Jejak Keramik Sakok Singkawang, Berawal dari Perantau Hakka hingga Pernah Menjadi Sentra Keramik Terbesar di Kalbar

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:22 WIB
Kerajinan keramik dari tanah liat
Warisan budaya keramik dari tanah liat kembali diangkat dalam sebuah pameran di Kota Singkawang baru-baru ini. (DOK PONTIANAK POST)  

 

PONTIANAK POST – Di balik julukan Singkawang sebagai Kota Seribu Kelenteng, tersimpan warisan budaya lain yang pernah mengharumkan nama daerah ini, yakni industri keramik tradisional di Desa Sakok. Kawasan ini pernah menjadi pusat produksi keramik terbesar di Kalimantan Barat dengan kualitas yang dikenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Namun, kejayaan tersebut kini perlahan memudar. Sejumlah perusahaan keramik yang dahulu menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat telah berhenti beroperasi. Hanya sebagian kecil yang masih ada mempertahankan tradisi turun-temurun.

Bermula dari Kedatangan Perantau Hakka

Baca Juga: Sejarah Wihara Tertua di Singkawang, Berawal dari Pondok Sederhana dan Tempat Singgah Penambang Emas Kelompok Hakka  

Menurut laman Indonesia Kaya, sejarah keramik Sakok tidak dapat dipisahkan dari kedatangan masyarakat Tionghoa etnis Hakka ke Singkawang sekitar tahun 1760, ketika Sultan Umar Akamuddin II memerintah Kesultanan Sambas.

Saat itu, para pendatang datang untuk bekerja di kawasan pertambangan emas di Monterado. Sebagian besar berasal dari Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, yang telah memiliki pengalaman sebagai penambang sekaligus petani.

Setelah aktivitas pertambangan emas mulai berakhir, mereka beralih menjadi petani, nelayan, sekaligus membawa berbagai keterampilan tradisional dari kampung halaman, termasuk seni membuat keramik.

Baca Juga: Wihara Tertua di Singkawang Pernah Terbakar, Patung Tua Peh Kong Selamat, Sempat Dilarang Belanda Dibangun Kembali

Warisan budaya tersebut kemudian berkembang di kawasan Sakok hingga menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Tionghoa di Singkawang.

Keramik dengan Sentuhan Dinasti Tiongkok

Keramik yang diproduksi di Sakok memiliki karakter yang berbeda dibandingkan keramik modern.

Baca Juga: Sejarah Rumah Tertua Keluarga Tjhia di Singkawang, Dibangun Perantau yang Bangkit dari Kebangkrutan

Bentuk, teknik pembuatan, hingga motifnya banyak mengadopsi gaya keramik pada masa Dinasti Ming, Tang, Sung, dan Yuan.

Motif naga, bunga, glasir mengilap, hingga warna-warna cerah menjadi ciri khas yang masih dipertahankan selama puluhan tahun.

Keunikan tersebut membuat Keramik Sakok tidak hanya dipakai sebagai peralatan rumah tangga, tetapi juga menjadi benda koleksi bernilai seni tinggi.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Awal Berdirinya Industri Keramik Sakok

Industri keramik di kawasan Sakok mulai berkembang pesat sejak berdirinya perusahaan Yong Tong Hwat atau Dinamis pada tahun 1933.

Perusahaan tersebut memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga seperti mangkuk, piring, tempayan, hingga guci.

Baca Juga: Mengenal Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Republik Pertama di Nusantara yang Berdiri 107 Tahun

Kesuksesan Yong Tong Hwat kemudian diikuti lahirnya sejumlah perusahaan lain, di antaranya Tajau Mas pada 1936, Sam Ho atau Tri Murni pada 1940, Semangat Baru pada 1964, hingga Sinar Terang pada 1980.

Perkembangan industri ini menjadikan Sakok sebagai sentra keramik terbesar di Kalimantan Barat selama puluhan tahun.

Masa Kejayaan Hingga Mulai Meredup

Baca Juga: Benarkah Pendiri Singapura Lee Kuan Yew Keturunan Republik Lanfang? Ini Penjelasannya

Pada 1998 berdiri perusahaan Borneo Lentera Prima yang merupakan anak usaha Sinar Terang.

Meski tergolong perusahaan modern, Borneo Lentera Prima tetap mempertahankan penggunaan tungku naga sebagai salah satu ciri khas produksi keramik tradisional.

Seiring perkembangan teknologi, sebagian perusahaan mulai menggunakan sistem pembakaran listrik. Namun, perubahan zaman, meningkatnya biaya produksi, serta persaingan industri menyebabkan kejayaan keramik Sakok perlahan mengalami penurunan.

Baca Juga: Mengenal Cai Ci, Perempuan Buddha Hakka yang Tak Menikah demi Menjaga Tradisi Leluhur

Kini, tidak sedikit perusahaan keramik yang telah berhenti beroperasi. Aktivitas produksi tidak lagi seramai beberapa dekade lalu sehingga Desa Sakok tidak lagi menjadi sentra industri sebesar masa kejayaannya.

Meski demikian, keberadaan para perajin yang masih bertahan menjadi bukti bahwa warisan budaya tersebut belum benar-benar hilang.

Warisan Budaya yang Masih Dijaga

Baca Juga: Perjalanan Berat Leluhur Suku Hakka ke Kalbar, Berjalan Kaki Berhari-hari dan Mengarungi Laut Demi Harapan Baru

Keramik Sakok bukan sekadar produk kerajinan, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Hakka di Singkawang.

Keahlian membuat keramik diwariskan secara turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat.

 

 

Editor : Silvina
keramik singkawang industri keramik perantau hakka sentra bisnis terbesar warisan budaya