PONTIANAK POST — Kejadian keracunan yang melibatkan puluhan siswa MAN Model Singkawang usai menyantap Makanan Berprotein Gizi (MBG) memaksa Pemerintah Kota Singkawang bertindak cepat. SPPG Bukit Batu, dapur penyedia MBG yang diduga menjadi penyebab insiden tersebut, telah dinonaktifkan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN) hingga waktu yang belum ditentukan.
Kepala SPPG Bukit Batu, Maulidi Ikhsan, mengungkapkan bahwa penghentian operasional ini merupakan langkah awal untuk memperbaiki kualitas dapur sembari menunggu rekomendasi dari Dinas Kesehatan Singkawang. “Kami berkomitmen untuk segera kembali beroperasi dengan kualitas yang lebih baik setelah evaluasi mendalam,” jelas Maulidi, Selasa (10/2).
Meski penghentian sementara ini berdampak pada pelayanan kepada lebih dari 3.000 siswa dari 14 sekolah, pihak SPPG berjanji untuk memperbaiki sistem distribusi makanan, yang diduga menjadi faktor penyebab keracunan. Menurutnya, perbedaan jam pengantaran dan waktu makan yang tidak terkoordinasi dengan baik menjadi dugaan awal penyebab insiden ini.
Koordinator Wilayah MBG Singkawang, Devi Rizkia, menyatakan bahwa pihaknya akan segera menyampaikan permohonan maaf kepada sekolah-sekolah yang terdampak. Ia juga menambahkan bahwa SPPG dan mitranya berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh demi mencegah kejadian serupa di masa depan.
Baca Juga: Polres Singkawang Pantau Program MBG di SDN 25, Dukung Gizi dan Tumbuh Kembang Anak
Pemkot Terus Pantau Perkembangan
Sementara itu, Pemerintah Kota Singkawang terus memantau perkembangan kasus ini. Sekretaris Daerah Kota Singkawang, Dwi Yanti, menjelaskan bahwa penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Kami berharap insiden ini adalah yang pertama dan terakhir,” ujar Dwi.
Dinas Kesehatan Singkawang juga aktif memantau dan mendampingi kasus ini. Kepala Dinas Kesehatan, Achmad Hardin, menyebutkan bahwa tim MBG telah melakukan pelatihan dan pengawasan ketat terhadap operasional dapur yang bersangkutan. “Kami juga terus berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan untuk memastikan semua biaya pengobatan siswa yang terdampak ditanggung,” katanya.
Meski demikian, pihak SPPG Bukit Batu tetap siap bertanggung jawab. Mereka berjanji akan memberikan kompensasi jika ada siswa yang tidak dapat ditanggung oleh BPJS. Ke depan, Pemkot Singkawang berencana melakukan inspeksi mendalam terhadap semua dapur MBG untuk memastikan bahwa semuanya beroperasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Dwi Yanti menegaskan bahwa kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi serius bagi semua pihak terkait. “Harapannya, dengan langkah-langkah preventif dan evaluasi yang ketat, kita dapat menghindari kejadian serupa,” ujar Dwi Yanti mengakhiri.
Sebagai informasi, pada Jumat (6/2), puluhan siswa MAN Model Singkawang terindikasi keracunan setelah mengonsumsi MBG yang disiapkan oleh dapur SPPG Bukit Batu. Sebanyak 56 siswa mengalami gejala keracunan, dengan 31 di antaranya dilarikan ke rumah sakit.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, bersama Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Pendidikan Singkawang, langsung meninjau kondisi para korban di RS Sa'adah. Tjhai Chui Mie berharap kejadian ini menjadi yang pertama dan terakhir, sambil menegaskan pentingnya evaluasi ketat terhadap sistem penyajian makanan MBG di masa depan. “Pelayanan MBG harus ditingkatkan. Kita tidak bisa menganggap enteng masalah kebersihan,” ungkap Tjhai.
Kepala Dinas Kesehatan Singkawang, dr. Achmad Hardin, menambahkan bahwa kejadian ini telah menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar standar kebersihan dan pengawasan terhadap dapur MBG terus diperketat. “Kami berharap anak-anak yang terdampak dapat segera pulih, dan kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya. (har)
Editor : Hanif