PONTIANAK POST— Semangat keberagaman dan toleransi kembali menggema di Kota Singkawang melalui kegiatan Ngaji Budaya yang diselenggarakan oleh Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI melalui Subdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam. Bertempat di Basement Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (17/7), kegiatan ini mengusung tema “Harmoni Nusantara, Merawat Toleransi di Bumi Kelenteng” dan berlangsung penuh khidmat dan semarak.
Acara ini dihadiri Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, Ahmad Zayadi; Kasubdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam, Wida Sukmawati; Kakanwil Kemenag Provinsi Kalbar, Muhajirin Yanis; Kabid Penaiszawa, Rohadi; serta Asisten II Setda Kota Singkawang, Muslimin, mewakili Wali Kota Singkawang. Hadir pula Forkopimda, Kakan Kemenag Kota Singkawang Muhlis, para penyuluh lintas agama, alim ulama, pemuka adat, tokoh masyarakat, budayawan lintas generasi, dan total lebih dari 500 peserta.
Kegiatan dibuka dengan penampilan hadrah dari Sanggar Simpoer Singkawang, dilanjutkan dengan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa bersama, dan sambutan dari Kakanwil Kemenag Kalbar, Muhajirin Yanis.
Dalam sambutannya, Muhajirin menekankan bahwa Ngaji Budaya bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang spiritual dan intelektual yang menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal. “Ngaji Budaya adalah momentum penting untuk memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat multikultural. Singkawang sebagai Bumi Kelenteng menjadi simbol hidupnya keberagaman dan toleransi,” ujarnya.
Keynote speaker sekaligus peresmian acara dilakukan oleh Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, yang mengajak seluruh peserta untuk menjadikan budaya sebagai sarana ekspresi keagamaan. Ia menegaskan bahwa budaya dan agama memang berasal dari sumber berbeda, namun keduanya dapat bersinergi dalam membangun kehidupan yang harmonis. “Budaya dari manusia, agama dari Tuhan. Tapi keduanya tidak dapat dipisahkan. Mereka saling melengkapi dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.
Zayadi juga menyampaikan bahwa keragaman etnis, agama, dan budaya di Singkawang adalah kekuatan yang luar biasa, namun perlu dikelola agar tidak menjadi sumber konflik. “Ngaji Budaya adalah ikhtiar mencari titik temu antara nilai budaya dan agama,” tambahnya.
Kepala Kemenag Kota Singkawang, Muhlis, turut menyampaikan apresiasinya atas antusiasme masyarakat. “Alhamdulillah, masyarakat sangat semangat mengikuti kegiatan ini. Kami berharap ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan serupa di Singkawang,” katanya.
Menjelang akhir acara, budayawan Islam, Iskandar, menyampaikan materi utama mengenai seni radat dan syair Islam sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal bernapas keislaman. Penampilan syair Melayu oleh santri Pontren Ushuluddin Singkawang, Widola, yang merupakan murid binaan Iskandar, menambah nuansa spiritual yang menyentu Acara ditutup dengan pertunjukan musik rodhat hadrah yang kembali memeriahkan suasana.
Kegiatan Ngaji Budaya di Singkawang ini menjadi bukti nyata bahwa Islam dan kebudayaan bisa berjalan beriringan dalam membentuk harmoni. Semangat kolaborasi dan toleransi yang terpancar dari acara ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang damai dan penuh cinta. (har)
Editor : Miftahul Khair