Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Warga Singkawang Tetap Antusias Imunisasi Meski Khawatir Efek Samping

Siti Sulbiyah • Selasa, 29 Juli 2025 | 10:13 WIB
IMUNISASI: Salah satu petugas kesehatan di puskesmas di Singkawang sedang memberikan imunisasi kepada seorang balita yang tengah didekap ibunya.
IMUNISASI: Salah satu petugas kesehatan di puskesmas di Singkawang sedang memberikan imunisasi kepada seorang balita yang tengah didekap ibunya.

PONTIANAK POST - Kesadaran warga untuk melengkapi imunisasi anak tetap ada meski masih diwarnai kekhawatiran soal efek samping. Beberapa orang tua di Kota Singkawang mengaku tetap berkomitmen mengikuti program imunisasi meski sempat menghadapi pengalaman anak demam usai penyuntikan, hingga ajakan untuk tidak berimunisasi.

 

Bocah berusia satu tahun itu terdengar menangis usai mendapatkan imunisasi di Puskesmas Singkawang Tengah II, Kota Singkawang. Ia baru saja mendapatkan suntikan imunisasi terakhir dari rangkaian imunisasi dasar lengkap. Sang ibu, Suli (21) berusaha menenangkan sang buah hati. 

“Sejak dari lahir sudah diimunisasi terus sampai lengkap,” ungkap Suli ditemui di Puskesmas Singkawang Tengah II awal Juli lalu.

Meski tinggal di lingkungan yang masih dipenuhi keraguan terhadap imunisasi, Suli memilih tetap mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Ia mengaku sering mendengar ucapan dari orang-orang terdekat yang menyarankan untuk tidak membawa anaknya imunisasi karena takut anak demam setelah disuntik.

“Banyak dengar dari orang dekat yang bilang anak demam kalau disuntik (imunisasi, red), tidak usahlah. Tapi saya tidak hirau,” imbuhnya.

Meski anaknya pernah sempat demam setelah imunisasi, Suli menyebut gejalanya tergolong ringan dan normal. Menurutnya, kesehatan anak justru terasa lebih baik setelah mendapat imunisasi secara lengkap.

Suami Suli, Diki (30), menyebut mereka mendapat edukasi sejak masa kehamilan. Petugas puskesmas memberikan informasi tentang imunisasi, bahkan memberi pemahaman saat mereka harus menunda penyuntikan karena anak sempat demam.

“Pernah waktu mau imunisasi, anak demam. Kata petugas, ditunda dulu, tidak masalah. Kami diminta kembali lagi setelah sehat,” ujarnya.

Diki bekerja sebagai karyawan swasta. Sebagai ayah, ia tak mempermasalahkan harus datang kembali mengantar buah hatinya diimunisasi.

Hal senada diungkapkan Nursilawati (27), warga Kecamatan Singkawang Utara, yang memiliki dua anak. Ia memastikan kedua anaknya telah menerima imunisasi tanpa ada yang dilewatkan meskipun pernah mengalami demam pasca-imunisasi.

“Walau anak pernah demam, tetap tidak takut untuk imunisasi lagi,” ujarnya.

Pengaruh kader posyandu menurutnya cukup besar. Kader posyandu di lingkungannya rutin mengingatkan jadwal dan bahkan datang langsung ke rumah. “Posyandunya juga dekat, tiap tanggal 20 kami biasa timbang anak,” tambah Nursilawati.

Meski sibuk bekerja sebagai buruh kopra, ia menyempatkan diri untuk imunisasi anak. Kalaupun terlewat, kadang petugas posyandu mengingatkan. 

Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping imunisasi masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi anak di Kota Singkawang. Kajian yang dilakukan oleh Global Health Strategic (GHS) melalui program VaxSocial memperkuat gambaran ini. 

Survei yang dilakukan di empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Riau, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara menunjukkan bahwa 33,85 persen orang tua khawatir dan sangat khawatir terhadap efek samping imunisasi. Selain itu, sebanyak 30,99 persen menyatakan kekhawatiran bahwa imunisasi mungkin tidak aman untuk anak-anak mereka, dan 29,60 persen ragu apakah imunisasi benar-benar bisa mencegah penyakit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan dan KB Kota Singkawang, Hendri Aprianto, menyebut bahwa ketakutan terhadap demam pasca imunisasi menjadi alasan yang kerap membuat orang tua enggan membawa anaknya ke puskesmas.

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa capaian imunisasi dasar lengkap (IDL) di Kota Singkawang baru mencapai 33,15 persen, sementara capaian imunisasi bayi lengkap (IBL) lebih rendah lagi, hanya 27,2 persen. 

Karena itulah, ia berharap imunisasi bisa diwajibkan, seperti implementasi vaksinasi Covid-19 yang sempat diwajibkan beberapa tahun belakangan. “Kita harapannya ini (imunisasi) bisa diwajibkan,” katanya. 

Santi, salah satu staf di Dinas Kesehatan dan KB Kota Singkawang, menambahkan bahwa beberapa orang tua mengaku kesulitan bekerja jika anaknya demam setelah imunisasi. Kekhawatiran ini berdampak pada pengambilan keputusan untuk menunda atau bahkan menolak imunisasi sama sekali.

Kekhawatiran orang tua bukan hanya terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), tetapi juga persepsi bahwa imunisasi hanyalah proyek pemerintah. Selain itu, ada orang tua yang beranggapan bahwa anak yang tidak diimunisasi tetap sehat, sehingga merasa tidak perlu mengambil risiko.

“Ada yang berpikir kalau anaknya sehat-sehat saja tanpa disuntik, ya tidak perlu imunisasi,” kata Santi.

Namun di tengah tantangan tersebut, terdapat peluang baru yang bisa mendorong kesadaran masyarakat. Saat ini, salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri adalah memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap. 

Menurut Santi, hal ini bisa menjadi pendorong baru bagi orang tua untuk mulai memperhatikan catatan imunisasi anak mereka.

“Pernah ada yang minta keterangan Dinas Kesehatan bahwa anaknya sudah imunisasi. Keterangan sudah imunisasi ini memang dipakai di beberapa negara,” pungkasnya.

 

Kalbar Masih Rendah

Cakupan imunisasi di Provinsi Kalimantan Barat masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam upaya menyehatkan anak bangsa. Berdasarkan data cakupan imunisasi tahun 2024 Kementerian Kesehatan RI, Kalbar mencatat angka sebesar 50,9 persen.Artinya, hampir separuh dari anak-anak di Kalbar belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap sebagaimana yang dianjurkan pemerintah.

Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang mencapai 87,8 persen, angka cakupan imunisasi di Kalbar terpaut cukup jauh, yakni 36,9 poin persentase. Kalimantan Barat juga termasuk dalam 10 provinsi dengan cakupan imunisasi terendah, hanya unggul tipis dari wilayah-wilayah di kawasan Papua dan Aceh. 

Selain itu, di antara lima provinsi di Kalimantan, Kalbar berada di posisi paling bawah. Provinsi lain seperti Kalimantan Selatan telah mencatat capaian yang sangat baik, yakni 102,2 persen, disusul Kalimantan Timur (71,6 persen), Kalimantan Tengah (56,2 persen), dan Kalimantan Utara (56,0 persen). (Siti Sulbiyah, Singkawang)

 

(Tulisan ini Didukung oleh AJI Indonesia dan Global Health Strategic)

 

Editor : Hanif
#Antiimunisasi #Warga Singkawang #demam #pascavaksin #imunisasi anak