Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Jelang Cap Go Meh 2026 Singkawang, Jumlah Penumpang Bandara Naik Dua Kali Lipat

Hanif PP • Rabu, 25 Februari 2026 | 10:37 WIB

 

MERIAH: Salah satu suasana kemeriahan rangkaian perayaan Tahun Baru Umlek 2577 dan Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang.
MERIAH: Salah satu suasana kemeriahan rangkaian perayaan Tahun Baru Umlek 2577 dan Cap Go Meh 2026 di Kota Singkawang.

PONTIANAK POST - Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) Bandara Singkawang, Ilham Hafizi, mengatakan jumlah penumpang yang datang dan berangkat melalui bandara tersebut mengalami peningkatan signifikan menjelang perayaan Cap Go Meh 2026 di Singkawang, Kalimantan Barat. Menurut Ilham, jumlah penumpang meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

“Biasanya jumlah penumpang tiba sekitar 350 orang per hari. Namun, menjelang Cap Go Meh meningkat menjadi sekitar 700 penumpang per hari. Kenaikan juga terjadi pada penumpang yang berangkat,” kata Ilham di Singkawang, Selasa (24/2).

Ia menjelaskan lonjakan tersebut dipicu tingginya mobilitas masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan rangkaian perayaan Imlek 2577 Kongzili dan Cap Go Meh 2026 yang menjadi agenda tahunan di Kota Singkawang.

Untuk mengantisipasi peningkatan arus penumpang, pihak bandara menambah dua penerbangan dengan rute Jakarta–Singkawang pulang pergi (PP). “Saat ini terdapat penambahan dua maskapai, yakni Super Air Jet dan TransNusa, sehingga total penerbangan menjadi empat kali per hari dengan rute Jakarta–Singkawang (PP),” ujarnya.

Ilham menambahkan, penambahan frekuensi penerbangan dilakukan untuk menjaga kelancaran arus penumpang sekaligus mendukung sektor pariwisata daerah yang diperkirakan meningkat selama momentum perayaan budaya tersebut.

Rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026 di Singkawang dijadwalkan berlangsung pada 28 Februari hingga 4 Maret 2026. Pada 28 Februari hingga 3 Maret akan digelar Festival Kuliner Cap Go Meh di pusat kota.

Selanjutnya, pada 1 Maret dilaksanakan Pawai Lampion. Ritual Tolak Bala Cap Go Meh dijadwalkan pada 1–2 Maret, sedangkan Ritual Ket Sam Thoi berlangsung pada 1–3 Maret di Jalan Sejahtera Singkawang.

Puncak perayaan akan digelar pada 3 Maret melalui Festival Cap Go Meh yang menampilkan ratusan tatung. Penutupan rangkaian Imlek dan Cap Go Meh dijadwalkan pada 4 Maret di Stadion Kridasana Singkawang.

Ia berharap lonjakan jumlah penumpang tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kunjungan wisatawan ke Singkawang selama perayaan berlangsung.

Panggung Toleransi

Perayaan Cap Go Meh 2026 di Singkawang bukan sekadar festival budaya, melainkan panggung nyata toleransi. Digelar selama 18 hari, dari 15 Februari hingga 4 Maret 2026, perayaan ini berlangsung beriringan dengan bulan suci Ramadan. Pemerintah kota bersama tokoh lintas agama pun menyiapkan penyesuaian jadwal agar kemeriahan budaya tidak mengganggu kekhusyukan ibadah umat Islam.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak 15 Februari melalui masa praperayaan Imlek yang ditandai dengan ritual pembersihan diri serta hiasan kota bernuansa merah. Puncak perayaan akan berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026, saat ribuan warga dan wisatawan diperkirakan memadati jalan-jalan utama kota.

Atraksi paling ditunggu tetap Parade Tatung. Ratusan Tatung yang diyakini dirasuki roh leluhur atau dewa mempertontonkan kekebalan tubuh dengan berdiri di atas tandu tajam serta menusukkan benda logam ke tubuh mereka tanpa terluka. Atraksi ini menjadi simbol spiritualitas sekaligus kekuatan tradisi yang telah dikenal hingga mancanegara.

Khusus tahun 2026, penyesuaian waktu kegiatan menjadi perhatian utama. Pemerintah kota bersama tokoh lintas agama mengatur ulang jam atraksi dan rute parade agar tidak berbenturan dengan waktu salat serta aktivitas ibadah puasa. Dentuman petasan dan hiburan tertentu diperkirakan dibatasi pada jam-jam khusus.

Saat malam hari, Festival Lampion mengubah wajah kota menjadi “hutan cahaya”. Ribuan lampion menerangi sudut-sudut Singkawang, menciptakan suasana magis dan romantis yang selalu menjadi magnet wisatawan.

Identitas Singkawang sebagai kota multikultural ditegaskan melalui Pawai Budaya 17 Etnis. Perpaduan budaya Dayak, Melayu, Tionghoa, dan belasan etnis lainnya tampil dalam satu barisan parade warna-warni yang mencerminkan keberagaman Kalimantan Barat.

Kemeriahan semakin kuat dengan keterlibatan 17 paguyuban etnis budaya Kota Singkawang yang siap mengisi pentas seni budaya perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026. Seluruh kegiatan dipusatkan di Stadion Kridasana Singkawang selama periode 15 Februari hingga 4 Maret 2026.

“Kami dari 17 paguyuban etnis budaya di Kota Singkawang ikut berpartisipasi untuk memeriahkan acara Imlek dan Cap Go Meh tersebut,” kata Ketua Majelis Seni Budaya (MSB) Kota Singkawang, Mulyadi Qamal, belum lama ini.

Menurut Mulyadi, masing-masing paguyuban akan menampilkan seni budaya khas daerahnya, mulai dari tarian tradisional hingga drama budaya yang sarat nilai edukasi bagi masyarakat. Langkah ini dinilai sebagai wujud nyata moderasi beragama: satu kelompok tetap merayakan tradisi, sementara kelompok lain dapat menjalankan ibadah dengan tenang. Cap Go Meh 2026 pun tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga simbol persaudaraan lintas iman.

“Dengan demikian, perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026 diharapkan menjadi momentum meningkatkan kebersamaan dan kekompakan masyarakat Singkawang sekaligus mempromosikan kekayaan budaya kota ini ke dunia,” ujarnya.

Akses Semakin Tidak Ideal

Namun, di balik kemeriahan tersebut, persoalan klasik kembali muncul. Setiap tahun, Festival Cap Go Meh di Singkawang selalu dipadati lautan manusia. Puluhan ribu orang tumpah ke jalan untuk menyaksikan parade Tatung, barongsai, dan naga sebagai ikon budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.

Desak-desakan, sulit bergerak, hingga keterbatasan akses menonton yang aman dan nyaman membuat sebagian wisatawan mulai mencari alternatif agar tetap bisa menikmati Cap Go Meh tanpa harus terjebak di tengah kerumunan. Salah satunya dengan menonton dari podium khusus yang disiapkan di titik-titik strategis jalur parade.

Pemandu wisata spesialis budaya Tionghoa Kalimantan Barat, Herfin Yulianto, menilai lonjakan jumlah penonton dari tahun ke tahun membuat pengalaman menonton di badan jalan semakin tidak ideal, terutama bagi wisatawan keluarga, lansia, dan tamu dari luar daerah.

“Cap Go Meh itu ritual budaya, bukan sekadar tontonan. Kalau penonton terlalu sibuk berdesakan, pesan budaya dan prosesi Tatung justru tidak tersampaikan,” ujar Herfin, Sabtu (3/1/2026).

Menurut Ketua Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) Kapuas itu, kebutuhan akan ruang menonton yang lebih tertata menjadi konsekuensi logis dari naiknya status Cap Go Meh Singkawang sebagai agenda wisata nasional bahkan internasional. Tanpa pengaturan yang baik, kenyamanan dan keselamatan penonton berpotensi terabaikan.

Selain persoalan ruang, Herfin juga menyoroti minimnya pemahaman sebagian penonton terhadap makna ritual Cap Go Meh. Banyak wisatawan datang hanya untuk mengambil gambar tanpa mengetahui filosofi Tatung, simbol naga, hingga nilai spiritual dalam prosesi tersebut. “Banyak yang menonton, tapi tidak benar-benar memahami apa yang mereka lihat,” katanya. (ant/har/ars)

Editor : Hanif
#lonjakan wisatawan #Bandara Singkawang #penerbangan #singkawang #cap go meh