Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Telepon Pertama: Nola Pingsan, Kabar Berikutnya Membuat Keluarga Terpukul

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 28 Juni 2026 | 22:20 WIB
Nola Dya Sari, peserta SPPI Kopdes Merah Putih asal Singkawang meninggal dunia pada Jumat (26/6). (ISTIMEWA)
Nola Dya Sari, peserta SPPI Kopdes Merah Putih asal Singkawang meninggal dunia pada Jumat (26/6). (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST – Duka mendalam menyelimuti keluarga Nola Dya Sari, peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 asal Kota Singkawang, Kalimantan Barat, yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil). Kepergian perempuan yang akrab disapa Olak itu meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga sekaligus menjadi bagian dari tragedi wafatnya lima peserta SPPI di sejumlah satuan pendidikan militer.

Suasana haru tampak di rumah duka di Jalan Manggis Gang Rukmajaya, Kelurahan Roban, Kecamatan Singkawang Tengah, Minggu (28/6). Keluarga masih berusaha menerima kenyataan atas kepergian putri pasangan Rohedi dan Petrisina tersebut.

"Kami Mengira Hanya Kelelahan Biasa"

Bagi keluarga, kabar meninggalnya Nola datang tanpa tanda-tanda. Menurut mereka, perempuan yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu tidak pernah memiliki riwayat penyakit serius.

"Jujur saya katakan, kami sekeluarga sangat terkejut dengan kepergian almarhumah. Setahu kami, almarhumah sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit," ujar kakak sepupunya, Nila Cempaka Sari.

Nila menceritakan, keluarga awalnya hanya menerima telepon yang mengabarkan bahwa Nola pingsan saat menjalani latihan. Karena mengetahui aktivitas fisik selama pendidikan cukup berat, keluarga sempat mengira kondisi tersebut hanya akibat kelelahan.

Harapan itu pupus ketika keluarga tiba di rumah sakit. Mereka justru menerima kabar bahwa Nola telah meninggal dunia.

Sosok Pendiam yang Menyimpan Banyak Hal

Di mata keluarga, Nola dikenal sebagai pribadi yang tenang dan tidak banyak berbicara. Ia lebih sering memendam persoalan yang dihadapinya dibanding menceritakannya kepada orang lain.

Selama mengikuti pendidikan, keluarga mengaku tidak pernah mendengar keluhan berarti dari Nola mengenai kondisi kesehatannya maupun beratnya latihan yang dijalani.

Sikapnya yang tertutup membuat keluarga tidak pernah membayangkan bahwa kepergiannya untuk mengikuti pendidikan menjadi perjalanan terakhir yang mereka saksikan.

Bagian dari Duka Lima Peserta SPPI

Kepergian Nola menjadi bagian dari duka nasional setelah Kementerian Pertahanan RI mengonfirmasi meninggalnya lima peserta Program SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KDKMP/KNMP) 2026 selama mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban.

Selain Nola Dya Sari dari Satuan Pendidikan C Kalimantan, peserta lain yang meninggal dunia yakni Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.

Menurut Kemhan, seluruh peserta sebelumnya telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, mulai dari laboratorium, foto rontgen, elektrokardiografi (EKG), hingga pemeriksaan kesehatan jiwa.

Kementerian Pertahanan menyatakan seluruh peserta yang meninggal dunia telah menjalani pemeriksaan kesehatan berlapis sebelum mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dan dinyatakan memenuhi syarat. Namun, penyebab kematian masing-masing peserta berbeda berdasarkan hasil pemeriksaan medis.

Almarhumah Anisa Muyassaroh, peserta di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, dilaporkan meninggal dunia akibat heat stroke atau sengatan panas ekstrem.

Sementara itu, Nola Dya Sari, peserta Satdik C Kalimantan asal Singkawang, bersama Yonanda Muhammad Taufiq, Novia Rahmadhani Sihotang, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dan investigasi medis untuk memastikan penyebab pasti kematian mereka.

Kementerian Pertahanan menegaskan proses evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latsarmil tetap dilakukan, termasuk menunggu hasil investigasi atas setiap kasus meninggalnya peserta.

Evaluasi Total Sistem Latihan

Peristiwa ini mendorong Kementerian Pertahanan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Latsarmil bagi peserta SPPI.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menginstruksikan agar materi pendidikan disesuaikan dengan kondisi peserta. Penekanan tidak lagi semata pada kemampuan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek keselamatan, kesehatan, psikologis, kerja sama tim, dan kemampuan memecahkan masalah.

Kemhan juga meminta setiap satuan pelaksana memastikan penanganan medis dilakukan secara cepat apabila peserta mengalami gangguan kesehatan selama latihan.

Keselamatan Peserta Menjadi Prioritas

Kepergian Nola menjadi pengingat bahwa setiap program pendidikan yang bertujuan membentuk karakter, disiplin, dan kepemimpinan harus menempatkan keselamatan peserta sebagai prioritas utama.

Bagi keluarga di Singkawang, kehilangan ini bukan sekadar angka dalam laporan. Nola adalah seorang anak, adik, saudara, sekaligus harapan keluarga yang berpulang saat berupaya mengabdikan diri kepada bangsa.

Evaluasi yang kini dilakukan pemerintah diharapkan mampu melahirkan sistem pendidikan yang lebih adaptif, humanis, dan mampu melindungi setiap peserta yang dipercaya mengikuti program pengabdian negara.

Muncul Kesaksian Peserta yang Mengundurkan Diri

Di tengah perhatian publik terhadap meninggalnya lima peserta SPPI, sebuah unggahan di media sosial Threads turut menjadi sorotan. Seorang pemilik akun @chameleon.9670486 mengaku sebagai peserta Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang memutuskan mengundurkan diri karena alasan kesehatan.

Dalam unggahan yang dibagikan pada Minggu (28/6), akun tersebut lebih dahulu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga lima peserta yang meninggal dunia. Ia menegaskan bahwa cerita yang disampaikannya merupakan pengalaman pribadi selama mengikuti pendidikan.

Menurut pengakuannya, ia telah menyampaikan riwayat penyakit secara jujur saat menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dinyatakan lolos seleksi. Ia mengaku semula yakin kondisi kesehatannya dinilai layak mengikuti program karena telah melewati tahapan pemeriksaan medis.

Pemilik akun itu juga mengklaim jadwal kegiatan selama pelatihan berlangsung sangat padat. Ia menyebut waktu tidur hanya sekitar tiga hingga empat jam per hari, sementara latihan baris-berbaris berlangsung hingga sekitar enam jam setiap hari.

Selain itu, ia mengaku sempat mengalami keterbatasan pasokan air minum pada hari-hari awal pelatihan. Menurut keterangannya, penyediaan air galon baru dilakukan beberapa hari kemudian, meski jumlahnya disebut masih terbatas.

Dalam unggahan yang sama, ia juga mengaku beberapa kali mendatangi pos kesehatan karena merasa kondisi tubuhnya menurun. Namun, berdasarkan pengakuannya, keluhan tersebut sempat dianggap sebagai kelelahan biasa. Ia juga menyebut obat yang dibutuhkan tidak tersedia saat dirinya meminta penanganan.

Tidak hanya menceritakan pengalamannya sendiri, akun tersebut mengaku menyaksikan seorang peserta lain mengalami hipotermia hingga akhirnya dievakuasi setelah kondisinya memburuk.

Di akhir unggahannya, pemilik akun menegaskan tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu. Ia menyatakan seluruh cerita yang disampaikan merupakan pengalaman pribadinya selama sekitar sepekan mengikuti pendidikan di barak.

Hingga berita ini ditulis, pihak Kementerian Pertahanan maupun penyelenggara program belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim-klaim yang disampaikan dalam unggahan tersebut. Informasi dari media sosial ini belum dapat diverifikasi secara independen. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Nola Dya Sari #Latsarmil #sppi #kronologi #keluarga