PONTIANAK POST - Panitia Perayaan Imlek dan Cap Go Meh (CGM) Singkawang tahun 2026 menyiapkan daya tarik unik berupa kehadiran delapan ekor kuda asli di Stadion Kridasana. Kehadiran hewan tersebut menjadi simbol kesesuaian dengan shio tahun ini sekaligus memperkuat identitas budaya dalam pesta rakyat tersebut.
Ketua Pelaksana Imlek dan CGM Singkawang, Bun Cin Thong, mengungkapkan bahwa awalnya panitia berencana mendatangkan kuda dari Pulau Jawa. Namun, setelah dilakukan penelusuran, ternyata di Kota Singkawang sudah tersedia delapan ekor kuda yang memenuhi kriteria.
“Tahun ini sangat istimewa. Pengunjung nantinya diperbolehkan menaiki kuda-kuda tersebut dengan pendampingan joki profesional untuk memutari taman yang telah kami siapkan,” ujar Bun Cin Thong, Selasa (27/1).
Taman di Stadion Kridasana didesain khusus dengan mengusung tema "Shio Buddha". Konsep visualnya akan memadukan dua atmosfer yang berbeda, yakni gaya modern dan suasana dinasti zaman dulu. Selain taman, panitia juga membangun replika dan panggung seni budaya.
Panggung tersebut akan beroperasi selama 14 hari penuh untuk menampung bakat seni dari 17 paguyuban etnis yang ada di Kota Singkawang. "Ini adalah ruang bagi seluruh etnis untuk menampilkan kebudayaan masing-masing," jelasnya.
Harmoni Imlek dan Ramadan
Pelaksanaan perayaan tahun ini juga menonjolkan semangat toleransi yang tinggi. Panitia Imlek dan CGM bekerja sama dengan panitia Ramadan Fair dalam menghias jalan-jalan utama kota, seperti Jalan P. Diponegoro.
Dekorasi kota akan menampilkan kombinasi warna yang melambangkan kebersamaan dua hari besar keagamaan. Lampion berwarna merah khas Imlek akan bersanding dengan dekorasi hijau dan kuning khas Ramadan.
“Hingga saat ini, pemasangan hiasan sudah mencapai 60 persen dan ditargetkan rampung dalam satu minggu ke depan,” tambahnya.
Bun Cin Thong menegaskan bahwa kepanitiaan tahun ini melibatkan berbagai etnis, bukan hanya warga Tionghoa. Hal ini mempertegas bahwa Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang telah menjadi identitas budaya milik bersama seluruh warga.
“Panitia yang dibentuk betul-betul inklusif. Kami ingin menunjukkan bahwa perayaan ini adalah milik bersama, sekaligus simbol keharmonisan di Kota Singkawang,” pungkasnya. (har)
Editor : Hanif