PONTIANAK POST - Sebuah kabar duka menyelimuti Kota Singkawang. Nola Dya Sari, seorang pemudi penuh dedikasi yang tengah berjuang membawa perubahan bagi desa melalui Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa Merah Putih, dilaporkan meninggal dunia saat menjalani masa pendidikannya.
Nola, lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu, membawa harapan besar dari tanah kelahirannya di Singkawang untuk memajukan ekonomi masyarakat, harus mengembuskan napas terakhirnya di tengah proses menimba ilmu untuk bangsa.
Menurut keterangan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSD) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, Nola sempat mengeluhkan kondisi fisiknya yang menurun sebelum tak sadarkan diri.
Baca Juga: Kemhan Ungkap Riwayat Medis 5 Peserta SPPI KDKMP-KNMP yang Meninggal Saat Latsarmil
"Almarhumah sempat mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas," ungkap Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia dengan nada duka dalam konferensi pers, Sabtu (27/6).
Melihat kondisi tersebut, tim kesehatan Satuan Pendidikan (Satdik) langsung bergerak cepat memberikan pertolongan pertama. Berikut adalah lini masa upaya medis yang sempat diupayakan demi menyelamatkan nyawa Nola:
Penanganan awal langsung diberikan. Tim medis Satdik langsung memberikan tindakan darurat di lokasi.
Pukul 19.20 WIB: Nola segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Singkawang untuk penanganan lebih intensif.
Guna mendapatkan fasilitas yang lebih memadai, Nola kemudian dirujuk kembali ke RSUD Dr. Abdul Aziz Singkawang.
Namun, takdir berkata lain. Perjuangan Nola harus terhenti malam itu juga.
"Meskipun berbagai upaya medis maksimal telah dilakukan oleh tim dokter, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan. Pada pukul 21.03 WIB, almarhumah dinyatakan meninggal dunia," tambah Ketut.
Dinyatakan Sehat Sebelum Bertugas
Kepergian anak dari pasangan Engko Rohedi dan Petrisina ini menyisakan kesedihan mendalam, terlebih karena almarhumah berangkat dalam kondisi yang prima.
Pihak BPSD menegaskan bahwa seluruh peserta SPPI, termasuk Nola, telah melewati rangkaian pemeriksaan kesehatan (skrining) yang sangat ketat sesuai prosedur dan dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan fisik maupun mental untuk mengikuti pendidikan.
Kini, langkah kaki Nola untuk membangun koperasi desa mungkin terhenti, namun semangat dan cita-cita mulianya untuk mengabdi pada Merah Putih akan selalu dikenang oleh keluarga, rekan sejawat, dan tanah kelahirannya, Singkawang. (har)
Editor : Miftahul Khair