Keramik Singkawang Masih Dibakar dengan Tungku Naga, Kualitasnya Diakui hingga Tingkat Nasional

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:59 WIB
Tungku Naga yang masih digunakan untuk pembuatan keramik di Singkawang. (DOK PONTIANAK POST)
Tungku Naga yang masih digunakan untuk pembuatan keramik di Singkawang. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Di tengah perkembangan teknologi industri modern, sebagian perajin di Desa Sakok, Singkawang hingga kini, masih mempertahankan teknik pembuatan keramik tradisional yang diwariskan sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Keunikan tersebut menjadikan Keramik Sakok bukan sekadar produk kerajinan, melainkan karya budaya yang sarat nilai sejarah dan filosofi.

Menggunakan Tungku Naga

Baca Juga: Jejak Keramik Sakok Singkawang, Berawal dari Perantau Hakka hingga Pernah Menjadi Sentra Keramik Terbesar di Kalbar

Berdasarkan informasi dari laman Indonesia Kaya, salah satu ciri khas pembuatan Keramik Sakok adalah penggunaan tungku naga.

Tungku ini memiliki bentuk memanjang menyerupai tubuh naga dengan panjang sekitar 28 hingga 40 meter, tinggi sekitar 120–130 sentimeter, dan mampu menghasilkan suhu pembakaran hingga mencapai 1.250 derajat Celsius.

Di bagian depan terdapat ruang pembakaran kayu, sementara pada sisi kanan dan kiri terdapat lubang kecil untuk memasukkan bahan bakar agar panas tersebar merata ke seluruh bagian tungku. Teknik ini merupakan warisan budaya Tiongkok yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Baca Juga: Revitalisasi Keramik Naga Singkawang Lewat Kolaborasi Seniman Indonesia-Malaysia

Berawal dari Tanah Kaolin

Bahan utama pembuatan keramik adalah kaolin atau tanah liat putih berkualitas tinggi.Tanah tersebut terlebih dahulu dibersihkan, dipotong menjadi bagian kecil, kemudian dicampur dengan tanah liat dan air agar mudah dibentuk.

Setelah memiliki tekstur yang sesuai, tanah liat dibentuk menjadi berbagai produk seperti guci, tempayan, vas bunga, patung, hingga perlengkapan rumah tangga.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Beberapa produk juga dibuat menggunakan teknik ukir maupun cetakan sesuai desain yang diinginkan pembeli.

Dihiasi Glasir Tradisional

Sebelum dibakar, keramik terlebih dahulu dikeringkan secara alami di tempat teduh agar tidak retak. Selanjutnya, permukaan keramik dilapisi glasir yang dibuat dari campuran berbagai bahan seperti bubuk kerang, abu merang, dan kaolin.

Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado

Lapisan glasir inilah yang menghasilkan warna mengilap sekaligus memperkuat permukaan keramik setelah dibakar. Seluruh proses pembakaran menggunakan kayu karet sebagai bahan bakar karena dinilai mampu menghasilkan suhu yang stabil.

Motif Sarat Makna

Keindahan Keramik Sakok juga terlihat dari ragam motif yang menghiasi permukaannya.Motif naga, burung, bunga teratai, bunga jampa, naga sembilan, anggur, cemara bangau hingga motif delapan dewa menjadi desain yang paling banyak diminati.

Baca Juga: Banyak Tokoh Besar Berasal dari Hakka, Ada Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie hingga Pendiri Republik Tiongkok

Motif-motif tersebut bukan hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga dipercaya mengandung doa, harapan, serta simbol keberuntungan dalam tradisi masyarakat Tionghoa.

Bahkan, proses pembuatannya juga kerap diawali dengan ritual dan doa sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Bisa Dibuat Sesuai Pesanan

Baca Juga: Sejarah Wihara Tertua di Singkawang, Berawal dari Pondok Sederhana dan Tempat Singgah Penambang Emas Kelompok Hakka  

Menurut Maria, staf pemasaran Borneo Lentera Prima, masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi pelanggan keramik Sakok.

Ia menjelaskan  masyarakat Melayu, Dayak, dan Jawa umumnya menyukai keramik bernuansa antik sebagai koleksi, sedangkan masyarakat Tionghoa banyak membeli keramik untuk kebutuhan ibadah di vihara.

Maria juga menyebutkan bahwa pelanggan dapat memesan desain khusus hanya dengan membawa atau mengirimkan foto yang diinginkan, kemudian diwujudkan dalam bentuk keramik oleh para perajin.

Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara

Diakui hingga Tingkat Nasional

Kualitas Keramik Sakok juga pernah memperoleh berbagai penghargaan.Borneo Lentera Prima menerima penghargaan Siddhakarya pada 2010 dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat atas kualitas dan produktivitasnya.

Setahun kemudian, perusahaan tersebut memperoleh penghargaan Paramakarya dari Pemerintah Pusat dalam kategori yang sama.

Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok

Menurut Maria, produk keramik dari Sakok juga beberapa kali diikutsertakan dalam berbagai pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian.

Meski industri keramik di Desa Sakok kini tidak lagi semeriah masa kejayaannya, keterampilan para perajin yang masih bertahan menjadi bukti bahwa warisan budaya tersebut tetap hidup dan terus dijaga.

 

Editor : Silvina
keramik singkawang pembuatan keramik singkawang metode tradisional Penghargaan Nasional tungku naga