahu banyak alumni STIT yang sukses dan melanjutkan studi hingga S2 dan S3,” katanya seraya menyebutkan sejumlah tokoh alumni yang kini menduduki posisi strategis.
Menutup sambutannya, Muhlis menyerukan semangat fastabiqul khairat berlomba dalam kebaikan untuk mendukung kemajuan pendidikan Islam di Kota Singkawang.
“STIT SA Singkawang adalah warisan Assabiqunal Awwalun sejak 1988, kita punya tanggung jawab untuk menjaganya. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah bagian dari barisan terbaik yang siap membawa perubahan,” pungkasnya. (har)
Editor : Hanif