Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

PGRI Singkawang Dorong Penguatan Muatan Lokal Bahasa Melayu Sambas di Sekolah

Hari Kurniathama • Kamis, 4 Juni 2026 | 21:49 WIB
Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, saat membuka kegiatan Konferensi Kerja Kota (Konkerkot) dan Seminar Pendidikan yang digelar PGRI Kota Singkawang. (MC Singkawang)
Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, saat membuka kegiatan Konferensi Kerja Kota (Konkerkot) dan Seminar Pendidikan yang digelar PGRI Kota Singkawang. (MC Singkawang)

 

PONTIANAK POST – Penguatan muatan lokal Bahasa Melayu Sambas menjadi salah satu fokus dalam Konferensi Kerja Kota (Konkerkot) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Singkawang yang dirangkaikan dengan Seminar Pendidikan di Rumah Melayu Balai Serumpun.

Kegiatan yang dibuka Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, itu diikuti ratusan guru, akademisi, dan praktisi pendidikan.

Forum tersebut tidak hanya membahas peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga mendorong upaya pelestarian bahasa dan budaya daerah melalui dunia pendidikan. Langkah ini dinilai penting agar generasi muda tetap mengenal identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

Pemerintah dan PGRI Dinilai Memiliki Misi yang Sama

Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, menegaskan bahwa pemerintah dan PGRI memiliki peran yang saling melengkapi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul melalui pendidikan.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter dan jati diri peserta didik.

“Sejak dahulu hingga sekarang, sinergi antara pemerintah dan PGRI harus terus diperkuat karena memiliki tujuan yang sama, yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk masa depan,” ujarnya.

Baca Juga: MABM Singkawang Dorong Penggunaan Bahasa Melayu Sambas di Keluarga dan Sekolah Setiap Kamis

Muhammadin menilai penguatan Bahasa Melayu Sambas di sekolah merupakan langkah strategis. Selain menjadi bagian dari identitas masyarakat, bahasa daerah juga mengandung nilai-nilai kesantunan dan etika yang relevan dalam pembentukan karakter siswa.

“Bahasa Melayu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana mewariskan nilai budaya, sopan santun, dan etika kepada generasi muda,” katanya.

Menjaga Jati Diri di Tengah Kemajuan Teknologi

Muhammadin menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Sekolah, menurutnya, harus menjadi ruang yang menumbuhkan kebanggaan peserta didik terhadap bahasa dan budaya daerah.

“Jangan sampai anak-anak kita maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi kehilangan jati diri karena tidak mengenal budaya dan bahasa daerahnya sendiri,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya bertugas mencetak generasi yang kompetitif, tetapi juga generasi yang memahami akar budayanya.

Baca Juga: Peserta PKSN XIII Kunjungi Komunitas Dayak, Melayu, dan Hakka untuk Belajar Keragaman Budaya Kalbar

Trigatra Bangun Bahasa Jadi Landasan Pembelajaran

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang, Asmadi, mengatakan seluruh satuan pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA/sederajat di Kota Singkawang diwajibkan menerapkan konsep Trigatra Bangun Bahasa.

Konsep tersebut menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, mendorong pelestarian bahasa daerah, serta memperkuat penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi perkembangan global.

“Peserta didik harus mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Inilah yang kami sebut sebagai Trigatra Bangun Bahasa,” jelasnya.

Menurut Asmadi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama PGRI Kota Singkawang juga telah merumuskan rancangan kurikulum yang memasukkan Bahasa Melayu Sambas sebagai bagian dari mata pelajaran muatan lokal.

Sebelumnya, Asmadi juga mengatakan bahwa selain menguatkan bahasa daerah dalam kurikulum muatan lokal, pihaknya juga akan menggelar Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) bagi guru dan siswa.

“Bahasa daerah jangan sampai terkikis, karena di sanalah jati diri kita terhimpun. Kami akan memastikan bahasa daerah hadir di ruang kelas dan aktivitas keseharian siswa,” ujarnya.

Baca Juga: Workshop Pantun Melayu Dorong Anak Muda Kapuas Hulu Lestarikan Identitas Budaya Daerah

Ia menambahkan bahwa sebanyak 3.604 guru dan seluruh siswa tingkat SMP akan mengikuti UKBI, serta mendorong pengusulan warisan budaya tak benda sebagai bentuk pelestarian.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang, Mukhlis, turut menegaskan pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan madrasah dan kegiatan kemasyarakatan.

“Jangan sampai bahasa daerah kita 10 tahun lagi hanya bisa dijumpai di museum. Minimal, acara-acara daerah menggunakan pembawa acara berbahasa Melayu agar kearifan lokal tetap terasa nyata,” ujarnya.

Warisan Budaya yang Harus Tetap Hidup

Melalui Konkerkot dan Seminar Pendidikan tersebut, Bahasa Melayu Sambas diharapkan memperoleh ruang yang lebih kuat dalam sistem pendidikan. Upaya ini bukan sekadar menjaga keberlangsungan bahasa daerah, tetapi juga memastikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan keterlibatan pemerintah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan, penguatan muatan lokal Bahasa Melayu Sambas diharapkan menjadi langkah nyata dalam menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat karakter generasi muda Kota Singkawang.

Berdasarkan sejumlah penelitian, pembelajaran bahasa daerah berkontribusi dalam memperkuat identitas budaya, menumbuhkan sikap toleransi, tanggung jawab, dan rasa hormat, serta meningkatkan kecintaan peserta didik terhadap budaya dan bangsa.

Karena itu, penguatan Bahasa Melayu Sambas di sekolah dinilai tidak hanya penting bagi pelestarian bahasa, tetapi juga bagi pembentukan karakter generasi muda.(har)

Editor : Uray Ronald
#Bahasa Melayu Sambas #Muatan Lokal Singkawang #PGRI Kota Singkawang #Pendidikan Berbasis Budaya #Pelestarian Bahasa Daerah