PONTIANAK POST — Kekaguman terpancar dari wajah Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono saat menyaksikan langsung atraksi tatung di Festival Cap Go Meh Singkawang 2026.
Di tengah sorak ribuan penonton, ia mengaku baru pertama kali melihat ritual budaya yang begitu ekstrem sekaligus sarat makna persatuan.
Festival Cap Go Meh Singkawang tahun ini menghadirkan parade terpanjang dengan menampilkan 734 tatung dalam satu rangkaian arak-arakan megah di pusat kota, Selasa (3/3).
Ratusan ribu warga memadati ruas jalan untuk menyaksikan atraksi yang menjadi ikon budaya Kalimantan Barat tersebut.
Puncak festival dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto bersama Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dengan pemukulan loku sebagai tanda dimulainya perayaan.
Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir, antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, anggota DPD RI, pimpinan MPR, duta besar, hingga pengamat politik Rocky Gerung.
Atraksi tatung dengan berbagai aksi ekstrem membuat AHY terpukau. Ia menyebut pertunjukan tersebut sulit dijelaskan dengan logika semata.
“Tadi kita disuguhkan atraksi tatung yang luar biasa. Jujur, saya sendiri tidak bisa mencernanya secara logika,” ujarnya.
Menurut AHY, Festival Cap Go Meh tidak hanya memperlihatkan kekayaan tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan kuat bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa. Ia menilai Singkawang memberi contoh nyata bagaimana perbedaan dapat dirawat menjadi energi persatuan.
“Apa pun suku, agama, etnis, dan rasnya, kita harus bersatu dan mengekspresikan keberagaman ini untuk kemajuan bersama,” katanya.
Mendagri Tito Karnavian juga menilai Singkawang sebagai salah satu kota paling berhasil menjaga toleransi di tengah kemajemukan.
Ia mengaku terkesan melihat langsung keharmonisan antarumat beragama dalam perayaan Cap Go Meh.
“Saya merasa bangga karena di Indonesia ada kota yang sangat toleran. Di sini semuanya bercampur, benar-benar melting pot,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat dari berbagai latar belakang—Tionghoa, Melayu, dan suku lainnya—berbaur tanpa sekat dalam satu perayaan. Momentum Imlek dan Cap Go Meh menjadi potret nyata kehidupan yang saling menghormati.
Tito juga mengapresiasi keterlibatan lintas agama dalam kepanitiaan maupun dukungan terhadap seluruh rangkaian acara.
“Saya berharap suasana toleran di Singkawang ini benar-benar mencerminkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia,” pungkasnya. (har)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro