PONTIANAK POST – Bakcang Run 2026 akan kembali digelar di Kota Singkawang pada Minggu, 21 Juni 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Bakcang ini menargetkan sedikitnya 1.500 peserta dan menghadirkan berbagai tradisi budaya yang telah menjadi identitas masyarakat setempat.
Berdasarkan data panitia yang dihimpun menjelang pelaksanaan acara, jumlah pendaftar telah mencapai 1.500 orang. Angka tersebut melampaui jumlah peserta tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 1.000 orang.
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap Bakcang Run 2026 terus meningkat. Panitia pun optimistis jumlah peserta masih akan bertambah hingga hari pelaksanaan.
Dari sisi pariwisata, Pemerintah Kota Singkawang terus menjadikan festival budaya sebagai penggerak kunjungan wisatawan. Tjhai Chui Mie, menyebut berbagai agenda budaya terbukti mampu meningkatkan daya tarik wisata daerah.
Tren kunjungan wisatawan ke Singkawang menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dari 606.663 kunjungan pada 2023, sempat turun menjadi 305.496 kunjungan pada 2024, lalu melonjak menjadi 702.056 kunjungan pada 2025.
"Festival ini bukan sekadar ajang budaya, tetapi juga media promosi yang strategis untuk Singkawang," ujar Tjhai Chui Mie.
Pemerintah berharap kegiatan seperti Bakcang Run dapat memperkuat citra Singkawang sebagai destinasi wisata budaya nasional sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat lokal
Baca Juga: Festival Bakcang di Pontianak, Bangkitkan Potensi Wisata dan Budaya
Perang Air Jadi Tradisi yang Paling Dinanti
Selain lomba lari, perayaan Hari Bakcang akan diramaikan berbagai tradisi khas yang melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung.
Salah satu agenda yang paling dinanti adalah sesi "mandi air bakcang" atau perang air yang akan berlangsung di depan Kantor Wali Kota Singkawang. Tradisi tersebut menjadi ruang interaksi lintas usia yang setiap tahun menarik perhatian warga maupun pengunjung dari luar daerah.
“Untuk acara, konsepnya serupa dengan tahun lalu yang mana masyarakat akan bermain air menggunakan pistol air dengan pasokan air yang disiapkan khusus oleh tangki-tangki BPKS,” ujar Tjhai Chui Mie.
Suasana kebersamaan dalam perang air tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarmasyarakat yang berkumpul dalam satu perayaan budaya.
Lomba Bungkus dan Makan Bakcang Lengkapi Kemeriahan
Panitia juga menyiapkan lomba membungkus bakcang dan lomba makan bakcang sebagai bagian dari rangkaian kegiatan festival.
Bakcang merupakan makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang dibungkus daun bambu. Isinya beragam, mulai dari gula merah hingga daging dan kacang tanah.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, bakcang memiliki makna penghormatan kepada leluhur dan mengenang tokoh-tokoh yang setia memperjuangkan negara. Nilai sejarah tersebut menjadi alasan mengapa tradisi ini terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Menurut laporan Buddhazine, bakcang adalah sebutan umum di Indonesia yang banyak dipengaruhi bahasa Hokkian atau Teochew. Sebutan resminya adalah zongzi, atau di dalam bahasa Inggris disebut rice dumpling.
Makanan ini biasanya disantap pada Festival Perahu Naga (Duanwu) yang jatuh pada hari kelima bulan kelima penanggalan lunar Tionghoa. Ada beberapa versi yang menceritakan sejarah munculnya makanan ini atau setidaknya mengapa disantap pada tanggal tersebut.
Salah satu versi yang umum mengaitkan bakcang dengan cerita seorang penyair terkenal dari Kerajaan Chu bernama Qu Yuan. Dikagumi atas sikap kepahlawanannya, Qu Yuan gagal meyakinkan rajanya terhadap ancaman dari Kerajaan Qin.
Ketika Jenderal Qin berhasil menaklukkan ibukota Chu, Bai Qi pada 278 SM, Qu Yuan merasa sangat sedih hingga akhirnya terjun ke dalam Sungai Miluo. Menurut legenda, masyarakat sekitar yang mengagumi kepahlawanan Qu Yuan membuang kantong-kantong beras ke dalam sungai untuk mencegah ikan-ikan memakan tubuh sang penyair.
Bakcang umumnya dibuat dalam bentuk limas segitiga dengan empat sudut. Bentuk ini memiliki makna filosofis tersendiri. Masing-masing sudut mewakili sifat manusia yaitu zhi zu, gan en, shan jie, dan bao rong.
Zhi zu artinya merasa puas dengan apa yang dimiliki. Demikian pula kita sebagai manusia diharapkan tidak memupuk sifat serakah.
Gan en artinya bersyukur. Kita diajarkan untuk mengembangkan rasa syukur sebagai respons terhadap kebaikan yang terjadi dalam kehidupan kita.
Selanjutnya shan jie yang artinya berpikiran positif. Kita diharapkan untuk selalu menjaga pikiran bersih dan positif, tidak memandang keburukan orang lain.
Terakhir adalah bao rong yaitu merangkul. Maksudnya adalah kita sebagai manusia harus senantiasa mengembangkan sikap cinta kasih dan simpati kepada sesama yang membutuhkan.
Undangan untuk Wakil Presiden RI
Panitia penyelenggara telah mengirimkan undangan resmi kepada Wakil Presiden Republik Indonesia untuk menghadiri perayaan tersebut. “Kita berharap beliau dapat hadir dan ikut merayakan momen ini bersama warga,” kata Tjhai Chui Mie.
Kehadiran tokoh nasional dinilai dapat semakin memperkuat promosi budaya lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Singkawang kepada masyarakat yang lebih luas.
Mendorong Pelestarian Budaya dan Pariwisata
Karena berlangsung pada akhir pekan, penyelenggara mengajak masyarakat dari berbagai daerah untuk hadir dan meramaikan Bakcang Run 2026.
Bagi warga Singkawang, kegiatan ini bukan sekadar ajang olahraga. Perayaan tersebut menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun.(har/*)
Editor : Uray Ronald