PONTIANAK POST-Kota Toleran (KKT) yang digelar SETARA Institute di Singkawang ditutup dengan penandatanganan Komitmen Bersama Penguatan Toleransi oleh tujuh kepala daerah yang masuk dalam 10 besar Kota Tertoleran di Indonesia. Penandatanganan juga dilakukan oleh perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta seluruh peserta konferensi, menjadi penegas komitmen kolektif menjaga kerukunan di tingkat daerah.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, secara resmi menutup forum dua hari tersebut. Ia menegaskan bahwa komitmen bersama ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah nyata memperkuat ruang sosial yang damai, inklusif, dan adil. “Kita ingin pembangunan yang berkelanjutan di negeri kita. Mari mulai dari daerah kita masing-masing dengan menjaga toleransi, kerukunan, dan inklusivitas,” ujarnya.
Ia berharap konferensi tidak berhenti hanya sebagai ruang diskusi, tetapi menjadi motor penggerak munculnya kebijakan dan aksi konkret dalam merawat keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, modernitas seharusnya mendorong masyarakat meninggalkan cara pandang yang mempertentangkan perbedaan. “Jangan lagi kita mengungkit-ungkit perbedaan. Keberagaman hadir bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk disyukuri dan dirayakan,” katanya.
Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, turut mengapresiasi kepala daerah yang dinilai berhasil menjaga wilayah masing-masing dari praktik intoleransi. Komitmen yang diteken, katanya, mencerminkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman demi merawat kebhinekaan. “Di banyak tempat, bahkan sebagian daerah di Indonesia, masih ada orang yang mengalami diskriminasi atau persekusi. Namun kehadiran bapak dan ibu di sini membuktikan bahwa Anda adalah sosok yang berani merawat keberagaman,” ujarnya.
Halili menegaskan bahwa Pancasila lahir sebagai fondasi negara untuk mengakomodasi perbedaan. Karena itu, nilai-nilainya bukan hanya komitmen kebangsaan, tetapi juga bentuk pertanggungjawaban kepada Tuhan. “Pancasila bukan sekadar komitmen kebangsaan, tetapi juga akuntabilitas ketuhanan. Kita sudah memilih menjadi bangsa yang beragam. Ketika perbedaan itu dikabulkan Tuhan, mengapa justru kita bertengkar? Apa tidak malu kita pada Tuhan?” tuturnya. (har)
Editor : Hanif