PONTIANAK POST – Dewan Pimpinan Daerah Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Singkawang menerbitkan surat edaran mengenai penguatan penggunaan Bahasa Melayu. Langkah ini diambil untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.
Edaran tersebut menekankan pentingnya pembiasaan Bahasa Melayu, khususnya dialek Melayu Sambas, dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, hingga satuan pendidikan. Kebijakan ini selaras dengan prinsip Tri Gatra Bangun Bahasa: mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Ketua DPD MABM Kota Singkawang, H. Asmadi, menegaskan bahwa penguatan ini merupakan langkah strategis dalam menjaga identitas budaya masyarakat setempat.
“Bahasa Melayu bukan hanya alat komunikasi, melainkan warisan nilai, adat, dan cara pandang yang harus diwariskan. Jika tidak dijaga bersama, bahasa ini bisa perlahan ditinggalkan generasi muda,” ujar Asmadi, Kamis (30/4).
Dalam edaran tersebut, MABM mengimbau masyarakat untuk memaksimalkan penggunaan Bahasa Melayu Sambas di lingkungan keluarga. Orang tua diminta aktif mengajarkan kosakata dan pengucapan bahasa daerah dalam aktivitas sehari-hari.
Asmadi menilai keluarga sebagai ruang utama pelestarian karena pembentukan kebiasaan berbahasa dimulai dari rumah.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Jika Bahasa Melayu hidup di rumah, anak-anak akan tumbuh dengan kedekatan emosional dan kebanggaan terhadap jati dirinya,” tuturnya.
Selain lingkungan rumah, MABM mendorong penerapan penggunaan Bahasa Melayu di satuan pendidikan setiap hari Kamis. Langkah ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan kearifan lokal di lingkungan sekolah.
Asmadi memandang sektor pendidikan memiliki peran krusial dalam membangun kesadaran generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi.
Baca Juga: Warga Padati Bazar PKK Kalbar, Sembako Murah dan Produk UMKM Diserbu Sejak Pagi
“Pembiasaan berbahasa Melayu setiap Kamis bukan sekadar simbolis, melainkan upaya menanamkan nilai budaya kepada peserta didik,” jelasnya.
Melalui sinergi antara keluarga, tokoh masyarakat, dan institusi pendidikan, diharapkan Bahasa Melayu tetap terpelihara sebagai lambang identitas bangsa dan kekayaan budaya nasional
“Ketika Bahasa Melayu tetap hidup, maka identitas budaya kita tetap kuat. Ini bukan hanya tentang menjaga bahasa, tetapi menjaga sejarah, karakter, dan kekayaan budaya bangsa,” ujarnya. (har)
Editor : Hanif